Terlihat ikan
larangan Lubuak Landua, Kecamatan Pasaman, Kabupaten Pasaman Barat, yang mati
mendadak, harus dikubur. (arafat)
PASBAR, ANALISAKINI.ID--Sekitar satu ton ikan di objek
wisata ikan larangan Lubuk Landua, Kecamatan Pasaman, Kabupaten Pasaman Barat
(Pasbar), mati mendadak dalam sepekan terakhir. Peristiwa tersebut membuat
masyarakat setempat khawatir karena jumlah ikan yang mati terus bertambah
hampir setiap hari.
Tokoh
masyarakat setempat, Nurman, Selasa (27/10/2026), mengatakan, ribuan ikan
berbagai jenis dan ukuran ditemukan mati secara bertahap. Warga pun terpaksa
menguburkan bangkai ikan untuk mencegah bau tidak sedap yang dapat mengganggu
masyarakat dan pengunjung.
Menurutnya,
ikan-ikan tersebut awalnya terlihat tidak mau makan. Namun, beberapa saat
kemudian, ikan mati mendadak dan mengapung di antara ikan lainnya di aliran
sungai.
Warga telah
melakukan pemantauan dan berbagai upaya pencegahan sejak sepekan terakhir.
Mereka juga menyiapkan terpal plastik serta memberikan pengobatan secara
swadaya untuk mengurangi risiko kematian ikan yang lebih banyak.
Masyarakat
setempat telah melaporkan kejadian tersebut kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH)
Pasaman Barat. Laporan itu ditindaklanjuti dengan pengambilan sampel air sungai
dan ikan yang mati untuk diperiksa di laboratorium.
Hingga
Selasa siang, penyebab pasti kematian ikan tersebut belum diketahui. Warga
masih melakukan pembersihan, mengumpulkan bangkai ikan, serta memisahkan ikan
yang terlihat sakit dari ikan lainnya.
Kepala DLH
Pasaman Barat, Ntaran Handri, mengatakan pihaknya telah mengambil sampel air
dan ikan mati untuk menjalani pengujian laboratorium. Pemeriksaan tersebut
dilakukan guna mengetahui penyebab kematian ikan di objek wisata Lubuk Landua.
Ia
menjelaskan, petugas DLH juga terus melakukan pemantauan di lapangan karena
ikan yang mati masih ditemukan. Pihaknya berkoordinasi dengan Dinas Perikanan
dan masyarakat setempat untuk menelusuri penyebab kejadian tersebut.
Menurutnya, sampel air dan ikan mati telah diambil pada Minggu sebelumnya.
Hasil pengujian diperkirakan keluar dalam waktu sekitar satu minggu setelah
sampel dikirim ke laboratorium.
Sementara
itu, masyarakat terus berupaya menyelamatkan ikan yang masih hidup dengan memisahkan
ikan yang terlihat sakit dan memberikan pengobatan secara mandiri. Namun,
berbagai upaya tersebut belum menunjukkan hasil yang diharapkan karena kematian
ikan masih terus terjadi.
Warga
menyebutkan, lebih dari satu ton ikan jenis mas dan gariang telah dikuburkan
beberapa kali di sekitar tugu ikan. Lokasi tersebut sebelumnya juga menjadi
tempat penguburan ikan yang mati akibat bencana galodo atau banjir bandang pada
2022 lalu.
"Kematian
ikan secara massal ini menjadi perhatian masyarakat karena Lubuk Landua
merupakan salah satu objek wisata religi di Pasaman Barat. Sejumlah pengunjung
masih berdatangan untuk melihat kondisi tersebut, sementara ikan yang masih
hidup terlihat bergerak normal meskipun tidak makan seperti biasanya," katanya.
(arafat)
