arrow_upward

Bulan dan Subaru di Langit Nanggalo : Teater Kosmik, Mitologi dan Batas Ilmu

Kamis, 01 Oktober 2026 : 12.35

Oleh Mas Mera
(Guru Besar Teknik Sipil Universitas Andalas)

Langit malam selalu menyimpan teater kosmik yang tak pernah keliru memainkan lakonnya. Pada 30 September 2026 mendatang, bertepatan dengan tanggal 18 Rabiul Akhir 1448 Hijriah, langit Nanggalo akan menyuguhkan pemandangan yang istimewa dan memesona: penampakan konjungsi harmonis antara Bulan cembung tua (waning gibbous moon) dan gugusan bintang Attsurayya.

Bagi masyarakat modern, Attsurayya lebih akrab dikenal dengan nama Pleiades atau gugusan "Tujuh Bintang" (Seven Sisters). Menariknya, dalam bahasa Jepang, gugusan bintang ini dinamakan Subaru—sebuah nama yang diabadikan sebagai merek otomotif ternama dengan logo enam bintang berkilau. Pleiades sendiri merupakan gugusan bintang muda yang lahir dari nebula yang sama sekitar 100 juta tahun lalu. Di langit malam yang bersih, mata telanjang biasanya hanya mampu menangkap 6 hingga 7 bintang paling terang di antara ratusan anggota gugusannya, sebuah fenomena optik yang kerap mengundang decak kagum.

Siklus Perjumpaan di Cakrawala

Secara mekanika orbital, perjumpaan antara Bulan dan Attsurayya bukanlah peristiwa tunggal yang acak. Karena orbit Bulan mengelilingi Bumi memakan waktu sekitar 27,3 hari (bulan sideris) dan lintasannya melintasi bidang ekliptika tempat Pleiades berada, Bulan secara periodik melewati gugusan bintang ini setiap bulannya meskipun jauh. Pada malam tersebut, posisi Bulan berada pada fase cembung tua—
tiga hari setelah fase purnama penuh—yang memancarkan cahaya keperakan lembut, beriringan secara dekat dengan gugusan Subaru di belahan timur laut dengan ketinggian sekitar 6° 40′ di atas ufuk. Konjungsi visual yang rapat ini memiliki siklus tahunan dan jangka panjang yang unik, bergantung pada presesi orbit dan posisi simpul lintasan bulan.
Pementasan kosmik ini tidak hanya indah dipandang dari sudut pandang astrofotografi, tetapi juga membawa kita pada memori kolektif peradaban manusia masa lampau yang sangat bergantung pada ritme perbintangan.

Mitologi, Pertanian, dan Peradaban Kuno

Jauh sebelum era satelit dan kalender digital, peradaban kuno dunia menjadikan Pleiades sebagai jam dinding raksasa di langit. Dalam mitologi Yunani, gugusan ini dikisahkan sebagai tujuh putri Titan Atlas yang diabadikan oleh Zeus menjadi rasi bintang untuk melindungi mereka dari kejaran pemburu Orion—sebuah konstelasi megah yang malam itu juga setia mengawal di dekatnya.

Namun di balik mitos tersebut, tersimpan fungsi sains praktis yang luar biasa. Penyair Yunani kuno, Hesiodos, dalam karya klasiknya Works and Days, mencatat bahwa kemunculan atau terbenamnya Pleiades pada waktu fajar atau senja menjadi penanda mutlak bagi kalender agraris dan maritim Mediterania. Musim berlayar ditutup ketika Pleiades mulai terbenam di ufuk barat, sementara musim membajak tanah dan menanam benih dimulai saat gugusan ini kembali menampakkan diri. Bagi suku-suku pribumi di berbagai belahan dunia, siklus Pleiades adalah alarm biologis alam yang mengatur kapan waktu panen tiba dan kapan badai laut harus diwaspadai.

Attsurayya dalam Narasi Spiritual Islam

Lebih jauh dari catatan agraris dunia kuno, Attsurayya memiliki kedudukan yang sangat terhormat dalam narasi spiritual Islam. Gugusan bintang ini diabadikan dalam sabda Nabi Muhammad SAW—seperti termaktub dalam HR. Bukhari No. 4897 dan Muslim No. 2546—yang berbicara tentang keutamaan bangsa Persia dalam hal keteguhan iman dan pencarian ilmu.

Rasulullah SAW menyampaikan nubuat yang sarat makna ini sambil meletakkan tangan mulia beliau pada sahabat Salman Al-Farisi. Di dalam sastra profetik tersebut, bintang Tsurayya digunakan sebagai metafora atau kiasan untuk sesuatu yang jaraknya sangat jauh, tinggi, dan amat sulit dijangkau oleh kemampuan fisik manusia. Hadis ini merupakan bentuk pujian agung atas etos kerja, kegigihan, dan kesungguhan luar biasa bangsa Persia dalam mempelajari dan menegakkan agama Islam.

Sejarah terbukti tidak pernah berdusta; dari wilayah tersebut kemudian lahir para raksasa intelektual peradaban Islam yang kitab-kitab rujukannya menjadi pilar utama keilmuan hingga hari ini, sebut saja Imam Bukhari, Imam Muslim, hingga Abu Hanifah. Attsurayya diposisikan sebagai lambang dari ilmu yang tinggi, menantang akal budi manusia untuk terus mendaki, meneliti, dan merenungkan hukum-hukum alam ciptaan Sang Maha Pencipta.

Menyapa Semesta dari Nanggalo

Pada malam akhir September nanti, konfigurasi kosmik menempatkan Bulan cembung tua dan Attsurayya beriringan di langit Nanggalo. Keduanya akan tampak berdampingan, seolah dua ciptaan Allāh yang saling menyapa di luasnya cakrawala 
malam.

Peristiwa semacam ini mengingatkan kita pada keteraturan alam semesta yang berjalan tanpa sedikit pun cacat. Di tengah kesibukan kota dan polusi cahaya yang kian pekat menutupi malam, momen langka ini adalah undangan terbuka untuk mendongak sejenak ke atas. Mengamati langit bukan sekadar urusan astronomi atau nostalgia mitologi, melainkan cara kita merendahkan hati di hadapan kebesaran Sang Pencipta—berikhtiar mencari ilmu setinggi Attsurayya, sekaligus membaca lembaran semesta yang terbentang di atas kepala kita.

​Simulasi lintasan menggunakan perangkat lunak Stellarium memperlihatkan konjungsi visual antara Bulan cembung tua (waning gibbous moon) dan gugusan bintang Subaru (Pleiades / Attsurayya) di arah timur laut langit Nanggalo, pada ketinggian 6° 40′ di atas ufuk, tanggal 30 September 2026 (18 Rabiul Akhir 1448 H) pukul 22.00 WIB. (*)
Bagikan

Terbaru

Copyright © Analisakini.id | Jernih Melihat - All Rights Reserved