Padang, Analisakini.id— Suasana di Jalan Sandang Pangan, kawasan Pasar Raya Padang, mendadak mencekam dan diwarnai kericuhan pada Rabu (21/10) sore. Aksi saling dorong hingga pelemparan barang tak terelakkan saat petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) menggelar penertiban lapak pedagang kaki lima (PKL).
Berdasarkan pantauan di lokasi sekitar pukul 15.18 WIB, ketegangan memuncak ketika puluhan personel Satpol PP berseragam lengkap bergerak menyusuri koridor Jalan Sandang Pangan untuk mengosongkan badan jalan. Langkah tegas petugas yang menertibkan lapak-lapak di atas fasilitas umum demi mengurai kemacetan ini mendapati perlawanan sengit dari para pedagang yang menolak digusur.
Aksi saling dorong antara pedagang dan petugas tak terhindarkan di tengah kerumunan massa. Suasana makin liar saat sejumlah pedagang meluapkan emosi dengan melemparkan sayur-mayur ke arah barisan petugas. Adu mulut dan teriakan histeris menggema di sepanjang jalan, memancing perhatian para pengunjung dan pengendara yang melintas.
Para pedagang berteriak-teriak di lokasi kejadian sembari memagari lapak dagangan mereka agar tidak diangkut petugas.
Di tengah situasi yang memanas, para pedagang mengaku terkejut dengan kedatangan petugas yang dinilai secara tiba-tiba. Salah satu pedagang buah, Emi, mengaku sama sekali tidak menerima informasi atau pemberitahuan terkait jadwal penertiban pada hari itu. Menurutnya, minimnya sosialisasi membuat para pedagang tetap nekat menggelar lapak sejak pagi.
“Belum atau tidak tahu ada penertiban hari ini, entah informasi yang tidak sampai ke saya,” ujar Emi di sela-sela aksi penertiban dengan raut wajah panik.
Emi menegaskan bahwa ia dan pedagang lainnya sangat enggan menempati lokasi relokasi yang disiapkan pemerintah. “Pedagang di sini mau dipindahkan ke blok lain yang sudah ditetapkan. Saya rasa tempat baru itu entah di Blok 3 atau Blok 4 nanti sepi. Di sini saja pembeli sepi, apalagi kalau warga harus ke atas,” keluhnya.
Ia menambahkan, kondisi ekonomi saat ini sudah sangat sulit bagi para pedagang kecil. “Sehari saja susah dapat Rp100 ribu untuk menyambung hidup,” ucap Emi dengan nada lesu.
Keluhan senada disampaikan Yan, pedagang buah lainnya yang ikut bertahan. Yan menegaskan tidak akan nekat membawa barang dagangan jika sejak awal sudah mendapatkan pemberitahuan resmi. Akibat penertiban mendadak di tengah jam jualan, barang dagangannya kini terancam membusuk.
“Jika dikasih tahu ada penertiban hari ini, saya tidak akan berjualan di sini sekarang. Dagangan buah tidak laku, rugi besar jadinya,” tegas Yan dengan nada kecewa.
Di lapangan, area Jalan Sandang Pangan yang menjadi sasaran penertiban dipadati berbagai jenis komoditas, mulai dari pedagang pakaian bekas (thrifting), buah-buahan, sayur-mayur, hingga pedagang kuliner siap saji. Petugas Satpol PP sebenarnya terus berupaya memberikan imbauan secara persuasif melalui pengeras suara agar pedagang mengemas mandiri barang dagangannya. Namun, imbauan tersebut kerap mentah dan dibalas penolakan keras oleh pedagang yang khawatir kehilangan mata pencaharian.
Dampak dari aksi penertiban dan bertahan ini membuat arus lalu lintas di sekitar Pasar Raya Padang sempat tersendat panjang akibat banyaknya pengendara yang memperlambat laju kendaraan. Hingga berita ini diturunkan, pengerahan personel Satpol PP masih terus disiagakan di lokasi untuk mengantisipasi tindakan anarkis, sementara negosiasi terus dilakukan guna mengembalikan fungsi jalan sebagaimana mestinya. (rl)