arrow_upward

Ketua DPRD Sumbar Sebut Masjid Mesti Jadi Ruang Aman dan Edukatif bagi Anak

Sabtu, 24 Oktober 2026 : 07.42

 

Ketua DPRD Sumbar Muhidi bersama peserta Bimtek Konvensi Hak Anak (KHA) dalam rangka mewujudkan Rumah Ibadah Ramah Anak (RIRA) di Kota Padang, Jumat (23/10/2026). 

PADANG, ANALISAKINI.ID--Ketua DPRD Sumatera Barat, Muhidi, mendorong transformasi masjid di Sumbar agar tidak sekadar menjadi tempat ibadah ritual, melainkan juga ruang yang aman, nyaman, dan edukatif bagi anak-anak. Langkah strategis ini dinilai krusial sebagai fondasi dalam membentuk karakter dan keimanan generasi muda di tengah tantangan perubahan zaman.

Komitmen tersebut ditegaskan Muhidi saat memberikan materi pada Bimbingan Teknis (Bimtek) Konvensi Hak Anak (KHA) dalam rangka mewujudkan Rumah Ibadah Ramah Anak (RIRA) di Kota Padang, Jumat (23/10/2026). 

Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat pemahaman mengenai perlindungan dan pemenuhan hak anak di lingkungan rumah ibadah.

Menurut Muhidi, pendidikan generasi muda tidak dapat hanya mengandalkan institusi sekolah formal. Diperlukan kolaborasi yang kuat antara pengurus masjid, keluarga, dan lingkungan masyarakat agar anak-anak memperoleh perlindungan serta pendampingan yang berkelanjutan.

Ia menilai, masjid harus menjadi ruang yang menumbuhkan kecintaan terhadap ibadah sekaligus memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar dan berinteraksi sosial.

"Anak-anak kita harus dibekali ilmu, keterampilan, keimanan, dan pengalaman. Semua itu akan lebih mudah mereka jalani ketika merasa nyaman dengan lingkungan tempat mereka tumbuh dan belajar," ujar Muhidi.

Lebih lanjut, ia mengajak masyarakat untuk membiasakan anak-anak dekat dengan masjid sejak usia dini melalui pendekatan yang menyenangkan dan penuh kasih sayang. Pengelola rumah ibadah diharapkan mampu menghadirkan suasana yang bersahabat agar anak merasa diterima, termasuk memberikan ruang bermain yang wajar tanpa mengabaikan ketertiban dan kesakralan ibadah.

Sebagai langkah konkret, Muhidi meluncurkan gagasan program satu kelurahan satu masjid ramah anak. Program ini diharapkan memperkuat pendidikan karakter berbasis nilai agama, seperti kedisiplinan, kepedulian, dan tanggung jawab sosial. Penguatan peran masjid ini juga memiliki arti historis bagi Sumbar yang dikenal memiliki sejarah panjang dalam melahirkan tokoh-tokoh besar dunia, seperti Buya Hamka dan Sutan Sjahrir.

Kendati demikian, politisi tersebut menyadari bahwa merealisasikan masjid ramah anak menghadapi tantangan besar, terutama dalam mengubah paradigma dan membangun kesadaran bersama di masyarakat. 

"Saya berharap pengurus MTI (Majelis Taklim Indonesia)  serta seluruh elemen masyarakat untuk menghadapi dinamika zaman ini secara bersama-sama dengan pendekatan yang persuasif, tenang, dan tanpa paksaan," katanya lagi. 

Realisasi program Rumah Ibadah Ramah Anak ini juga memerlukan standardisasi infrastruktur dan fasilitas penunjang yang memadai. Masjid-masjid di Sumbar diharapkan mulai berbenah dengan menyediakan sarana fisik yang aman bagi anak, seperti ruang laktasi bagi ibu menyusui, tempat wudu khusus anak, hingga ketersediaan pojok baca atau literasi keagamaan yang menarik. 

Pemenuhan fasilitas ini bukan bermaksud mengubah esensi masjid, melainkan bentuk adaptasi lingkungan ibadah agar lebih inklusif terhadap kebutuhan tumbuh kembang fisik dan mental generasi muda.

"Semoga gerakan ini akan menjadi pilar utama dalam mewujudkan provinsi yang madani dan sejahtera," tuturnya. 

Melalui integrasi antara pemenuhan hak anak dan penguatan nilai keagamaan di masjid, Sumbar diproyeksikan mampu mencetak generasi penerus yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki ketahanan moral yang kokoh. Upaya kolektif ini diharapkan dapat mengembalikan fungsi historis masjid Minangkabau sebagai pusat peradaban, tempat bernaung, sekaligus kawah candradimuka pembentukan akhlak mulia sejak usia dini. (n-r-t)

 

Bagikan

Terbaru

Copyright © Analisakini.id | Jernih Melihat - All Rights Reserved