arrow_upward

Indonesia-Korea, Membentang Asa di Tengah Lanskap Geopolitik yang Tercabik

Senin, 25 Mei 2026 : 15.59

 

Presiden Lee Jae Myung (keempat dari kanan) menggelar KTT Korea-Indonesia dengan Presiden Prabowo Subianto pada tanggal 1 April 2026 di Cheong Wa Dae. (setneg)

PADANG--Tak soal, kawula muda Indonesia tergila-gila dengan K-Pop (Korean Pop), sebuah genre musik populer yang berasal dari Korea Selatan. Musik yang tak hanya memadukan unsur pop, hip-hop, tapi K-Pop adalah fenomena budaya yang sangat terstruktur. K-Pop, dikenal dengan visual memukau, koreografi tari yang rumit, dan punya konsep yang matang.

K-Pop dinilai memiliki kemampuan untuk menumbuhkan semangat dan kreativitas di kalangan remaja. Banyak anak muda yang termotivasi untuk menari, menyanyi, atau bahkan membuat konten kreatif di media sosial setelah menonton penampilan para idol mereka. Kedisiplinan dan kerja keras para artis K-Pop juga sering dijadikan teladan oleh penggemar. Mereka belajar bahwa kesuksesan tidak datang begitu saja, melainkan hasil dari latihan dan usaha yang konsisten.

Lalu, yang tak kalah penting, K-Pop juga memperkenalkan banyak hal baru tentang budaya Korea. Dari musik, bahasa, hingga makanan, yang kemudian begitu mudah untuk dikenal dan akhirnya diminati. Dan, jadilah anak muda Indonesia tergila-gila dibuatnya.

          K-Pop yang booming pada 2009 itu ternyata marwahnya sampai saat ini masih terasa. Betapa tidak, sampai-sampai Presiden RI Prabowo Subianto melalui Menteri Luar Negeri Sugiono mengungkap bahwa ada rencana meningkatkan konser K-Pop di Indonesia. Hal itu mencuat saat pembahasan kerja sama saat pertemuan Presiden Prabowo dengan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung. Keduanya membahas kerja sama dalam banyak hal, termasuk seni dan budaya.

Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri Sugiono dalam diskusi di Kantor Staf Presiden, Gedung Bina Graha, Jakarta Pusat, Rabu (22/4/2026). Rencana itu dimaksudkan mengingat banyaknya penggemar K-Pop di Indonesia. "Ya, Bapak Presiden memang berencana untuk meningkatkan jumlah konser bagi para pecinta K-Pop di Tanah Air," kata Sugiono, seperti dikutip detikcom.

Sementara, saat K-Pop telah menghipnotis remaja Indonesia, kisah menarik datang dari seorang mahasiswi Magister di Hankuk University of Foreign Studies (HUFS), Seoul. Kim Na Jong namanya. Dia rela datang mati-matian terbang jauh-jauh dari Korea  ke Padang, Sumatera Barat, karena ingin mempelajari budaya dan adat Minangkabau yang terkenal unik di dunia. Waktu itu tahun 2023, Kim tengah mengambil Program Studi Ilmu Sosiologi Agama Indonesia. Sebelumnya, Kim cukup kenal dengan Indonesia, namun untuk Minangkabau baru sebatas dari bahan jurnal yang tersedia.

“Sebelumnya saat S1, saya ambil Jurusan Bahasa Indonesia. Sebelum bertemu dengan dosen pertukaran dari Universitas Andalas (UNAND), saya hanya belajar yang umum dari Indonesia, seperti Jawa dan Bali,” kata Kim, yang diwartakan rakyatsumbar.id, usai mengikuti sebuah diskusi bersama tokoh adat Sumatera Barat di Padang pada Senin (21/3/2023) lalu.

          Ya, yang jelas, pasti ada kekuatan dan hal-hal menarik pada kedua negara. Membangun kerja sama antara Indonesia dan Korea, sebenarnya, bukan tentang siapa yang lebih hebat, atau tentang siapa yang lebih kuat. Tapi, bila kedua negara besar ini berpadu membentuk berbagai elemen kekuatan, percayalah, dunia pun akan ternganga. 

 

Menyikapi Ketidakpastian Geopolitik

          Nah, bila diinapmenungkan, dalam kerangka seperti inilah sebenarnya Indonesia harus mampu membaca jalan pikiran seorang Presiden Republik Korea, Lee Jae Myung. Terlebih, saat ini, dunia sedang tak baik-baik saja. Dalam geopolitik yang tercabik, karena ulah Amerika yang membuat banyak negara menjadi terluka. Sementara, Timur Tengah sebagai poros energi dunia pun ikut terguncang.

Terkait itu, menurut Presiden Lee Jae, pentingnya penguatan kerja sama strategis dengan Indonesia di tengah perubahan tatanan global yang makin dinamis. Hal tersebut disampaikannya dalam pertemuan bilateral bersama Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Republik Korea, Cheong Wa Dae, 1 April 2026 lalu.

          Kata Lee, dikutip dari setkab.go.id, di tengah situasi global yang dipengaruhi berbagai tantangan, termasuk dinamika di kawasan Timur Tengah, kerja sama ekonomi kedua negara perlu terus diperkuat guna meminimalkan dampak negatif yang mungkin timbul. “Saya percaya bahwa kita perlu meningkatkan kerja sama ekonomi antara kedua negara kita agar dapat meminimalkan dampak negatif dari isu-isu global tersebut,” lanjutnya.

Presiden Lee juga menegaskan bahwa kesamaan nilai antara Indonesia dan Republik Korea, seperti demokrasi, perdagangan bebas, serta komitmen pada tatanan berbasis aturan, akan menjadi fondasi kuat dalam menghadapi berbagai krisis global.

          Yang tak kalah penting, Presiden Lee menyatakan harapannya untuk melakukan pertukaran pandangan secara terbuka dan konstruktif, tidak hanya terkait penguatan hubungan bilateral, tetapi juga kontribusi bersama dalam komunitas internasional. “Saya menantikan pertukaran pendapat yang jujur dengan Presiden Prabowo, tidak hanya tentang memajukan hubungan bilateral kita, tetapi juga tentang berbagai cara untuk berkontribusi bersama kepada masyarakat internasional,” katanya.

Ya, soal ungkapan seorang Lee yang menyebut ‘tidak hanya sebatas hubungan bilateral tapi berkontribusi untuk masyarakat internasional’, kiranya inilah poin menarik terkait hubungan  Indonesia-Korea ke depan. Makanya, tidak salah pula bila Presiden Prabowo memandang Korea sebagai sahabat dekat dan mitra strategis yang sangat potensial.

Terlebih, kata Prabowo, di tengah lanskap geopolitik yang penuh ketidakpastian, kedua negara yang sama-sama berstatus middle power harus saling melengkapi: Indonesia memiliki sumber daya dan pasar besar, sementara Korea unggul dalam teknologi dan industri.

          Artinya, Indonesia dan Korea memiliki kepentingan bersama yang kuat untuk menciptakan perdamaian dan stabilitas kawasan. Keduanya harus sepakat memperkuat kemitraan untuk mengurangi ketergantungan pada pasar tertentu melalui diversifikasi ekonomi dan perdagangan bebas.

 

Realisasikan dan Buat Terobosan

Seperti diketahui, sebanyak 16 nota kesepahaman (MoU) telah ditandatangani saat pertemuan bilateral Indonesia-Korea pada awal April 2026 lalu. Membentuk kerja sama sistematis dalam berbagai bidang yang berarah masa depan, dengan harapan dapat menciptakan lapangan kerja berkualitas di berbagai sektor. Adapun kerja sama itu mulai dari hilirisasi, perkapalan, energi nuklir, energi terbarukan, mineral kritis, infrastruktur, serta industri kreatif hingga seni budaya tentunya.

          Kini, guna  menutup tulisan singkat di ruang yang dibatasi ini, menurut saya ada tiga hal penting yang perlu jadi perhatian.

Pertama, realisasikanlah kesepahaman yang telah dibuat itu. Untuk itu, apa yang sudah ditandatangani Presiden Prabowo dengan Presiden Lee itu, harus diterjemahkan dengan sepenuh hati oleh pihak kementerian, lembaga hingga pemerintah daerah terkait.

Artinya apa? Jangan hanya MoU yang dibuat sebatas MoU belaka. Seremoni saat MoU diteken terlihat semarak dan meriah, tapi ujung-ujungnya hanya sebagaian kecil saja yang terealisasi. Bukankah rame-rame ikut ke luar negeri sana untuk meneken kerjasama itu juga menghabiskan uang negara?

Kedua, bila K-Pop bisa menghipnotis kawula muda hingga emak-emak Indonesia, lalu kenapa kita tak bisa pula membuat terobosan yang membuat orang Korea itu mengagumi, membeli produk Indonesia hingga mau bertandang ke negeri kita. Indonesia itu indah, masyarakatnya juga punya banyak talenta. Untuk itu, cobalah disain seapik mungkin, entah sebentuk seni dan budaya yang tentu saja harus bercorak kontemporer, kekinian, sehingga ada semacam magnet tertentu yang membuat orang Korea tak bisa melupakan Indonesia.

Adapun langkah sederhana yang paling mungkin dilakukan, mulailah dari kampus perguruan tinggi di Korsel yang ada mata studinya terkait Indonesia. Adakan kegiatan dengan label “Pojok Indonesia atau Pojok Nusantara” di negeri mereka, yang kegiatannya bisa saja mencakup seni kreatif, budaya, ekonomi atau mozaik berbagai kekayaan alam Indonesia. Pokoknya, ada pernak-pernik Indonesia,  khususnya di kampus negeri gingseng tersebut.

Ketiga, promosi tak bertepi. Ya, produk yang sudah terkenal saja, setiap saat tetap saja melakukan promosi. Artinya, mengenalkan lebih jauh Indonesia di Korea, harus dilakukan pada berbagai lini. Makanya, kementerian, lembaga dan pemerintah daerah, harus berani menyiapkan porsi anggaran untuk itu. Semuanya memang butuh dana dan usaha, karena kerjasama yang baik itu tak mungkin berharap datang dari langit begitu saja.

Yang pasti, asa itu selalu ada. Saatnya Indonesia-Korsel bersama-sama berikan kontribusi untuk dunia.

 

(GUSNALDI; Pemerhati Masalah Sosial dan Kebangsaan, Tinggal di Padang, Sumbar)

 

Bagikan

Terbaru

Copyright © Analisakini.id | Jernih Melihat - All Rights Reserved