Presiden Lee Jae Myung (keempat dari kanan)
menggelar KTT Korea-Indonesia dengan Presiden Prabowo Subianto pada tanggal 1
April 2026 di Cheong Wa Dae. (setneg)
PADANG--Tak
soal, kawula muda Indonesia tergila-gila dengan K-Pop
(Korean Pop), sebuah genre
musik populer yang berasal dari Korea Selatan. Musik yang tak hanya memadukan
unsur pop, hip-hop, tapi K-Pop adalah fenomena budaya yang sangat terstruktur.
K-Pop, dikenal dengan visual memukau, koreografi tari yang rumit, dan punya konsep
yang matang.
K-Pop dinilai memiliki kemampuan untuk menumbuhkan semangat
dan kreativitas di kalangan remaja. Banyak anak muda yang termotivasi untuk
menari, menyanyi, atau bahkan membuat konten kreatif di media sosial setelah
menonton penampilan para idol mereka. Kedisiplinan dan kerja keras para artis
K-Pop juga sering dijadikan teladan oleh penggemar. Mereka belajar bahwa
kesuksesan tidak datang begitu saja, melainkan hasil dari latihan dan usaha
yang konsisten.
Lalu, yang tak kalah penting, K-Pop juga memperkenalkan
banyak hal baru tentang budaya Korea. Dari musik, bahasa, hingga makanan, yang
kemudian begitu mudah untuk dikenal dan akhirnya diminati. Dan, jadilah anak
muda Indonesia tergila-gila dibuatnya.
K-Pop yang booming pada 2009 itu ternyata marwahnya sampai saat ini masih
terasa. Betapa tidak, sampai-sampai Presiden RI Prabowo Subianto melalui Menteri Luar Negeri Sugiono mengungkap bahwa ada
rencana meningkatkan konser K-Pop di Indonesia. Hal itu mencuat saat pembahasan
kerja sama saat pertemuan Presiden Prabowo dengan Presiden Korea Selatan Lee
Jae Myung. Keduanya membahas kerja sama dalam banyak hal, termasuk seni dan budaya.
Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri Sugiono dalam diskusi
di Kantor Staf Presiden, Gedung Bina Graha, Jakarta Pusat, Rabu (22/4/2026).
Rencana itu dimaksudkan mengingat banyaknya penggemar K-Pop di Indonesia. "Ya,
Bapak Presiden memang berencana untuk meningkatkan jumlah konser bagi para
pecinta K-Pop di Tanah Air," kata Sugiono, seperti dikutip detikcom.
Sementara, saat K-Pop telah
menghipnotis remaja Indonesia, kisah menarik datang dari seorang mahasiswi Magister di Hankuk
University of Foreign Studies (HUFS), Seoul. Kim Na Jong namanya. Dia rela
datang mati-matian terbang jauh-jauh dari Korea ke Padang, Sumatera Barat, karena ingin
mempelajari budaya dan adat Minangkabau yang terkenal unik di dunia. Waktu itu
tahun 2023, Kim tengah mengambil Program Studi Ilmu Sosiologi Agama Indonesia.
Sebelumnya, Kim cukup kenal dengan Indonesia, namun untuk Minangkabau baru
sebatas dari bahan jurnal yang tersedia.
“Sebelumnya saat S1, saya ambil Jurusan Bahasa
Indonesia. Sebelum bertemu dengan dosen pertukaran dari Universitas Andalas
(UNAND), saya hanya belajar yang umum dari Indonesia, seperti Jawa dan Bali,” kata
Kim, yang diwartakan rakyatsumbar.id,
usai mengikuti sebuah diskusi bersama tokoh adat Sumatera Barat di Padang pada Senin
(21/3/2023) lalu.
Ya, yang jelas, pasti ada kekuatan dan
hal-hal menarik pada kedua negara. Membangun kerja sama antara Indonesia dan
Korea, sebenarnya, bukan tentang siapa yang lebih hebat, atau tentang siapa
yang lebih kuat. Tapi, bila kedua negara besar ini berpadu membentuk berbagai
elemen kekuatan, percayalah, dunia pun akan ternganga.
Menyikapi Ketidakpastian Geopolitik
Nah, bila diinapmenungkan, dalam
kerangka seperti inilah sebenarnya Indonesia harus mampu membaca jalan pikiran
seorang Presiden Republik Korea, Lee Jae Myung. Terlebih, saat ini, dunia
sedang tak baik-baik saja. Dalam geopolitik yang tercabik, karena ulah Amerika
yang membuat banyak negara menjadi terluka. Sementara, Timur Tengah sebagai
poros energi dunia pun ikut terguncang.
Terkait itu, menurut Presiden Lee
Jae, pentingnya penguatan kerja sama strategis dengan Indonesia di tengah
perubahan tatanan global yang makin dinamis. Hal tersebut disampaikannya dalam
pertemuan bilateral bersama Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan
Republik Korea, Cheong Wa Dae, 1 April 2026 lalu.
Kata Lee,
dikutip dari setkab.go.id, di tengah
situasi global yang dipengaruhi berbagai tantangan, termasuk dinamika di
kawasan Timur Tengah, kerja sama ekonomi kedua negara perlu terus diperkuat
guna meminimalkan dampak negatif yang mungkin timbul. “Saya percaya bahwa kita
perlu meningkatkan kerja sama ekonomi antara kedua negara kita agar dapat
meminimalkan dampak negatif dari isu-isu global tersebut,” lanjutnya.
Presiden Lee juga menegaskan bahwa
kesamaan nilai antara Indonesia dan Republik Korea, seperti demokrasi,
perdagangan bebas, serta komitmen pada tatanan berbasis aturan, akan menjadi
fondasi kuat dalam menghadapi berbagai krisis global.
Yang
tak kalah penting, Presiden Lee menyatakan harapannya untuk melakukan
pertukaran pandangan secara terbuka dan konstruktif, tidak hanya terkait
penguatan hubungan bilateral, tetapi juga kontribusi bersama dalam komunitas
internasional. “Saya menantikan pertukaran pendapat yang jujur dengan Presiden
Prabowo, tidak hanya tentang memajukan hubungan bilateral kita, tetapi juga
tentang berbagai cara untuk berkontribusi bersama kepada masyarakat
internasional,” katanya.
Ya, soal ungkapan seorang Lee yang menyebut ‘tidak
hanya sebatas hubungan bilateral tapi berkontribusi untuk masyarakat internasional’,
kiranya inilah poin menarik terkait hubungan
Indonesia-Korea ke depan. Makanya, tidak salah pula bila Presiden Prabowo memandang
Korea sebagai sahabat dekat dan mitra strategis yang sangat potensial.
Terlebih, kata Prabowo, di tengah lanskap
geopolitik yang penuh ketidakpastian, kedua negara yang sama-sama berstatus middle power harus saling
melengkapi: Indonesia memiliki sumber daya dan pasar besar, sementara Korea
unggul dalam teknologi dan industri.
Artinya, Indonesia
dan Korea memiliki kepentingan bersama yang kuat untuk menciptakan perdamaian
dan stabilitas kawasan. Keduanya harus sepakat memperkuat kemitraan untuk
mengurangi ketergantungan pada pasar tertentu melalui diversifikasi ekonomi dan
perdagangan bebas.
Realisasikan
dan Buat Terobosan
Seperti
diketahui, sebanyak 16 nota kesepahaman (MoU) telah ditandatangani saat
pertemuan bilateral Indonesia-Korea pada awal April 2026 lalu. Membentuk kerja
sama sistematis dalam berbagai bidang yang berarah masa depan, dengan harapan dapat menciptakan
lapangan kerja berkualitas di berbagai sektor. Adapun kerja sama itu mulai dari
hilirisasi, perkapalan, energi nuklir, energi terbarukan, mineral kritis,
infrastruktur, serta industri kreatif hingga seni budaya tentunya.
Kini,
guna menutup tulisan singkat di ruang
yang dibatasi ini, menurut saya ada tiga hal penting yang perlu jadi perhatian.
Pertama, realisasikanlah kesepahaman yang telah
dibuat itu. Untuk itu, apa yang sudah ditandatangani Presiden Prabowo dengan
Presiden Lee itu, harus diterjemahkan dengan sepenuh hati oleh pihak
kementerian, lembaga hingga pemerintah daerah terkait.
Artinya apa? Jangan
hanya MoU yang dibuat sebatas MoU belaka. Seremoni saat MoU diteken terlihat
semarak dan meriah, tapi ujung-ujungnya hanya sebagaian kecil saja yang
terealisasi. Bukankah rame-rame ikut ke luar negeri sana untuk meneken
kerjasama itu juga menghabiskan uang negara?
Kedua, bila K-Pop bisa menghipnotis kawula muda
hingga emak-emak Indonesia, lalu kenapa kita tak bisa pula membuat terobosan yang
membuat orang Korea itu mengagumi, membeli produk Indonesia hingga mau
bertandang ke negeri kita. Indonesia itu indah, masyarakatnya juga punya banyak
talenta. Untuk itu, cobalah disain seapik mungkin, entah sebentuk seni dan
budaya yang tentu saja harus bercorak kontemporer, kekinian, sehingga ada
semacam magnet tertentu yang membuat orang Korea tak bisa melupakan Indonesia.
Adapun langkah
sederhana yang paling mungkin dilakukan, mulailah dari kampus perguruan tinggi
di Korsel yang ada mata studinya terkait Indonesia. Adakan kegiatan dengan
label “Pojok Indonesia atau Pojok Nusantara” di negeri mereka, yang kegiatannya
bisa saja mencakup seni kreatif, budaya, ekonomi atau mozaik berbagai kekayaan
alam Indonesia. Pokoknya, ada pernak-pernik Indonesia, khususnya di kampus negeri gingseng tersebut.
Ketiga, promosi tak bertepi. Ya, produk yang sudah
terkenal saja, setiap saat tetap saja melakukan promosi. Artinya, mengenalkan
lebih jauh Indonesia di Korea, harus dilakukan pada berbagai lini. Makanya,
kementerian, lembaga dan pemerintah daerah, harus berani menyiapkan porsi
anggaran untuk itu. Semuanya memang butuh dana dan usaha, karena kerjasama yang
baik itu tak mungkin berharap datang dari langit begitu saja.
Yang pasti, asa itu
selalu ada. Saatnya Indonesia-Korsel bersama-sama berikan kontribusi untuk
dunia.
(GUSNALDI;
Pemerhati Masalah Sosial dan Kebangsaan, Tinggal di Padang, Sumbar)
