arrow_upward

Krisis Air Bersih Belum Tertangani, Fraksi Gerindra DPRD Padang Semprot Walikota

Rabu, 28 Januari 2026 : 17.52

Padang, Analisakini.id-Fraksi Partai Gerindra DPRD Padang melayangkan kecaman terbuka kepada Pemerintah Kota Padang atas belum tertanganinya krisis air bersih yang terus membebani warga.

Ketua Fraksi Gerindra, Wahyu Hidayat, menilai persoalan tersebut merupakan akibat langsung dari buruknya pengelolaan pemerintahan dan lemahnya respons jajaran eksekutif di bawah kepemimpinan Walikota Padang.

Wahyu menegaskan, masalah air bersih yang berkepanjangan tidak bisa lagi dialihkan sebagai dampak cuaca atau bencana semata

Menurutnya, krisis ini justru mencerminkan ketidakmampuan pemerintah kota dalam mengelola sektor pelayanan dasar yang seharusnya menjadi prioritas utama.

Ia menyebut, jika Pemko Padang bekerja secara serius dan terencana, peluang penyelesaian krisis air bersih sebenarnya terbuka lebar.

Pemerintah pusat, lanjut Wahyu, telah menawarkan berbagai bentuk dukungan, namun tidak dimaksimalkan oleh pemerintah daerah.

Kesempatan bantuan itu ada dan besar, tetapi tidak ditindaklanjuti dengan kerja nyata. Ini menunjukkan lemahnya kesiapan dan kesungguhan Pemko Padang,” ujar Wahyu, Rabu (28/1).

Ia juga mengungkapkan, Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Penataan Bangunan Prasarana dan Kawasan (PBPK) Sumbar telah menawarkan pembangunan ratusan sumur bor sebagai solusi jangka pendek bagi warga terdampak.

Namun, rencana itu tersendat karena Pemko Padang dinilai gagal memenuhi kebutuhan data dan perencanaan teknis.

Pemerintah pusat siap membangun hingga 300 sumur bor. Tapi yang diajukan Pemko Padang hanya lima titik. Ini sangat memprihatinkan dan menunjukkan lemahnya kapasitas manajerial,” katanya.

Wahyu menilai, akar persoalan krisis air bersih bukan terletak pada ketersediaan anggaran atau dukungan pusat, melainkan pada buruknya koordinasi, rendahnya kecepatan kerja, dan minimnya kepemimpinan yang tegas di lingkungan Pemko Padang.

Kondisi ini, menurutnya, berdampak langsung pada terabaikannya kebutuhan dasar masyarakat.

Ia juga mengkritik sikap Walikota Padang yang dinilai lebih sibuk membangun narasi politik ketimbang menyelesaikan persoalan mendesak warga.

Wahyu meminta kepala daerah kembali fokus pada tugas utama sebagai pelayan publik, bukan pada kepentingan politik jangka panjang.

“Warga Padang hari ini butuh air bersih, bukan wacana politik. Hentikan pencitraan dan fokus bekerja. Ini soal hak dasar masyarakat,” tegasnya.

Atas kondisi tersebut, Fraksi Gerindra DPRD Kota Padang menyatakan tengah mengkaji langkah pengawasan lanjutan, termasuk kemungkinan penggunaan hak interpelasi terhadap Walikota Padang.

Langkah itu dinilai perlu sebagai bentuk tekanan politik agar eksekutif segera mengambil tindakan nyata.

“Rakyat tidak membutuhkan simbol dan janji. Yang mereka tunggu adalah tindakan konkret untuk mengakhiri krisis air bersih yang sudah terlalu lama dibiarkan,” tutupnya.

Cerita Warga Kesulitan Air Bersih

Terik matahari menyengat di kawasan RT 001 RW 008, Kelurahan Pasa Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Selasa (27/1/2026) siang. 

Di tengah suhu udara yang cukup panas, puluhan warga tampak berkerumun di sekitar mobil tangki milik Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Padang yang baru saja tiba.

Dilansir dari TribunPadang.com, wartawannya Arif Ramanda sejak pukul 11.00 WIB, pemandangan antrean wadah air mulai terlihat. 

Puluhan ember, baskom, hingga jerigen berbagai ukuran berjejer rapi di pinggir jalan, silih berganti menampung kucuran air bersih dari selang tangki menuju tedmond biru yang disediakan sebagai bak penampung sementara.

Bagi warga setempat, air kini menjadi komoditas paling berharga. Kekeringan ekstrem yang melanda kawasan ini bukan terjadi dalam satu atau dua hari, melainkan telah berlangsung sejak akhir tahun lalu dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.

Rosi, salah seorang warga terdampak, menuturkan betapa sulitnya menjalani aktivitas harian tanpa pasokan air bersih. 

Menurutnya, sumur-sumur warga yang biasanya menjadi tumpuan kebutuhan pokok kini telah mengering total tanpa menyisakan setetes air pun.

Air sumur sudah tidak ada lagi, kering sama sekali. Padahal sumur kami sudah digali cukup dalam, tetapi tetap tidak keluar air," ujar Rosi saat ditemui di tengah antrean bantuan air bersih, Selasa siang.

Kondisi ini memaksa warga mencari alternatif lain yang menguras tenaga. Rosi bersama suaminya, Yuhandri Syaf, setiap hari harus berjuang menjemput air ke sumber lain yang berada di dekat Jembatan Kuranji demi memenuhi kebutuhan domestik.

Prioritas utama penggunaan air yang mereka ambil secara mandiri tersebut adalah untuk kebutuhan anak-anak, terutama mandi sebelum berangkat sekolah. Sementara untuk kebutuhan orang dewasa, mereka terpaksa mengalah dengan kondisi yang ada

Kebutuhan air yang dijemput itu terutama untuk anak mandi pergi sekolah. Kalau kami orang tua, biarlah mandi ke sungai di bawah Jembatan Kuranji saja," tutur Rosi dengan nada getir.

Bantuan air bersih dari pemerintah daerah sebenarnya ada, namun kedatangannya tidak menentu. Letak permukiman yang berada agak masuk ke dalam membuat truk tangki tidak bisa setiap hari menjangkau titik tersebut secara maksimal. (*/rl)

Bagikan

Terbaru

Copyright © Analisakini.id | Jernih Melihat - All Rights Reserved