Padang, Analisakini.id-Namanya di seputaran Universitas Andalas (Unand) boleh dikata tak begitu familiar. Tapi, di level nasional, sosoknya dikenal dan disegani. Diplomat handal yang berkarir dari nol di Kementerian Luar Negeri (Kemlu). Dialah Denny Abdi, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemenlu.
Alumnus Fakultas Ekonomi Unand angkatan 1988 ini terpilih sebagai Ketum DPP Ikatan Keluarga Alumni (IKA UNAND) secara aklamasi pada Kongres VII, di The Grand Ballroom ZHM Hotel & Convention Padang, 29 November 2025. Sebuah bukti, Denny yang dicalonkan oleh IKA FEB dan DPD IKA UNAND Jabodetabek ini, diterima semua pemilik suara dan berharap di era kepemimpinan Denny, IKA Unand ke depan kian eksis. 31 Januari 2026 mendatang, Denny bersama pengurus lain akan dilantik oleh Rektor.
Sekjen Kemenlu ini, saat "bertanding" saat itu, juga direstui "bos" nya di Kemenlu, Menteri Sugiono. Restu ini menjadi modal penguat dan penambah semangat untuk memimpin organisasi alumni. Sang diplomat ingin mendedikasikan diri untuk membesarkan sekaligus mengharumkan nama IKA Unand di pentas nasional hingga internasional.
"Tapi ini butuh kebersamaan dan kekompakan. Kolaborasi antar alumni sangat menentukan. Insyaallah kita bisa,"kata Denny.
Tentu banyak yang bertanya, melihat dari latarbelakang yang lulus Fekon Unand pada 1995, idealnya menjadi ekonom tapi ini tidak. Justru sukses menapaki karir sebagai diplomat ulung. Memang setamat kuliah, Denny diterima sebagai calon PNS di Kemenlu (dulu Departemen Luar Negeri/Deplu) pada 1995. Denny pun mengikuti pendidikan diplomatik dasar serta kursus bahasa Prancis.
Selama dua tahun (1997-1999), Denny menempuh pendidikan magister hubungan internasional di Universitas Indonesia. Dan di sinilah, Denny yang selama masa kuliahnya, aktif dalam organisasi kemahasiswaan, hingga menjabat Sekretaris Jenderal Badan Perwakilan Mahasiswa Fekon sekaligus memimpin himpunan mahasiswa jurusannya, mulai menampakkan profesionalismenya. Benih-benih diplomat mulai tumbuh.
Sebelum dilantik sebagai Sekjen Kemenlu pada 17 September 2025, putra Minang kelahiran Kerinci pada 12 Januari 1970 ini sudah malang melintang di Kemenlu. Terakhir sebagai Dubes Indonesia untuk Republik Sosialis Vietnam. Dia dilantik oleh Presiden Joko Widodo pada 14 September 2020 dan menyerahkan Surat Kepercayaan dari Presiden Joko Widodo kepada Presiden Vietnam Nguyen Phu Trong pada 17 Maret 2021. Sebelumnya lagi adalah Direktur Asia Tenggara Kemenlu.
Denny memulai tugasnya sebagai PNS penuh setelah meraih gelar magisternya pada 1999. Jabatan diplomatiknya dimulai dengan penugasan di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Canberra dengan pangkat sekretaris kedua dari 2001 hingga 2005. Setelah itu, ia menjabat sebagai asisten juru bicara presiden untuk hubungan internasional, Dino Patti Djalal, dari 2005 hingga 2007 dan asisten sekretaris jenderal Kementerian Luar Negeri, Imron Cotan, dari 2007 hingga 2008.
Kemudian Denny melanjutkan tugasnya di luar negeri, di Perutusan Tetap Republik Indonesia di New York dari 2008 hingga 2012 dengan pangkat sekretaris pertama. Kemudian sebagai konselor. Lalu diangkat sebagai kepala subdirektorat untuk urusan ekonomi dan keuangan internasional pada Direktorat Pembangunan Ekonomi dan Lingkungan Hidup, Kemenlu dari 2012 hingga 2015 dan di Perutusan Tetap Republik Indonesia di Jenewa dengan pangkat konselor dari 2015 hingga 2017.
Sebelum melamar jadi "diplomat", Denny bekerja di perusahaan Sumatera Jaya Commodities sebagai manajer ekspor selama tiga tahun sejak 1993, mewakili perusahaan tersebut di berbagai asosiasi ekspor. Sempat pula bekerja di Bank Universal di Jakarta sebagai direct funding officer pada 1997 sebelum melamar ke Departemen Luar Megeri pada tahun yang sama. (effendi).
Bagikan