Padang, Analisakini.id-Pelajar SD dan SMP se-Kota Padang tetap datang ke sekolah untuk belajar, meski udara di ibukota provinsi ini dinyatakan tidak sehat.
Kualitas udara di Kota Padang kembali memburuk pada Kamis (8/10/2026) pagi. Berdasarkan data IQAir yang diperbarui pukul 07.00 WIB, indeks kualitas udara (AQI⁺) US di Kota Padang mencapai 176 atau masuk kategori tidak sehat. Bahkan diperkirakan sampai sore,.meski angkanya turun, tapi tetap tidak sehat.
Polutan utama yang terdeteksi adalah PM2.5 dengan konsentrasi mencapai 91 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Salah seorang orangtua siswa saat ditemui di depan gerbang SDN 06 Lapai menyatakan, heran dengan kebijakan Pemko Padang yang tidak meliburkan anak-anak sekolah dan mengganti dengan belajar daring dari rumah.
"Di kampung saya, Kota Solok yang juga udaranya tidak sehat, anak SD dan SMP diliburkan ke sekolah dan belajar daring dari rumah. Kata kakak sepupu saya, Walikota Solok keluarkan edaran begitu. Pak Ramadhan Kirana langsung yang menandatangi. Ini pertanda kepala daerah peduli dengan kesehatan anak didik,"terangnya.
Padahal sebelumnya Ketua DPRD Padang Muharlion meminta Pemko tidak ragu meliburkan sekolah dan menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) apabila kabut asap mulai membahayakan kesehatan siswa.
Menurut dia, keselamatan pelajar harus menjadi prioritas di tengah kabut asap yang kembali menyelimuti Kota Padang dan sejumlah daerah di Sumatera Barat (Sumbar).
“Yang kita kasihan itu pelajar. Jika kabut asap membahayakan, terpaksa kita minta pemko untuk meliburkan sekolah, dan pembelajaran dilaksanakan secara pembelajaran jarak jauh (PJJ),” tegas Muharlion, Rabu (7/10).
Menurutnya, pemerintah tidak perlu menunggu kondisi semakin parah untuk mengambil langkah perlindungan terhadap siswa. Kebijakan PJJ dapat menjadi pilihan sementara apabila kualitas udara tidak lagi aman bagi aktivitas belajar di luar ruangan.
Tapi kenyataannya desakan Ketua DPRD Padang itu sepertinya dicuekin. Pelajar SD dan SMP tetap datang ke sekolah
Bahkan guru besar Unand Prof.dr. Hardisman menyebut polusi udara kerap kali hanya dikaitkan dengan gangguan pernapasan seperti batuk atau pilek semata. Namun, di balik kabut asap dan udara yang tercemar, tersimpan ancaman mematikan yang bekerja secara diam-diam menyerang organ vital manusia, termasuk pembuluh darah, jantung, hingga otak.
"Kondisi udara kotor ini menuntut kewaspadaan tingkat tinggi, terutama bagi kelompok rentan seperti penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Jadi tidak main-main lho," katanya.(rl).
Bagikan