PADANG, ANALISAKINI.ID--Universitas Andalas (Unand) menggelar rapat senat
terbuka dalam rangka Dies Natalis Unand ke 70, Senin (14/9/2026) di auditorium
kampus tersebut. Pada kesempatan itu, hadir secara virtual menyampaikan orasi,
yaitu Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Arif Satria.
Dalam orasi ilmiahnya Prof. Arif
menekankan soal kecerdasan buatan atau AI. Walau memang banyak hal yang
tergantikan dengan adanya teknologi ini, menurut dia AI juga tidak akan mampu
menggantikan keberadaan guru inspiratif.
"Ada guru yang biasa, ada yang
hebat mengajar, dan ada yang inspiratif. Nah, guru inspiratif tidak bisa
digantikan oleh AI, karena dalam hal ini butuh wisdom (kebijaksanaan -
red)," kata Prof. Arif.
Menurutnya, Unand memiliki potensi untuk
bisa bergerak maju di tengah tantangan zaman yang ada saat ini. Namun dia
menekankan agar Unand bisa memfokuskan satu bidang dalam menghadirkan inovasi,
riset, paten dan produk.
Sementara itu, Rektor Unand, Efa Yonnedi
usai rapat terbuka mengatakan bahwa hingga saat ini Unand sudah menyumbangkan
banyak paten, tapi masalahnya masih minim dilirik oleh industri.
"Ada inovasi dan produk dari bidang
kesehatan dan obat-obatan. Sampai sekarang sudah ada 35 produk. Selain itu juga
kita riset soal teknologi kesehatan, agar alat yang biasanya impor bisa
diproduksi di dalam negari. Tinggal pihak industri, menjadi pengguna dan
membeli alat-alat itu," katanya.
Efa juga mengatakan kalau Unand juga
konsen menghasilkan riset di bidang ketahanan pangan. Pihaknya melihat gambir
adalah hasil alam di Sumbar yang memiliki peluang untuk menghasilkan nilai
tambah.
"Kita biasa mengekspor bahan mentah
gambir. Padahal kalau diolah sendiri, banyak produk yang bisa dihasilkan dari
gambir ini," kata Efa.
Selain itu Unand juga konsen
menghasilkan riset di bidang kebencanaan. Apalagi memang diketahui kawasan
Sumbar menjadi salah satu daerah rawan bencana.
"Makanya Unand terus mendorong
mitigasi kebencanaan ini. Selain itu Unand juga bergerak menghasilkan inovasi
di bidang sektor energi terbarukan," katanya.
Sementara itu, Ketua Majelis Wali Amanat
(MWA) Unand, Prof. Febrin Anas Ismail dalam sambutannya di rapat terbuka
tersebut berharap Unand bisa menjadi PTN Berbadan Hukum yang lebih fleksibel,
inovatif dan akuntabel.
Prof. Febrin juga menyampaikan beberapa
poin untuk sebagai bahan refleksi dan evaluasi Unand kedepannya. Salah satu
yang disampaikannya adalah soal harmonisasi regulasi yang perlu diselaraskan.
"Banyak waktu dan biaya yang
terkuras karena aturan yang masih belum jelas. Harmonisasi regulasi harus
menjadi perhatian," katanya.
Selain itu dia juga menekankan soal
pembangunan tata kelola yang efektif dan efisien. Serta adanya master plan
akademis yang perlu dirancang sebelum menyusun rencana untuk pembangunan
infrastruktur.
Seperti yang dipaparkan juga oleh Rektor
Unand dalam rapat terbuka tersebut, bahwa saat ini proyek riset yang telah
dilakukan dosen Unand hingga 2025 mencapai 1.574 proyek riset dengan publikasi
scopus sebanyak 1.344 dokumen.
Sementara itu, untuk kekayaan
intelektual yang tercatat di Unand, paten berjumlah 556, paten sederhana
mencapai 1.376, desain industri mencapai 1.538 dan hak cipta berjumlah sebanyak
11.796 buah. Adapun perkembangan produk untuk hasil paten ini tidak lebih dari
10 hingga 12 produk dalam beberapa tahun terakhir.
Rektor juga menyebutkan, hingga saat ini
ada sebanyak 126 dosen yang memiliki paten, 10 produk telah dikomersialkan, 2
lisensi / kontrak komersialisasi, 7 prototipe produk yang saat ini masih dalam
proses.
Pada kesempatan itu Unand juga
memberikan penghargaan kepada sejumlah dosen yang memiliki prestasi dalam hal
publikasi, paten dan lain sebagainya. (Wy)
