arrow_upward

Indonesia Rawan Bencana, Pengetahuan Lokal Perlu Mendapat Tempat dalam Mitigasi

Rabu, 30 September 2026 : 20.19


Jakarta, Analisakini.id— Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) memberi ruang khusus bagi buku yang mengangkat kekayaan pengetahuan dan budaya daerah melalui kategori baru Local Content of the Year dalam IKAPI Awards 2026. 

Kategori tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas apresiasi terhadap karya yang merekam tradisi, budaya, dan pengetahuan lokal serta memperkenalkannya kepada pembaca yang lebih luas.
IKAPI Award merupakan penghargaan tahunan bagi penulis, pegiat literasi, dan insan perbukuan.

Pada 2026, kategori Local Content of the Year untuk pertama kalinya dibuka untuk memberikan perhatian lebih kepada buku yang mengangkat budaya, tradisi, dan kearifan lokal Nusantara. Penghargaan tersebut diserahkan pada pembukaan Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Rabu (30/9/2026).

Ketua Umum IKAPI Arys Hilman Nugraha mengatakan, kategori tersebut tidak semata-mata melihat buku dari sisi tema lokal, tetapi juga mempertimbangkan kualitas karya dan kebermanfaatannya bagi pembaca di luar daerah asal.

Menurut dia, keberadaan penerbit daerah penting karena penerbit lokal memiliki kedekatan dengan persoalan, sejarah, budaya, dan pengetahuan yang berkembang di masyarakatnya.

“Yang kami inginkan adalah penerbitnya penerbit setempat. Kalau bicara soal Sumatra Barat, misalnya kita harapkan yang mengusulkan adalah penerbit Sumatra Barat dan diterbitkan oleh penerbit Sumatra Barat,” kata Arys.

Terkait literasi kebencanaan, menurut Arys, pengetahuan yang tumbuh dalam masyarakat memiliki arti penting karena merekam pengalaman komunitas dalam menghadapi ancaman bencana.

“Bahkan bukan hanya di daerah setempat, tetapi juga di daerah-daerah lain yang memiliki persoalan kebencanaan yang sama dan mitigasi kultural,” ujarnya.

Perspektif tersebut penting bagi Indonesia yang memiliki tingkat kerawanan bencana tinggi. Mitigasi tidak hanya berkaitan dengan teknologi, infrastruktur, sistem peringatan dini, dan kebijakan, tetapi juga dengan kemampuan masyarakat mengenali lingkungan serta mengambil keputusan berdasarkan pengalaman yang diwariskan antargenerasi.
Pengetahuan semacam itu dapat ditemukan dalam berbagai bentuk: cerita rakyat, petatah-petitih, tambo, syair, toponimi, ritual, pantangan, pola permukiman, hingga pengetahuan mengenai tanda-tanda alam. Nilainya bukan untuk menggantikan ilmu pengetahuan modern, melainkan menjadi bagian dari pengetahuan masyarakat yang dapat dikaji, didokumentasikan, dan dipertemukan dengan pendekatan ilmiah.

Satu-satunya karya yang mendapat penghargaan dalam kategori tersebut adalah Mitigasi Kultural: Pengetahuan Lokal Kebencanaan Masyarakat Sumatra Barat, karya Yose Hendra yang diterbitkan Rumah Kayu yang berbasis di Padang, Sumatra Barat. 

Buku ini salah satu buah karya program DanaIndonesiana 2024 (Kementerian Kebudayaan RI) yang didapat Yose Hendra, selain film dokumenter berjudul Pusaka Tangguh.

Buku Mitigasi Kultural sendiri merupakan salah satu contoh bagaimana pengalaman masyarakat menghadapi ancaman bencana dapat direkam dalam bentuk buku dan dibawa ke ruang perbukuan nasional.

Buku tersebut berangkat dari penelitian mengenai pengetahuan kebencanaan masyarakat di sejumlah wilayah Sumatra Barat. Di dalamnya terdapat pembahasan mengenai petatah-petitih, tambo, syair, toponimi, ritual, pantangan, rumah gadang, serta uma di Mentawai sebagai bagian dari rekam pengetahuan masyarakat dalam berhubungan dengan lingkungan dan menghadapi ancaman bencana.

Yose Hendra mengatakan, dokumentasi pengetahuan lokal penting karena masyarakat memiliki pengalaman panjang dalam membaca lingkungan tempat mereka hidup.

“Bencana boleh datang sebagai peristiwa alam, tetapi keselamatan ditentukan oleh pengetahuan manusia dalam membaca alam dan mewariskannya kepada generasi berikutnya,” kata Yose.

Ia menekankan bahwa pengetahuan lokal perlu diposisikan sebagai salah satu sumber pengetahuan yang dapat dipelajari dan diuji bersama ilmu pengetahuan modern.
“Yang kita perlukan bukan memilih antara pengetahuan modern dan pengetahuan lokal. Yang kita perlukan adalah mempertemukan keduanya untuk menyelamatkan manusia,” ujarnya.

Penghargaan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa isu-isu yang tumbuh dari daerah dapat memiliki relevansi yang lebih luas ketika dikembangkan melalui riset dan penerbitan yang serius.

Direktur Rumahkayu Pustaka Utama Alizar Tanjung, mengatakan penghargaan itu menunjukkan bahwa penerbit lokal memiliki peluang untuk membawa persoalan daerah ke tingkat nasional.
“Ini bukan hanya tentang satu buku. Ini menunjukkan bahwa penerbit lokal dapat mengangkat isu daerah melalui riset yang serius dan menghasilkan karya yang dapat berbicara di tingkat nasional,” katanya.

Menurut Alizar, Sumatra Barat memiliki tradisi menulis dan perbukuan yang panjang. Tantangannya adalah menjaga tradisi tersebut tetap hidup sekaligus memperluas jangkauan karya-karya yang lahir dari daerah.

IIBF dan Ekosistem Perbukuan
Penghargaan tersebut diberikan dalam rangkaian IIBF 2026, yang tahun ini menghadirkan rangkaian program yang lebih luas. Selain pameran buku, IIBF menghadirkan Children's Book Fest, Story Market, Book-to-Screen Workshop, diskusi, author meet and greet, IKAPI Awards, serta berbagai program yang melibatkan komunitas dan industri kreatif.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan pengembangan IIBF sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat ekosistem literasi sekaligus mengembangkan ekonomi budaya dan industri kreatif. Karena itu, Kementerian Kebudayaan memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan IIBF 2026.

“Kita menyambut baik penyelenggaraan IIBF 2026 ini yang diposisikan sebagai festival buku sekaligus hub dari industri kreatif berbasis konten,” kata Fadli saat membuka IIBF 2026.

Menurut Fadli, IIBF diarahkan pada tiga fungsi, yakni literasi publik dan keterlibatan pembaca, pengembangan industri penerbitan dan profesional, serta kolaborasi hak cipta, kekayaan intelektual, dan industri kreatif.

Dalam kesempatan tersebut, Fadli juga mendorong penulis dan penerbit memperbanyak karya tentang Indonesia. Menurut dia, masih banyak perjalanan peradaban Nusantara yang belum dituangkan dalam karya dan diperkenalkan kepada masyarakat dunia.
“Masih terlalu banyak yang belum ditulis tentang perjalanan peradaban di Nusantara ini. Masih terlalu banyak yang belum ditulis. Apalagi dibaca,” kata Fadli.

Karena itu, Fadli mendorong karya-karya Indonesia diterjemahkan ke berbagai bahasa. Kementerian Kebudayaan, kata dia, akan bekerja sama dengan IKAPI, penerbit, dan penulis untuk mendorong kehadiran karya Indonesia dalam berbagai festival buku internasional, termasuk melalui Dana Indonesia Raya.

Menurut Fadli, buku tidak hanya berfungsi sebagai bahan bacaan, tetapi juga dapat menjadi instrumen diplomasi kebudayaan. Melalui buku, Indonesia dapat memperkenalkan kearifan lokal, memperkuat jati diri budaya, sekaligus membangun jembatan antarperadaban.
“Literasi adalah bagian dari diplomasi budaya dan buku juga utusan yang tidak pernah lelah berjalan dari satu generasi ke generasi lain, dari satu bangsa ke bangsa lain,” ucap Fadli.

Dukungan pemerintah terhadap ekosistem perbukuan juga terlihat dalam program yang melibatkan IKAPI. Pada 2026, misalnya, IKAPI menyelenggarakan Indonesia Rights Fair Fellowship dengan dukungan Kementerian Kebudayaan untuk memperluas jejaring hak cipta dan penerjemahan karya Indonesia.

Penghargaan terhadap buku bermuatan lokal tidak berhenti pada apresiasi terhadap sebuah karya. Lebih jauh, ia membuka ruang agar pengetahuan yang tersimpan dalam masyarakat dapat terus didokumentasikan, dibaca, diuji, diterjemahkan, dan disebarluaskan.

Bagi mitigasi bencana, hal itu menjadi penting karena masyarakat bukan semata-mata objek yang menerima informasi kebencanaan. Mereka juga memiliki pengalaman, ingatan, dan pengetahuan mengenai lingkungan yang dapat menjadi bagian dari upaya membangun kesiapsiagaan. (*/)


Bagikan

Terbaru

Copyright © Analisakini.id | Jernih Melihat - All Rights Reserved