arrow_upward

Haji Alex Khawatir UMKM Oleh-oleh Terpukul Lantaran Sistem Bagasi Garuda Berubah

Kamis, 10 September 2026 : 17.28



Padang, Analisakini.id- Perubahan sistem bagasi Garuda Indonesia dari weight concept menjadi piece concept memunculkan kekhawatiran terhadap penjualan oleh-oleh dan cenderamata di daerah wisata.

Anggota Fraksi PDIP DPR RI dari Dapil Sumatera Barat I, Haji Alex Indra Lukman, menilai aturan tersebut dapat membuat wisatawan berpikir ulang untuk membawa buah tangan dari destinasi yang mereka kunjungi.

Menurut Alex, penjual cenderamata dan oleh-oleh biasanya mengemas produknya secara khusus sebagai bagian dari identitas produk. Kemasan itu juga terpisah dari koper utama penumpang.

“Aturan baru bagasi di Garuda Indonesia dengan sistem piece concept (hitung berdasarkan jumlah koper), akan membuat pengguna jasa penerbangan, enggan untuk membawa buah tangan dari perjalanannya ke suatu destinasi wisata, baik di dalam negeri maupun luar negeri,” terang Alex dalam pernyataan tertulis, Kamis (10/9/2026).

Alex menyampaikan pandangan tersebut setelah Garuda Indonesia mengubah sistem penghitungan bagasi. Sebelumnya, maskapai menggunakan weight concept yang menghitung total berat barang bawaan. Kini, Garuda menggunakan piece concept yang menghitung jumlah koper atau koli.

Dengan sistem baru itu, petugas di konter check-in tidak hanya menimbang barang bawaan. Petugas juga menghitung jumlah koper atau koli yang dibawa penumpang.

Alex memberi ilustrasi penumpang yang membawa dua koper dengan berat masing-masing 10 kilogram. Total berat kedua koper mencapai 20 kilogram, masih di bawah batas 23 kilogram per koli yang berlaku dalam aturan terbaru.

Namun, tiket Ekonomi Domestik hanya mencakup satu koli. Karena itu, koper kedua masuk sebagai koli tambahan dan dapat dikenai biaya.

Kondisi tersebut semakin terasa ketika penumpang membawa kardus berisi oleh-oleh. Kardus tersebut dapat menambah jumlah koli yang harus dibayar.

“Artinya, pedagang oleh-oleh di terminal bandara termasuk di sentra oleh-oleh yang ada di sebuah destinasi wisata, bakalan kehilangan calon pembeli,” terang Wakil Ketua Komisi IV DPR RI itu.

“Karena, yang ada dipikiran penumpang, kemasan itu akan jadi koli tambahan yang ongkos kirimnya akan melebihi nilai ekonomis dari oleh-oleh yang dibeli,” tambahnya.

Alex Soroti Potensi Dampak ke UMKM

Alex kemudian mengaitkan perubahan aturan bagasi tersebut dengan besarnya aktivitas perjalanan wisatawan domestik.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah perjalanan wisatawan nusantara (Wisnus) pada Kuartal I 2026 mencapai 319,51 juta perjalanan. Angka tersebut meningkat 13,14 persen dibandingkan periode yang sama secara tahunan.

Menurut Alex, tingginya mobilitas wisatawan domestik menunjukkan besarnya potensi pasar bagi berbagai sektor pendukung pariwisata, termasuk penjual cenderamata dan oleh-oleh.

Perjalanan masyarakat tersebut mencakup aktivitas wisata, mudik, perjalanan bisnis hingga kunjungan keluarga di berbagai daerah.

Alex menyebut cenderamata dan oleh-oleh sebagai bagian dari layanan pendukung pariwisata atau ancillary services.

“Beleid Garuda ini secara tak langsung telah meruntuhkan ekspektasi pelaku UMKM Indonesia terhadap potensi dari ratusan juta orang Wisnus ini,” tutupnya.(*)

Bagikan

Terbaru

Copyright © Analisakini.id | Jernih Melihat - All Rights Reserved