Sekretaris Komisi III DPRD Sumbar,
Nofrizon.
PADANG, ANALISAKINI.ID--Kondisi ruas jalan di sejumlah titik kawasan Kelok 44,
Kabupaten Agam, cukup memprihatinkan. Banyak yang rusak, nyaris ambruk dan
sudah membahayakan. Ini perlu penanganan serius.
Sekretaris Komisi III DPRD Sumbar,
Nofrizon, menyampaikan hal itu saat interupsi dalam sebuah agenda Rapat
Paripurna DPRD Sumbar, Senin (6/7/2026).
Kata Nofrizon, masyarakat memintanya
untuk menyampaikan pesan kepada Gubernur Sumbar agar segera meninjau kondisi
jalan tersebut. Katanya, kerusakan yang semakin parah dinilai kian mengancam
keselamatan warga yang melintas.
"Ya, masyarakat meminta saya
menyampaikan langsung kepada Bapak Gubernur terkait kondisi Jalan Kelok 10,
misalnya, yang saat ini sudah sangat parah dan nyaris ambruk," ujarn
Nofrizon yang berasal dari daerah pemilihan (Dapil) setempat.
Ia menilai, Pemprov Sumbar kurang
maksimal dalam menangani kerusakan ruas Jalan Padang Luar–Simpang Manggopoh,
khususnya di beberapa titik rawan seperti Kelok 8, Kelok 10, hingga Kelok 43.
Namun, kondisi paling mengkhawatirkan saat ini berada di Kelok 10.
"Lebar badan jalan di Kelok 10 saat
ini hanya tersisa sekitar dua meter. Pada musim hujan seperti sekarang,
kondisinya sangat rawan. Kendaraan jenis tronton sudah tidak dapat melintas.
Kendaraan yang masih bisa lewat hanya mobil berukuran kecil seperti L300 dengan
kapasitas muatan yang terbatas," katanya.
Nofrizon menjelaskan bahwa ruas jalan
Kelok 44, merupakan jalur logistik penting sekaligus urat nadi perekonomian
daerah. Jalur tersebut menghubungkan Kota Padang dengan Kabupaten Agam, Tiku,
Sungai Limau, Lubuk Basung, hingga Pasaman Barat. Jalur ini juga menjadi
lintasan utama distribusi berbagai komoditas seperti jagung, padi, kelapa,
ikan, serta hasil pertanian lainnya.
"Aktivitas lalu lintas di ruas ini
jauh lebih padat dibandingkan dengan ruas Sicincin–Malalak. Oleh karena itu,
perhatian pemerintah terhadap jalan ini harus menjadi prioritas utama,"
tegasnya.
Ia mengungkapkan, masyarakat berharap
Gubernur dan Wakil Gubernur Sumbar dapat turun langsung meninjau lokasi tanpa
pengawalan protokoler agar dapat merasakan sendiri kondisi nyata yang dihadapi
warga setiap hari.
Menurutnya, apabila akses Jalan Kelok 10 sampai terputus total, dampaknya akan sangat besar terhadap mobilitas masyarakat serta distribusi hasil pertanian dan kebutuhan pokok di wilayah Agam dan Pasaman Barat. Ia juga menilai penanganan yang dilakukan selama ini belum mampu menyelesaikan persoalan secara permanen karena kerusakan selalu berulang setiap musim hujan.
"Persoalan ini sudah tidak bisa
lagi ditangani dengan penanganan biasa. Ibarat orang sakit, tidak cukup lagi
diberi obat generik, tetapi sudah membutuhkan tindakan medis khusus. Jika akses
ini putus, masyarakat terpaksa memutar jauh melalui Maninjau menuju Lubuk
Basung," ucapnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas
Bina Marga, Cipta Karya, dan Tata Ruang (BMCKTR) Sumbar, Armiz, mengatakan
bahwa pemerintah provinsi telah melakukan tindakan darurat terhadap ruas Jalan
Kelok 10 sejak dua hari terakhir. Hari ini (kemarin—Red), pihaknya juga menjadwalkan pemasangan kantong pasir (sand bag) sebagai langkah penanganan
sementara guna mencegah kerusakan semakin meluas.
"Penanganan sementara sudah kami
lakukan sejak dua hari lalu. Lalu dipasang sand bag untuk memperkuat bagian
jalan yang terdampak longsoran," ujar Armiz.
Ia menambahkan, untuk penanganan permanen, pemerintah daerah masih menunggu ketersediaan anggaran melalui mekanisme Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) maupun sumber pendanaan lainnya. "Untuk penanganan permanen, kami masih menunggu ketersediaan anggaran melalui R3P dan usulan pendanaan lainnya," kata Armiz. (n-r-t)
