PADANG, ANALISAKINI.ID--Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Barat (Sumbar) triwulan
I-2026 tumbuh sebesar 5,02 persen secara y-on-y. Dari segi lapangan usaha,
lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi adalah penyediaan akomodasi dan
makan minum (17,77 persen). Lapangan usaha yang juga memiliki pertumbuhan yang
tinggi secara y-on-y adalah jasa lainnya (9,10 persen) serta lapangan usaha
jasa keuangan (7,94 persen).
Dari segi komponen pengeluaran, komponen
impor barang dan jasa pengurang PDRB, memiliki pertumbuhan tertinggi, yaitu
sebesar 21,04 persen. Komponen yang juga memiliki pertumbuhan tertinggi lainnya
yaitu komponen ekspor barang dan jasa (20,14 persen).
"Selaras dengan pertumbuhan secara
y-on-y yang menunjukkan angka positif, ekonomi Sumbar pada triwulan I-2026
dibandingkan dengan triwulan IV-2025 (q-to-q) juga menunjukkan pertumbuhan
sebesar 3,15 persen," kata kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar,
Nurul Hasanudin, saat menyampaikan Berita Resmi Statistik (BRS) di Ruang Marapi
Vicon BPS Sumbar, Selasa (5/5/2026)
Ia mengatakan, jika dibandingkan dengan
provinsi lain, pada triwulan I-2026 ini Sumbar menyumbang 6,83 persen
perekonomian di Pulau Sumatera dan 1,51 persen perekonomian nasional. Tingkat
Pengangguran Terbuka (TPT) Sumbar Februari 2026 sebesar 5,51 persen, turun 0,18
persen poin dibanding Februari 2025.
Penduduk usia kerja (15 tahun ke atas)
mengalami tren yang cenderung meningkat, seiring bertambahnya jumlah penduduk
di Sumbar. Penduduk usia kerja pada Februari 2026 sebanyak 4,52 juta orang,
naik sebanyak 67,65 ribu orang dibanding Februari 2025.
Sebagian besar penduduk usia kerja
merupakan angkatan kerja, yaitu sebanyak 3,24 juta orang (71,76 persen),
sedangkan sisanya termasuk bukan angkatan kerja. Komposisi angkatan kerja pada
Februari 2026 terdiri dari 3,06 juta orang penduduk yang bekerja dan 178,68
ribu orang pengangguran.
Penduduk bekerja naik sebanyak 85,75
ribu orang dan pengangguran turun sebanyak 1,05 ribu orang. Dari 3,06 juta
penduduk bekerja, tiga lapangan usaha yang menyerap tenaga kerja paling banyak
di Sumbar yaitu pertanian, kehutanan, dan perikanan yaitu sebesar 32,95 persen,
perdagangan besar dan eceran sebesar 17,06 persen, dan akomodasi dan makan
minum sebesar 8,92 persen.
Melalui penerbitan Peraturan Badan Pusat
Statistik (BPS) Nomor 7 Tahun 2025 tentang KBLI 2025, BPS melakukan penyesuaian
dengan mengganti KBLI 2020 secara bertahap menjadi KBLI 2025 pada seluruh kegiatan
statistik, termasuk pelaksanaan Sakernas Februari 2026. Sementara itu, pada
kegiatan Sakernas Februari 2025 masih menggunakan KBLI 2020.
Menurut status pekerjaannya, penduduk
bekerja paling banyak berstatus buruh/karyawan/pegawai, yaitu sebesar 31,30
persen, sementara yang paling sedikit berstatus berusaha dibantu buruh tetap
dan dibayar, yaitu sebesar 4,66 persen. Pada Februari 2026, penduduk bekerja
pada kegiatan informal masih mendominasi, yaitu sebanyak 1,96 juta orang (64,04
persen), sedangkan yang bekerja pada kegiatan formal sebanyak 1,10 juta orang
(35,96 persen).
TPT hasil Sakernas Februari 2026
tercatat sebesar 5,51 persen. Hal ini berarti dari 100 orang angkatan kerja,
terdapat sekitar 5‒6 orang penganggur. TPT mengalami penurunan sebesar 0,18
persen poin dibandingkan dengan Februari 2025, dan secara absolut jumlah
pengangguran berkurang sebanyak 1,05 ribu orang.
Sementara Survei Penduduk Antar Sensus
(SUPAS) 2025 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Sumbar mencapai 5,92 juta jiwa,
meningkat dibandingkan hasil SP2020. Laju pertumbuhan penduduk dalam lima tahun
terakhir tercatat sebesar 1,41 persen per tahun.
Struktur penduduk didominasi oleh usia
produktif (15–64 tahun) sebesar 67,75 persen, sementara rasio ketergantungan
berada pada angka 47,59, yang berarti setiap 100 penduduk usia produktif
menanggung sekitar 48 penduduk usia nonproduktif.
Dari sisi komposisi demografi, penduduk
Sumbar didominasi oleh generasi muda, khususnya Generasi Z dan Milenial yang
mencakup hampir separuh populasi. Rasio jenis kelamin tercatat sebesar 102,
yang menunjukkan jumlah laki-laki lebih banyak dibanding perempuan.
Hasil SUPAS 2025 juga menunjukkan Sumbar
mulai memasuki fase penuaan penduduk (ageing population) dengan proporsi
penduduk lanjut usia mencapai 12,01 persen. Indikator fertilitas menunjukkan
tren penurunan yang konsisten.
Angka Kelahiran Total (Total Fertility
Rate/TFR) sebesar 2,39, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. Penurunan
juga terlihat pada Angka Kematian Bayi (Infant Mortality Rate/IMR) menjadi
14,58 per 1.000 kelahiran hidup, mencerminkan perbaikan kondisi kesehatan
masyarakat.
Indeks Ketimpangan Gender (IKG) Provinsi
Sumatera Barat tahun 2025 tercatat sebesar 0,364. Capaian ini menempatkan
Sumbar pada peringkat ke-12 secara nasional dan berada lebih baik dibandingkan
IKG nasional yang sebesar 0,402. Angka ini menunjukkan bahwa ketimpangan antara
laki-laki dan perempuan masih terjadi, namun secara umum mengalami perbaikan
dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Sementara pada dimensi pasar tenaga
kerja, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) laki-laki tercatat sebesar
83,21 persen dan perempuan sebesar 59,40 persen, yang menunjukkan masih adanya
kesenjangan dalam partisipasi kerja. Secara tren, IKG Sumbar selama periode
2019 hingga 2025 menunjukkan penurunan yang konsisten, dari 0,527 pada tahun
2019 menjadi 0,364 pada tahun 2025.
Penurunan ini menandakan bahwa
kesenjangan gender semakin menyempit, didukung oleh perbaikan pada indikator
kesehatan reproduksi, peningkatan partisipasi perempuan dalam pendidikan dan
politik, serta meningkatnya keterlibatan perempuan dalam pasar kerja, meskipun
perbedaan antara laki-laki dan perempuan masih terlihat. (hen)
