arrow_upward

Irman Gusman Ajak Perantau Lambah Perkuat Ekonomi, Dorong IV Koto Jadi Kawasan Penyangga Wisata Unggulan

Sabtu, 30 Mei 2026 : 21.46

Tangerang Selatan, Analisakini.id— Anggota DPD RI asal Sumatera Barat, H. Irman Gusman, mengajak para perantau Lambah, Nagari Sianok Anam Koto, Kecamatan IV Koto (Ampek Koto), Kabupaten Agam, untuk memperkuat ekonomi masyarakat sekaligus mengambil peran lebih besar dalam membangun kampung halaman melalui sinergi erat antara ranah dan rantau.

Ajakan tersebut disampaikan Irman saat menghadiri pelantikan pengurus Ikatan Kerukunan Keluarga Perantau Lambah (IKKPL) di Gedung Serbaguna PKDP, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Sabtu (30/5/2026). Pengurus IKKPL dilantik langsung oleh Wakil Bupati Agam, M. Iqbal.

Kegiatan itu turut dihadiri Camat IV Koto, Subchan, Ketua IKKPL M. Ifdal beserta jajaran pengurus yang baru dilantik, Ketua Dewan Pembina IKKPL Ir. Firdaus HB St. Bandaro, Ketua Panitia Syafriyaldi St. Kayo, para tokoh masyarakat, ninik mamak, cadiak pandai, bundo kanduang, serta keluarga besar perantau Lambah dari berbagai wilayah Jabodetabek.

Dalam sambutannya, Ketua Dewan Pengawas DPP Ikatan Keluarga Minang (IKM) itu menegaskan bahwa organisasi perantau tidak cukup hanya menjadi wadah silaturahmi, tetapi juga harus menjadi kekuatan strategis untuk membangun ekonomi kampung halaman.

“Sejauh apa pun rantau dijalankan, hubungan dengan kampung halaman harus tetap terjaga. Perantau harus menjadi bagian dari solusi pembangunan nagari,” ujar mantan Ketua DPD RI dua periode itu.

Irman menilai Jorong Lambah dan Kecamatan IV Koto dapat menjadi titik awal kebangkitan ekonomi Kabupaten Agam melalui penguatan sektor pariwisata, UMKM, ekonomi nagari, dan jejaring usaha perantau.

“Melalui Jorong Lambah, kita dorong Ampek Koto. Yang penting kita bangkit. Agam ini harimau, apa pun masalah yang dihadapi, kita harus bangkit,” kata Irman.

Menurut Senator asal Sumatera Barat itu, IV Koto memiliki posisi geografis yang sangat strategis karena berbatasan langsung dengan Kota Bukittinggi, salah satu destinasi wisata utama di Sumatera Barat. Karena itu, ia mendorong IV Koto disiapkan menjadi kawasan penyangga wisata unggulan agar mampu menangkap limpahan wisatawan dari Bukittinggi.

“Kita harus menangkap tumpahan wisatawan dari Bukittinggi agar mereka tidak sekadar lewat, tetapi menginap, berbelanja, menikmati kuliner, dan merasakan kekayaan budaya yang dimiliki IV Koto,” katanya.

Irman menilai Kabupaten Agam sejatinya memiliki potensi ekonomi dan pariwisata yang sangat besar, tetapi belum dikelola secara optimal. Ia menyoroti ketimpangan Pendapatan Asli Daerah (PAD) antara Bukittinggi dan Agam.

“Saat ini PAD Bukittinggi sudah sekitar Rp700 miliar, sementara Agam baru sekitar Rp200 miliar. Padahal Bukittinggi tidak akan begitu terkenal tanpa Ngarai Sianok, tanpa Koto Gadang, dan daerah-daerah penyangga lainnya di Agam,” ujarnya.

Ia kemudian membandingkan kondisi tersebut dengan Bali, di mana Kabupaten Badung yang mengelilingi Kota Denpasar mampu mengoptimalkan potensi pariwisata hingga memiliki PAD sekitar Rp6,7 triliun, jauh di atas Kota Denpasar.

“Ini perlu menjadi perhatian kita bersama, Pak Iqbal. Apa yang salah dengan Agam? Mari kita benahi bersama,” kata Irman di hadapan Wakil Bupati Agam.

Lebih jauh, Irman mengemukakan gagasan pengembangan kawasan wisata terpadu yang menghubungkan Ngarai Sianok, Koto Gadang, Balingka, Sungai Landia, Guguak, hingga Lambah melalui kerja sama antarnagari yang terencana dan saling mendukung.

Ia mencontohkan keberhasilan Nagari Koto Gadang yang telah ditetapkan sebagai Desa Wisata Terbaik Kedua Tingkat Nasional Tahun 2025 sebagai bukti bahwa pengembangan berbasis potensi lokal dapat menghasilkan prestasi nasional.

“Mari kita pikirkan bagaimana menghidupkan Sianok yang begitu indah, lalu terhubung hingga ke Lambah. Jangan berjalan sendiri-sendiri. Kita perlu sinergi agar tidak saling tumpang tindih,” ujarnya.

Khusus untuk Lambah dan Sianok Anam Koto, Irman melihat potensi besar pada sektor wisata alam Lembah Sianok, kuliner khas seperti gulai itiak lado mudo, serta industri fesyen muslim, tekstil, dan konveksi yang diperkuat oleh jejaring warga perantau.

Menurutnya, wisatawan yang datang ke IV Koto harus memperoleh pengalaman yang lengkap—mulai dari wisata alam, sejarah, kuliner, hingga produk ekonomi kreatif masyarakat.

Selain sektor pariwisata, Irman juga menekankan pentingnya penguatan ekonomi masyarakat melalui Koperasi Desa (KOPDES) Merah Putih. Menurutnya, setiap nagari harus memiliki fokus usaha berbeda sesuai keunggulan masing-masing agar tercipta ekosistem ekonomi yang saling menopang.

Untuk kawasan Lambah dan Sianok Anam Koto, ia menilai koperasi dapat diarahkan menjadi pusat produksi tekstil, penyedia bahan baku konveksi, hingga pengembangan produk fesyen khas berbasis jaringan perantau IKKPL.

“Orang Minang itu DNA-nya saudagar. Bung Hatta pun berasal dari keluarga saudagar. Karena itu ekonomi masyarakat harus kita bangkitkan. Minang harus menjadi pionir di tengah berbagai kesulitan bangsa saat ini,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Irman juga menyampaikan apresiasi kepada Camat IV Koto, Subchan, atas dukungan dan koordinasi yang dinilainya kuat dalam mendorong kemajuan nagari-nagari di IV Koto, termasuk membangun komunikasi dengan warga perantau.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina IKKPL sekaligus Ketua Forum Minang Maimbau, Firdaus HB, mengingatkan pentingnya kolaborasi antara ranah dan rantau dalam membangun kampung halaman.

“Jangan ragu mengurus orang. Allah yang akan mengurus diri kita. Kita rindu kampung halaman kita. Karena itu kita perlu bersinergi antara ranah dan rantau,” ujar Firdaus.

Senada dengan itu, Wakil Bupati Agam, M. Iqbal, mengaku terharu melihat semangat para perantau Lambah dalam pengukuhan pengurus IKKPL yang dipimpin M. Ifdal.

“Kami merasa bangga dan terhormat. Ini menunjukkan kecintaan perantau terhadap kampung halaman masih sangat kuat,” ujar Iqbal.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut juga digelar dialog interaktif dengan pembicara Irman Gusman, Camat IV Koto Subchan, dan Ketua IKKPL M. Ifdal, yang dipandu langsung oleh Firdaus HB, membahas strategi membangun ekonomi nagari, pengembangan wisata kawasan IV Koto, serta penguatan sinergi antara ranah dan rantau demi kebangkitan Agam dari Ampek Koto. (*/rl)
Bagikan

Terbaru

Copyright © Analisakini.id | Jernih Melihat - All Rights Reserved