arrow_upward

Tragedi Kereta di Bekasi, Menteri PPPA Usulkan Gerbong Wanita Dipindahkan ke Tengah

Rabu, 29 April 2026 : 10.46

Foto: Pradita Utama/detikFoto

Jakarta, Analisakini.id - Korban kecelakaan kereta KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur bertambah menjadi 15 orang. Data ini didapat per Selasa (28/4) sore.
"Iya, 15 meninggal," kata Kabid Dokkes Polda Metro Jaya Kombes Martinus Ginting di Rumah Sakit Bhayangkara Tk.I Pusdokkes Polri (RS Polri), Jakarta, Selasa (28/4/2026).

Namun, untuk data terbaru jumlah korban luka belum dirincikan. Sebagian jenazah sudah dibawa ke RS Polri Kramat Jati.

Menkes Siapkan RS Rujukan
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin turut menyampaikan belasungkawa kepada korban meninggal dunia, keluarga yang ditinggalkan, dan kepada korban luka yang saat ini tengah menjalani penanganan medis usai peristiwa nahas di wilayah Stasiun Bekasi Timur.

"Kita sangat sedih sih melihat kecelakaan itu terjadi. Mudah-mudahan mereka yang dirawat bisa sehat kembali," kata Menkes Budi saat ditemui di Jakarta Selatan, Selasa (28/4/2026).

Menkes juga menegaskan bahwa pihaknya juga akan memberikan bantuan terhadap korban-korban yang membutuhkan rujukan. Nantinya, Kemenkes akan memberikan akses ke rumah sakit vertikal.

"Yang kami support baik kalau mereka butuh rujukan. Jadi kalau misalnya luka-lukanya, traumanya butuh rujukan lebih lanjut itu kami bisa kasih ke Rumah Sakit PON atau Rumah Sakit RSCM," kata Menkes.

"Sama kalau mereka membutuhkan mental health, rawatan juga rumah sakit jiwa kita RS Soeharto Heerdjan kan ada di Jakarta bisa bantu mereka," lanjutnya.

Trauma Healing untuk Korban
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN Wihaji memastikan pemerintah kini berfokus pada proses pemulihan korban.

"Jadi terkait penanganan korban tentu nanti kita akan tindaklanjuti kalau butuh, dalam tanda petik beberapa hal yang berkenaan dengan konsultasi, berkenaan dengan keluarga trauma healing, biasanya kewenangan kita di situ tentu yang penting yang hari ini adalah fokus penanganan korban biar sampai selesai kalau nanti membutuhkan trauma healing pasti kita turun, karena itu bagian dari kewajiban kita," sorot Wihaji pasca menghadiri pertemuan dengan BPOM RI, Selasa (28/4/2026).

Usulan Pemindahan Gerbong Khusus Wanita

Merespons kecelakaan ini, Menteri PPPA Arifah Fauzi mengusulkan pemindahan gerbong kereta khusus perempuan menjadi posisi tengah, pasca insiden kecelakaan di Stasiun KRL Bekasi Timur. Perempuan menjadi kelompok rentan yang disebutnya perlu mendapat prioritas dalam fasilitas umum, termasuk transportasi.

"Kalau dulu pertimbangannya gerbong wanita ditaruh paling depan dan paling belakang supaya tidak jadi rebutan. Tapi dengan peristiwa ini, kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah," beber Arifah kepada wartawan, pasca mendatangi RSUD Bekasi, tempat korban dirawat, Selasa (28/4/2026).

"Jadi yang di ujung, atau paling depan dan belakang laki-laki," sambungnya.

Senada, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) juga menyoroti perlunya perpindahan posisi gerbong, utamanya untuk kelompok rentan.

"YLKI mendorong evaluasi terhadap fasilitas dan standar keselamatan pada gerbong kereta, khususnya bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas. Penempatan gerbong, termasuk gerbong khusus wanita di bagian depan dan belakang, perlu ditinjau ulang dari sisi keamanan," jelas Rio Prambodo Pengurus Harian YLKI, dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Selasa (28/4/2026).

Kekhawatiran tersebut juga mencuat di berbagai platform media sosial. Tidak sedikit netizen yang menilai gerbong depan dan belakang kereta tinggi risiko untuk kelompok rentan. (sumber : detik.com)

Bagikan

Terbaru

Copyright © Analisakini.id | Jernih Melihat - All Rights Reserved