![]() |
| Ketua DPP PSI Bestari Barus. (Foto: Tara Wahyu/detikJateng) |
Denpasar, Analisakini.id - Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Bestari Barus menyindir balik pernyataan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (JK) yang mengklaim Joko Widodo (Jokowi) menjadi Presiden karena perannya. Bestari menegaskan kemenangan dalam pilpres ditentukan rakyat, sembari menyinggung rekam jejak kekalahan JK di sejumlah kontestasi.
Bestari mengaku terkejut dengan pernyataan JK yang dinilainya tidak biasa. Ia menyebut JK selama ini dikenal sebagai sosok yang tenang.
"Ya, saya juga baru tahu. Ya gimana ya, saya kaget aja gitu kan. Pak JK itu kan seorang negarawan yang saya tidak pernah apa ya, melihat beliau se-emosional begitu menyikapi persoalan-persoalan. Biasanya itu Pak JK itu orangnya lemah lembut, nggak tahu sekali ini kenapa gitu ya," kata Bestari Barus saat dihubungi, Senin (20/4/2026).
Bestari menegaskan pencalonan dalam pemilu bukan ditentukan satu orang, melainkan melibatkan banyak pihak, terutama partai politik pengusung.
"Ya saya kira ini ya, itu sebagaimana siapa yang dicalonkan itu kan bukan perorangan ya, tapi lebih kepada peserta pemilunya kan partai politik pengusung secara bersama-sama," ucap dia.
"Nggak satu-dua orang. Satu-dua orang itu mungkin ada yang kemudian mempromosikan, ada kemudian membentuk tim-tim pemenangan dan seterusnya. Ya saya kira banyak orang yang berperan ketika itu ya partai-partai pengusung gitu ya," lanjutnya.
Meski demikian, Bestari tidak mempermasalahkan jika JK merasa memiliki peran besar dalam pencalonan Jokowi. Ia menyebut hal itu patut dihargai.
"Ya kalau pun Pak JK merasa bahwa beliau punya peran ya patut kita hargailah sebagai senior politik berperan melahirkan apa namanya kesepakatan untuk mendukung Pak Jokowi beserta dirinya untuk menjadi presiden dan wakil presiden ya itu kan sesuatu yang baik sebetulnya," ujar dia.
Singgung Hasil Pilpres
Namun, Bestari juga menyinggung hasil sejumlah kontestasi yang diikuti JK. Ia menyebut kemenangan ditentukan oleh pilihan rakyat, bukan sekadar dukungan tokoh.
"Siapa mendukung siapa itu biasa, tapi siapa yang mendapat dukungan rakyat itu lah yang menang, di momen saat pencalonan Anies kemarin dan 2009 saat melawan Pak SBY itu kalah juga," tuturnya.
Ia menekankan bahwa sosok yang diterima rakyat menjadi faktor utama kemenangan dalam pilpres.
"Jadi yang diterima rakyat itu adalah kalau waktu berpasangan sama Pak SBY ya SBY yang diterima rakyat, saat berpasangan dengan Jokowi, Jokowi yang diterima rakyat, pada saat (JK) pasangan dengan si anu (Wiranto) kan nggak diterima rakyat, akhirnya nggak terpilih," sebut dia.
JK Tegaskan Perannya
Sebelumnya, Jusuf Kalla mengungkapkan kekesalannya atas tuduhan yang menyebut dirinya mendanai kasus ijazah Jokowi. Dalam pernyataannya, JK juga menyinggung perannya dalam perjalanan politik Jokowi hingga menjadi Presiden ke-7 RI.
Pernyataan itu disampaikan JK saat ditanya terkait laporan polisi atas video ceramahnya soal 'mati syahid' di UGM. Dalam kesempatan tersebut, JK menegaskan perannya.
"Kasih tahu semua itu termul-termul itu, Jokowi jadi presiden karena saya," tegas JK.
Penjelasan Jubir JK
Juru bicara JK, Husain Abdullah, menjelaskan pernyataan tersebut muncul karena JK kerap dituding tidak tahu berterima kasih kepada Jokowi.
"Penjelasan Pak JK yang sempat disampaikan dengan nada tinggi, untuk meyakinkan loyalis Jokowi yang kerap menarasikan JK tidak tahu balas budi padahal sudah diangkat jadi Wapres oleh Jokowi. Tidak punya rasa terima kasih kepada Jokowi. JK tidak juga emosi. Tapi sudah lama JK menahan diri tidak buka-bukaan soal ini," kata Husain saat dihubungi, Minggu (19/4).
Husain menyebut JK terpaksa mengungkap perannya, khususnya saat mendorong pencalonan Jokowi di Pilgub DKI Jakarta 2012.
"Akhirnya JK pun terpaksa mengungkapkan perannya, bagaimana dia mengantarkan Jokowi ke Ibu Mega agar dicalonkan jadi Gubernur DKI. JK sadar bahwa kemudian saat kontestasi Pilpres telah berproses, banyak pihak kemudian yang terlibat. Tapi awal mula Jokowi dipromosikan ke Ibu Mega 'manggung' di Ibu Kota sebagai calon Gubernur DKI, tidak lepas dari peran yang dilakonkannya," ucap dia.
Menurutnya, langkah awal Jokowi di Jakarta membuka jalan menuju Pilpres 2014.
"Jadi yang disampaikan JK adalah ketika langkah awal Jokowi berkiprah di Jakarta yang membuka pintu bagi Jokowi kemudian menjadi Presiden RI. Tanpa ini, kemungkinan nasibnya beda lagi. Sebab sesudah jadi Gubernur, selanjutnya, Jokowi dicalonkan jadi Presiden oleh Ibu Mega," jelasnya.
"Tapi saat itu, Ibu Mega tidak bersedia mengesahkan pencalonan Jokowi kalau bukan JK sebagai wakilnya. Sebab Jokowi dianggap belum berpengalaman sekalipun elektabilitasnya tinggi untuk bersaing dengan Prabowo. Maka jadilah Pak JK sbg Wapres Jokowi," lanjutnya.
Husain menegaskan penentuan pasangan capres-cawapres saat itu bukan keputusan Jokowi semata, melainkan atas permintaan Ketua Umum PDIP.
"Catatan pentingnya di sini, bukan Jokowi yang menetapkan JK sebagai pasangannya, melainkan langsung atas permintaan Ibu Mega selaku Ketua Umum PDIP kepada JK agar mendampingi Jokowi (yang dianggapnya belum berpengalaman pada saat itu). Sekali lagi, Ibu Mega tidak mau menandatangani pencalonan Jokowi kalau tidak berpasangan dengan M. Jusuf Kalla. Jadi siapa sebenarnya yang berhutang budi? Apalagi sepanjang pemerintahan mendampingi Jokowi, dalam beberapa moment krusial JK kerap pasang badan buat Jokowi," tuturnya. (sumber detik.com)
