arrow_upward

Mantan Bankir asal Minang Jadi Tukang Sate di Swiss

Sabtu, 25 April 2026 : 10.28
Padang, Analisakini.id-Di Zurich, kota yang lebih akrab dengan aroma kopi mahal dan rapat dewan direksi, ada gerobak roda tiga yang saban hari mengeluarkan asap tipis dan bau bumbu kacang yang menggoda. Gerobak itu milik Rio Vamory, pria kelahiran Padangpanjang, Sumatera Barat, tahun 1983, yang pernah duduk nyaman sebagai bankir di salah satu bank swasta di kota yang sama.

Sekarang ia berdiri di belakang gerobak itu, menusuki potongan ayam satu per satu, lalu memanggangnya di atas bara.

Keputusan itu bukan datang dalam semalam. Rio sudah berada di Swiss sejak tahun 2006, dan selama bertahun-tahun ia menjalani rutinitas seorang bankir, lengkap dengan gaji yang lebih dari cukup untuk hidup layak di salah satu kota paling mahal di dunia. Tapi ada sesuatu yang tidak terpenuhi. "Isi dompet iya, tapi nggak isi jiwa," katanya.

Bukan Keputusan Nekat

Rio menolak disebut nekat. "Kalau nekad ya tidak, saya sudah merencanakan sejak lama, prosesnya bertahun-tahun," tuturnya. Ia memang punya bekal yang tidak sembarangan — saat kuliah, Rio pernah menulis tesis tentang food truck. Jadi ketika niatnya bulat, ia tahu betul apa yang sedang ia kerjakan.

Untuk mengumpulkan modal, Rio melakukan crowd funding dengan mengunggah video di internet yang menjelaskan proyeknya untuk menarik pemberi modal. Akhirnya terkumpul sekitar Rp150 juta, yang ia gunakan untuk membeli gerobak dan keperluan lainnya. Rio mulai menjalankan bisnis satenya sejak tahun 2016.

Satu-Satunya Gerobak Sate di Swiss

Gerobak milik Rio adalah satu-satunya gerobak sate ayam di Zurich, bahkan di seluruh Swiss. Ia sengaja membawa konsep yang benar-benar autentik — bukan sate yang dijual di dalam restoran atau gedung, melainkan dibakar langsung di depan pembeli, persis seperti yang lazim dijumpai di pinggir jalan Indonesia.

"Kebanyakan sate ayam dijual di dalam restoran atau gedung. Saya mencobanya menjualnya seperti di Indonesia," kata Rio.

Reaksi warga lokal tidak mengecewakan. Seorang perempuan bule menggambarkan sate buatan Rio sebagai "super," sementara yang lain menyebutnya "very very good." Yang membuat satenya istimewa bukan hanya cara penyajiannya, tapi juga teknik pengolahannya — ada potongan lemak yang membuat sate ayam tetap empuk dan tidak cepat kering.

Zurich, "Little Big City of Switzerland" — dan Rio Menjadi Bagian dari Ceritanya

Koran terbesar di Swiss, Neue Zürcher Zeitung (NZZ), menerbitkan satu halaman penuh tentang dirinya. Bagi sebuah koran yang sejak lama menjadi rujukan elite keuangan dan politik Eropa, memberi satu halaman penuh untuk seorang pedagang sate adalah sebuah pengakuan yang tidak main-main. "Tak banyak, hampir tak ada bankir yang mau berubah profesi jadi tukang sate ayam, keberanian itu ada dalam diri Rio," kata redaktur NZZ.

Tidak Melupakan Akar

Di balik kesuksesan yang ia bangun sendiri di negeri orang, Rio tidak memutus tali ke kampung halamannya. Ia menyisihkan 1 Frank Swiss dari setiap sate yang terjual untuk membantu pelestarian alam Sumatera. Setiap tusukan sate yang laku, ada sebagian yang kembali ke tanah yang melahirkannya.

Kisah Rio Vamory bukan hanya tentang seorang pria yang banting setir. Ini tentang apa artinya memilih hidup yang terasa benar — meski di atas kertas tampak seperti kemunduran. Dari meja bank ke gerobak sate, dari Padangpanjang ke Zurich, ia membuktikan bahwa identitas bukan sesuatu yang perlu ditinggalkan untuk sukses di luar negeri. Justru sebaliknya. (sumber : fb sitinjau lauik terkini).

Bagikan

Terbaru

Copyright © Analisakini.id | Jernih Melihat - All Rights Reserved