Padang. Analisakini.id – Universitas Andalas (UNAND) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dengan tajuk "Kolaborasi Perguruan Tinggi dan Dunia Usaha dalam Mengakselerasi Ekonomi Menuju Pertumbuhan 8%".
Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (10/3) di Ruang Rapat Senat Universitas ini bertujuan membedah strategi konkret dalam menyelaraskan hasil riset akademis dengan kebutuhan pasar industri.
Wakil Rektor IV UNAND, Prof. Henmaidi, menyoroti ironi komoditas unggulan Sumatera Barat, khususnya gambir. Ia memaparkan bahwa Indonesia menguasai 80% produksi gambir dunia, namun belum mampu mendikte harga pasar. Persoalan serupa terjadi pada hilirisasi riset kampus.
"UNAND memiliki segudang inovasi riset, namun tantangan terbesarnya adalah penetrasi pasar. Sejauh ini, produk kita baru sampai pada tahap penayangan di e-catalog. Melalui kolaborasi dengan Kadin, kami berharap hasil riset ini bisa masuk ke ekosistem pasar yang lebih luas dan kompetitif," ujar Prof. Henmaidi.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menekankan pentingnya implementasi konsep Triple Helix, sinergi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha. Menurutnya, universitas harus mulai menyiapkan jurusan dan kurikulum yang menjawab kebutuhan industri secara langsung agar lulusan dan inovasinya segera terserap.
Di sisi lain, perwakilan Bank Indonesia (BI) turut mendorong percepatan digitalisasi sebagai motor penggerak ekonomi daerah. Pihak BI menekankan bahwa inflasi yang rendah bukan jaminan otomatis bagi kenaikan pertumbuhan ekonomi. Terdapat hambatan struktural yang perlu dibenahi, salah satunya adalah kebutuhan akan investasi atau "uang masuk" ke Sumatera Barat untuk menstimulasi produktivitas.
FGD ini menyimpulkan bahwa target pertumbuhan ekonomi 8% memerlukan kerja sama lintas sektor. Universitas tidak boleh lagi berjalan sendiri sebagai menara gading, melainkan harus menjadi pusat inkubasi yang terhubung langsung dengan rantai pasok industri yang difasilitasi oleh Kadin dan didukung stabilitas moneter dari Bank Indonesia. (*/rl)
