Padang, Analisakini.id-Awalnya, Safinah adalah seorang budak milik Ummu Salamah, istri Rasulullah SAW.
Namun, setelah Rasulullah mengetahuinya, beliau memerdekakan Safinah. Meski telah bebas, Safinah tidak memilih untuk pergi dan mencari kehidupan lain. Ia justru berkata dengan penuh ketulusan,
“Aku akan tetap mengabdi di rumah Rasulullah.” Sejak saat itu, ia menjadi asisten rumah tangga di kediaman Nabi, melayani beliau dengan sepenuh hati.
Nama aslinya adalah Qais, dan ia berasal dari Persia. Namun Rasulullah memberinya nama baru — Safinah, yang berarti kapal. Nama itu lahir dari peristiwa yang sangat ajaib.
Suatu hari, Rasulullah bepergian bersama beberapa sahabat. Perjalanan itu jauh dan melelahkan, sedangkan para sahabat membawa banyak perbekalan.
Melihat kondisi itu, Rasulullah memanggil Qais dan memberikan selembar kain besar. Setelah kain itu dibentangkan, seluruh barang diletakkan di atasnya dan diikat menjadi satu. Kemudian Rasulullah tersenyum dan bersabda,
“Bawalah ini, wahai Qais. Sesungguhnya engkau seperti kapal di tengah lautan.”
Ajaibnya, Qais membawa seluruh beban itu dengan mudah tanpa merasa berat sedikit pun.
Para sahabat yang melihatnya kagum dan berkata, “Sungguh engkau layak dipanggil Safinah!”
Sejak saat itu, nama Safinah melekat padanya hingga akhir hayat.
Setelah Rasulullah wafat, Safinah tetap hidup dengan penuh keimanan dan kesetiaan terhadap ajaran beliau. Suatu waktu, ia berlayar menyeberangi lautan. Namun, kapal yang ditumpanginya pecah diterpa badai.
Safinah berusaha menyelamatkan diri dengan berpegangan pada potongan papan sisa kapal.
Beberapa waktu kemudian, ia terdampar di sebuah pulau terpencil.
Dengan tubuh lemah dan pakaian basah, Safinah berjalan menyusuri hutan mencari jalan keluar. Tiba-tiba, dari balik pepohonan, muncul seekor singa besar. Binatang itu mengaum keras, seolah siap menerkam.
Namun Safinah tidak panik. Dengan keyakinan penuh, ia menatap singa itu dan berkata dengan tenang: "Wahai Abu Harits, aku adalah mantan pembantu Rasulullah.”
Ajaibnya, begitu mendengar nama Rasulullah, singa itu menundukkan kepala. Ia mendekat dengan lembut, lalu mendorong bahu Safinah seolah ingin menunjukkan arah.
Singa itu menjadi penuntun jalan, mengiringi Safinah hingga keluar dari hutan menuju pemukiman manusia. Setelah itu, singa tersebut berbalik dan mengaum sekali, seperti memberikan salam perpisahan, lalu perlahan menghilang ke dalam pepohonan.
Kisah Safinah mengajarkan kepada kita bahwa siapa pun yang mengabdi dengan tulus kepada Rasulullah akan dimuliakan oleh Allah dengan cara yang luar biasa. Bahkan makhluk buas pun tunduk, ketika mendengar nama beliau yang agung.
Safinah bukan sahabat besar di medan perang, bukan pula ulama yang dikenal karena ilmunya,
tetapi ia dihormati oleh langit dan bumi karena ketulusannya mengabdi kepada Nabi.
Dari kisah ini, kita belajar bahwa setiap amal kecil yang dilakukan dengan cinta kepada Rasulullah akan menjadi besar di sisi Allah.
Karena kemuliaan bukan terletak pada kedudukan, tapi pada keikhlasan hati dalam mencintai dan melayani kebenaran.(sumber : muhammad nafi)
Bagikan