arrow_upward

Jenderal Inilah yang Mengubah Arah TNI

Kamis, 19 Februari 2026 : 23.53
Padang, Analisakini.id-Selama bertahun-tahun, satu anggapan keliru melekat kuat pada nama Adityawarman Thaha. Brigadir Jenderal TNI (Purn) asal Padang Japang, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat ini kerap disebut sebagai ahli bom lulusan Amerika Serikat. Label itu terdengar heroik, namun sejarah mencatat sesuatu yang jauh lebih penting dan visioner: ia adalah perintis keahlian komputer dan analisis data di tubuh TNI Angkatan Darat, pada masa ketika teknologi masih dianggap barang asing.

Meluruskan Fakta yang Terlupakan
Pendidikan militernya di Amerika Serikat memang tidak terbantahkan. Namun pada 1975, Adityawarman tidak dikirim untuk mempelajari bahan peledak atau persenjataan khusus. Ia justru menempuh pendidikan Computer Analyst Data Processing di Fort Benjamin Harrison, sebuah pusat pendidikan militer Amerika Serikat.

Pada era itu, komputer belum menjadi kebutuhan umum, bahkan di lingkungan militer. Keahlian analisis data yang ia kuasai menempatkannya sebagai salah satu perwira TNI Angkatan Darat pertama yang memiliki kompetensi teknologi informasi. Dari sinilah reputasinya dibangun, bukan sebagai ahli bom, melainkan sebagai arsitek pengelolaan data dan perencanaan strategis. Karier militernya kemudian berujung pada jabatan Staf Ahli Panglima TNI, posisi yang menuntut ketajaman analisis, bukan keberanian fisik semata.

Pengabdian Pasca Militer: Ekonomi dan Peradaban
Setelah purna tugas, Adityawarman tidak memilih hidup tenang tanpa kontribusi. Ia justru aktif membangun masyarakat Minangkabau melalui jalur organisasi. Ia dipercaya memimpin Gebu Minang (Gerakan Ekonomi dan Budaya Minang) pada periode 2001–2004, dengan fokus memperkuat ekonomi dan identitas budaya perantau Minang.

Jejak pengabdiannya juga terasa kuat di dunia pergerakan pemuda Islam. Sebagai alumni Pelajar Islam Indonesia, ia kemudian dipercaya memimpin Pengurus Pusat Perhimpunan Keluarga Besar PII pada 2011–2015. Dalam peran ini, ia dikenal sebagai figur yang menggabungkan disiplin militer, pemikiran modern, dan nilai keislaman.

Kembali ke Kampung, Menjaga Akar
Di masa senjanya, Adityawarman memilih “pulang”. Ia menetap kembali di Padang Japang dan mencurahkan perhatiannya untuk membangkitkan Pondok Pesantren Darul Funun El-Abbasiyah. Di lingkungan pesantren inilah, seorang pensiunan jenderal menjalani pengabdian terakhirnya: menjaga pendidikan, akhlak, dan masa depan generasi muda di kampung halaman.

Baginya, membangun karakter santri dan menjaga nilai agama sama pentingnya dengan menjaga kedaulatan negara. Tidak ada panggung, tidak ada sorotan, hanya kerja sunyi yang konsisten.

Akhir Pengabdian
Brigjen TNI (Purn) Adityawarman Thaha wafat pada 12 Juni 2019 di RSPAD Gatot Subroto setelah berjuang melawan penyakit jantung dan ginjal. Ia dimakamkan di TPU Tanah Kusir, diiringi penghormatan dari keluarga besar TNI, tokoh Minangkabau, serta para santri yang pernah merasakan sentuhan pengabdiannya.

Kisah hidup Adityawarman Thaha mengajarkan satu hal penting: kekuatan seorang prajurit tidak selalu diukur dari senjata dan ledakan, tetapi dari kecerdasan berpikir, keberanian meluruskan zaman, dan ketulusan mengabdi hingga akhir hayat. (sumber : fb desas desus cerdas)

#AdityawarmanThaha
#JenderalTNI
#TokohMinang
#SejarahMiliterIndonesia
#InspirasiBangsa
Bagikan

Terbaru

Copyright © Analisakini.id | Jernih Melihat - All Rights Reserved