Wakil Ketua DPRD Sumbar, Evi Yandri Rajo Budiman, saat sosialisasi Perda Nomor 9 Tahun 2018 pada masyarakat Kuranji, Selasa (26/8/2025) di Padang. (humasdprdsb)
PADANG, ANALISAKINI.ID—Jaringan narkoba meresahkan. Bahayanya tidak bisa lagi dianggap sepele. Di tengah berbagai upaya dilakukan pemerintah dan berbagai pihak lainnya, pengguna baru justru masih terus bermunculan.
"Bahkan sudah banyak kasus yang menjadi memakai
narkoba itu anak SD. Pelajar SMP dan SMA lebih banyak lagi. Termasuk orang
dewasa," ujar Wakil ketua DPRD Sumbar, Evi Yandri, Selasa (26/8/2025)
di salah satu restoran Kota Padang di kawasan Kuranji.
Hadir sebagai peserta masyarakat Kuranji, camat, lurah
sekecamatan Kuranji. Saat itu, dia tengah mensosialisasikan Perda Nomor 9
tahun 2018 tentang fasilitasi pencegahan penyalahgunaan narkotika, psikotropika
dan zat adiktif lainnya.
Menurut Evi, kini jenis narkoba sekarang beragam pula.
Sejak dulu yang diketahui masyarakat ada ganja, sabu, ekstasi, opium. Malah ada
yang berbentuk minuman dan makanan seperti permen. Obat-obatan pereda nyeri,
obat batuk yang dikonsumsi sekaligus banyak, lem, jamur kotoran sapi dan
lainnya.
"Ini efeknya sama seperti narkoba. Bisa merusak
organ, fisik, pikiran, kejiwaan dan mental," paparnya.
Untuk itu, Evi meminta semua peserta sosialisasi untuk
mengecek anggota keluarga masing-masing. Misalnya kalau sering stok obat batuk
atau obat pereda nyeri ini patut dicurigai dan dicek urinnya. Lihat juga gejala
dan perubahan sikapnya.
Paling utama lagi katanya, awasilah pergaulan anggota
keluarga. Terutama anak-anak. Hal ini dikarenakan tadi bahwa biasanya berawal
dari pemberian teman.
Hal ini dialami oleh penyintas narkoba, Rival yang
ikut dihadirkan Evi Yandri dalam kegiatan tersebut.
Rival, berumur 14 tahun dan berasal dari Pasaman. Ia
dijemput Evi Yandri dan Yayasan Pelita Jiwa Insani (YPJI) untuk direhabilitasi.
Saat dijemput ia dipasung orangtuanya karena gejala gangguan kejiwaan. Saat ini
Rival sedang menjalani rehabilitasi dan sudah terlihat perkembangannya lepas
dari narkoba.
"Pertama kali saya pakai ganja waktu kelas 6 SD.
Dikasih teman. Lalu ada lagi sabu, juga dikasih teman. Lalu saya mencuri motor
hp, untuk dipakai saja. Tidak dijual," kata Rival.
Dilanjutkan Evi, dampak narkoba dan permasalahan dalam
keluarga mempengaruhi psikologi dan kejiwaan Rival. Akhirnya mencuri untuk
alasan tak logis yakni ntuk dipakai sebentar saja tanpa dijual. Perilakunya
menjadi aneh lalu dipasung keluarga.
Bersama YPJI, Evi Yandri aktif untuk membantu
masyarakat yang ingin lepas dari narkoba melalui rehabilitasi. Sudah banyak
jumlah pasien direhabilitasi. Upaya ini ia harapkan akan membantu berkurangnya
jumlah penyalahgunaan narkoba di Sumbar.
YPJI yang berlokasi di Gunung Sarik Kuranji melakukan
rehabilitasi dengan tenaga medis profesional yang secara khusus didatangkan.
Sudah banyak masyarakat yang menghubungi atau datang demi meminta bantuan
anggota keluarga mereka agar lepas dari narkoba.
Dari teman
Ironisnya, sebagian besar pelaku penyalahgunaan
narkoba mendapatkan barang haram tersebut pertama kali dari teman. Hanya dua
persen dari pengedar. Untuk itulah peran aktif masyarakat dalam mengawasi
pergaulan anggota keluarga sangat penting dilakukan.
"Ya, ini sudah merupakan bukti kajian penelitian.
Sebanyak 88 persen itu mereka diajak atau diberi teman. Lalu gunakan narkoba
dan kecanduan. Hanya 2 persen yang dari pengedar. Sisanya dari apotik atau toko
obat yang disalahgunakan," ujar Kabid Ideologi Wasbang dan Karakter
Bangsa, Kesbangpol Sumbar, Donny R Saputra, nara sumber kegiatan sosper
tersebut.
Donny mengatakan, tindakan aktif seluruh pihak untuk
memberantas penyalahgunaan narkoba sudah menjadi kewajiban. Ini pun diatur
dalam perda. Apalagi mengingat jumlah penggunanya terus meningkat.
"Data 2020-2021 saja sudah 64 ribu orang di
Sumbar. Ini terus bertambah dari tahun ke tahun," katanya lagi.
Upaya penanganan penyalahgunaan narkoba, kata dia,
mesti dilakukan dari hulu hingga hilir. Ini pun telah diatur perda.
Mulai dari berupaya menutup pintu akses masuk
peredaran, penangkapan bandar dan pengedar, sosialisasi bahaya narkoba,
pengawasan hingga rehabilitasi.
"Saya mengajak semua pihak untuk melakukan apapun
yang bisa dilakukan untuk ikut mencegah penyalahgunaan narkoba. Awasi anggota
keluarga atau bisa tempel pamflet atau untuk lembaga bisa sosialisasikan. Bukan
hanya pemerintah, semakin banyak yang ikut serta maka tentu akan
bermanfaat," katanya lagi. (n-r-t)
