arrow_upward

Sah Nama Masjid Raya Sumbar, Syekh Ahamad Khatib Alminangkabawi

Senin, 08 Juli 2024 : 10.50
Gubernur Mahyeldi, Ketua MUI, Gusrizal Gazar, mantan gubernur Sumbar Irwan Prayitno, Gamawan Fauzi dan perwakilan keluarga Syekh Ahmad Khatib Alminangkabawi menekan tombol pembukaan tirai tanda pemberian nama Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Alminangkabawi Sumbar, Minggu (7/7).ist

Padang, Analisakini.id-Nama Syekh Ahmad Khatib Alminangkabawi resmi dilekatkan pada Masjid Raya Sumatera Barat, Minggu (7/7/2024). Prosesi peresmian dilangsungkan dihadapan 58 cucu dan cicit Syekh Ahmad Khatib Alminangkabawi yang datang langsung dari Arab Saudi ke Padang.

Peresmian nama tersebut ditandai penandatanganan prasasti oleh, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumbar, Gusrizal Gazahar, Penggagas Pembangunan Masjid Raya Sumbar, Gamawan Fauzi, Gubernur Sumbar periode 2010-2021 Irwan Prayitno, Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah dan Perwakilan Keluarga Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, Fatimah Fouad Alkhateeb.

Selain penandatanganan prasasti, peresmian nama masjid yang dinobatkan sebagai salah satu masjid dengan desain arsitektur terbaik dunia oleh Abdullatif Al Fozan Award for Mosque Architecture itu, juga ditandai dengan pembukaan selubung relief dengan nama Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Minangkabawi. Pada kesempatan itu juga diluncurkan buku tentang Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi karya Hasril Chaniago, serta penyerahan bantuan untuk korban bencana.

Hadir pada kesempatan peresmian nama Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi Sumbar pagi itu, Keluarga Besar Cucu dan Cicit Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, Mantan Gubernur Sumbar periode 2005–2009 Gamawan Fauzi, Mantan Gubernur Sumbar periode 2010-2021 Irwan Prayitno, Forkopimda, Ketua MUI Sumbar, Gsurizal Gazahar, Ketua  LKAAM Sumbar, Bundo Kanduang, Bupati dan Walikota, Rektor Perguruan Tinggi, ormas dan lainnya.

Perwakilan Keluarga Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, Prof Dr H Muhamamd Fida Bahjat mengucapkan terimakasih dan penghargaan atas nama keluarga besarnya kepada Gubernur Sumbar dan Mantan Gubernur serta segenap pimpinan Pemprov Sumbar dan lembaga ormas serta ulama di Sumbar.

“Saya gembira dan suka cita atas sambutan yang sangat hangat dan meriah ini. Ini menunjukkan  kemuliaan sangat tinggi terhadap tamu dan akhlak yang sangat mulia baik dari sisi pemerintah dan masyarakat. Mudah-mudahan jadi contoh bagi Umat Islam di seluruh dunia,” ucapnya.

Fida Bahjat mengungkapkan, dirinya telah mengenal Bangsa Indonesia sejak lama dan tokoh penting dari Indonesia di Mekkah dan negara-negara di dunia. Tokoh-tokoh ulama dari negeri ini telah menunjukkan kedalaman ilmu dan akhlak mereka.

Masjid di Sumbar menurutnya, memiliki fungsi yang efektif dan peranan mendidik masyarakat. Masjid sejak dulunya pusat penyebaran ilmu pengetahuan, pembinaan masyarakat, pengerahan tentara Islam saat terjadi invasi.

“Masjid juga menjadi titik tolak pengentasan kemiskinan di Sumbar. Menakjubkan, setelah zuhur di masjid ini ada event World Islamic Enterpreneur Summit (WIES) 2025 yang dihadiri menteri, dengan tema peranan masjid tingkatkan ekonomi masyarakat. Program pembangunan, pendidikan dan entrepreneurship penting untuk entaskan kemiskinan. Ini dicontohkan Nabi Muhammad dalam melaksanakan perdagangan untuk kemajuan umat,” tambahnya.

Gubernur Sumbar, Mahyeldi mengatakan apa yang telah dibangun oleh gubernur pendahulu, dirinya akan tetap melakukan dan sempurnakan. Dalam upaya membangun Sumbar, dirinya siap untuk berkontribusi menjadikan Sumbar terdepan dan untuk memberikan sumbangan yang besar dan terbaik untuk NKRI.

Masjid ini digagas Mantan Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi dan dituntaskan Mantan Gubernur Irwan Prayitno. “Hari ini diresmikan nama masjid ini. Mudah-mudahan dengan kita resmikan nama ini betul betul menghadirkan motivasi dan semangat bagi kita dan generasi di masa mendatang, untuk mewariskan tradisi keilmuan keulamaan dan tradisi kecerdasan yang dituangkan dalam Tungku Tigo Sajarangan, Tali Tigo Sapilin,” harapnya.

Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi di samping sebagai imam di Masjidil Haram, dari tulisan yang ada juga seorang mufti di Arab Saudi untuk Kerajaan Utsmaniyah di Turki. Artinya keberadaannya di Turki bukan sembarangan.

“Pendahulu kita, ulama terdahulu bukan hanya jadi tokoh nusantara tapi internasional. Ulama-ulama pendiri ormas besar juga berguru kepada Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi. Sumbar sebagai pejuang bukan hanya tatanan nasional tapi tatanan internasional,” terangnya.

Mahyeldi mengharapkan ketokohan dan keberhasilan pendahulu dengan dikukuhkannya menjadi nama masjid, menjadi semangat dan inspirasi generasi muda untuk berikan yang terbaik untuk Sumbar, Nasional dan dunia.

Ketua MUI Sumbar, Gusrizal Gazahar mengucapkan selamat datang kepada anak cucu dan cicit Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi. Di mana Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi merupakan tokoh ulama yang pemikirannya membawa perubahan pergerakan di Sumbar yang dibawa melalui pemikiran melalui murid-muridnya. Ini menurutnya merupakan saham yang tidak boleh dilupakan.

Gusrizal menambahkan, ide pemberian nama Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi ini bukan hanya pada saat ini. Dua tahun sempat tertunda. Gubernur Sumbar, Gamawan Fauzi yang menggagas ide ini mengamanahkan kepada MUI Sumbar. Baik itu terkait desain kubah masjid, atap dan terakhir persoalan masjid yang terus berkembang, yakni mencarikan namanya.

MUI Sumbar melakukan muzakarah. Sudah dari awal MUI Sumbar bicarakan nama untuk masjid ini. Ada usulan nama yang digunakan Buya Hamka, Syekh Sulaiman Arasulli, Syekh Parabek, Syekh M Jamil Jambek dan lainnya. Namun, jika dikaji semuanya seluruhnya ternyata semuanya murid Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi.

Bahkan, Pendiri Organisasi Terbesar Nahdatul Ulama (NU) Hasyim Asy’ari, dan Muhammadiyah Ahmad Dahlan ternyata berguru kepada Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi.“Jadi nama Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi diberikan pada tempat terbaik ini untuk menghargai kiprah beliau,” ungkapnya.

Dalam perjalanannya pada pertemuan kedua, di mana Ketua MUI Sumbar Syamsul Bahri Khatib melakukan seminar tahun 2012. Selain ulama juga diundang tokoh Sumbar, berbicara tentang siapa nama untuk Masjid Raya Sumbar ini. Karena Masjid Raya Sumbar baru sebatas tipologi masjid.

Dalam seminar itu juga berlabuh pada kesimpulan dengan nama Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi. Jadi setelah melalui seminar dan musyawarah, tidak ada keraguan MUI Sumbar memberikan nama yang tepat untuk Masjid Raya Sumbar dengan nama Tokoh Minang yang pernah menjadi Imam Besar Masjidil Haram itu.

Gusrizal menegaskan, pemberian nama Masjid Raya Sumbar butuh figur yang jadi motivator untuk melanjutkan langkah dakwah. Tidak ada pilihan yang lebih tepat dari menggunakan nama Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi.

“Dengan apa yang dilakukan Gubernur Sumbar sekarang, Mahyeldi Ansharullah yang telah meresmikan nama masjid ini, maka telah menuntaskan kerja yang terbengkalai. Butuh izin cucu dan cicit untuk memakai nama Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi. Semuanya telah dilakukan dan mendapat izin, hingga datangnya keluarga besar Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi hari ini,” terangnya.

Gusrizal juga menjawab polemik munculnya pendapat dari orang lain yang melarang mengubah nama Masjid Raya Sumbar tetapi cukup bangun saja masjid lain dengan nama Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi. Menurutnya, pendapat tersebut bagi orang yang tidak memahami makna dari proses yang cukup panjang dalam pemberian nama ini.

“Pemberian nama ini misi yang harus dituntaskan dan tidak boleh berhenti. Masjid dibangun tidak sebatas gedung tapi membawa misi gerakan pembaharuan yang dicanangkan oleh Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi,” tegasnya.

Gusrizal juga menyampaikan pesan kepada seluruh gubernur dan gubernur berikutnya, siapapun yang memimpin Sumbar. “Kita tidak hanya membangun masjid saja tapi peradaban Sumbar sesuai ABS-SBK,” tegasnya.

Mantan Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno menberikan apresiasi kepada Gubernur Sumbar saat ini, Mahyeldi Ansharullah yang telah melengkapi nama masjid yang kurang selama ini. “Ini menjadi hari yang begitu penting yakni pemberian nama masjid kebanggaan kita yang terindah di dunia ini,” ucapnya.

Tidak dipungkirinya, selama menjadi Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno mengatakan dirinya melaksanakan amanah Gubernur Sumbar sebelumnya Gamawan Fauzi, meneruskan proyek yang tertuang dalam RPJMD.

“Alhamdulilah semua program perencanaan di masa Pak Gamawan saya tuntaskan selama 10 tahun. Mulai dari pembangunan jalan Sicincin-Malalak, Fly Over Kelok Sembilan, pembangunan irigasi dan jalan-jalan di Sumbar. Semua dituntaskan dan semoga bermanfaat untuk masyarakat,” harapnya.

Diakui Irwan Prayitno, pembangunan Masjid Raya Sumbar ini membuat dirinya kewalahan, karena banyak anggaran yang disiapkan, mencapai Rp100 miliar. Bahkan jika ditotal lebih dari Rp500 miliar lebih. Namun semuanya berhasil dituntaskan.

“Dari program unggulan yang saya canangkan, terpinggirkan demi menuntaskan Masjid Raya ini. Kebaikan yang kita lakukan, sehingga dana Rp100 miliar lebih tidak sia-sia. Namun demikian, saya akui rencana pembangunan Islamic Centre dan desain awal Masjid Raya Sumbar ini tidak terbangunkan. Kondisi ini terjadi karena keterbatasan anggaran,” ungkapnya.

Mantan Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi mengatakan, ide pembangunan Masjid Raya ini karena terbatasnya masjid di Padang yang berada di jalur utama. 

“Coba cermati jalan di Padang, dari Alang Laweh sampai DPRD hanya ada satu masjid. Kita mengaku ABS-SBK tapi cerminannya masjid hanya ada satu di Padang Laweh. Karena itu harus ada di Sumbar yang melambangkan ABS-SBK. Tidak hanya Jam Gadang. Perlu diciptakan sesuatu yang baru yang jadi landmark-nya Sumbar.

Ide lain pembangunan masjid ini untuk gairahkan kehidupan beragama di Sumbar untuk meningkatkan keimanan. Selama ini tidak ada tempat yang luas untuk membangun masjid ini. Masjid ini dibangun di atas lahan bekas sekolah pertanian. “Kita butuh lokasi yang besar yang ada di pusat kota. Ini ditempatkan sebagai tempat masjid,” terangnya.

Untuk pembangunan masjid ini, diawali dengan menggelar lomba pencarian desain terbaik internasional. Tokoh Sumbar, Wisran Hadi yang nenjadi Ketua Sayembara. 

“Ada ratusan desain arsitektur yang masuk. Saya minta berikan lima terbaik. Salah satu yang masuk yang telah dibangun saat ini. Lalu saya menetapkannya. Banyak kritik terhadap kubah. Padahal hasil riset, 40 masjid tua di Sumbar, tidak lebih 4 masjid yang bergonjong. Tapi yang dimasalahkan gonjong. Orang Minang suka perdebatkan. Lalu didebatlah. Kita menjawab semua dan akhirnya bisa diterima konsep bagonjong,” terangnya.

Gamawan mengatakan, masjid yang telah berdiri saat ini belum final.  Gamawan mengungkapkan, dirinya meletakkan dasarnya, Mantan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno melaksanakan pembangunannya  dan Gubernur Sumbar Mahyeldi meresmikan. 

“Inilah bentuk kerberlanjutan dan sustainable pembangunan. Butuh kerja sama yang baik bukan berdiri sendiri agar pembangunan berkelanjutan. Saya tidak mengklaim karena saya hanya ide. Tapi pembangunan dilaksanakan gubernur berikutnya,” harap dia.

“Saya berpesan kepada Gubernur Mahyeldi agar sediakan APBD setiap tahun untuk melengkapi masjid ini untuk membangun Islamic Centre sehingga kawasan ini bergairah,” pesannya. (*)

Bagikan

Terbaru

Copyright © Analisakini.id | Jernih Melihat - All Rights Reserved