arrow_upward

Jadikan Budaya sebagai Jati Diri

Minggu, 10 Desember 2023 : 17.54

 

Pembicara seminar pelestarian warisan budaya, Otong Rosadi dan Edi Utama, memaparkan pandangannya dalam seminar yang dilaksanakan BPK III Sumbar. (ist)

PADANG, ANALISAKINI.ID--Pemajuan budaya bisa dilakukan dengan berbagai cara dan strategi. Tapi, upaya yang paling strategis adalah dengan menjadikan budaya sebagai jati diri, menjadi napas hidup sehari-hari.

Visi ini terungkap dalam Seminar Pelestarian Warisan Budaya: Penguatan Komunitas untuk Pemajuan Kebudayaan Tahun 2023 yang dilaksanakan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) III Sumbar, Minggu (10/12/2023) di Truntum Hotel, Padang. Pemajuan kebudayaan yang utama perlu dilandasi semangat untuk menjadikan budaya sebagai nilai-nilai hidup dan jati diri masyarakat pemilik budaya itu sendiri.

Pengamat sosial, Otong Rosadi dalam paparannya pada seminar BPK III Sumbar ini mengungkapkan, selama ini masyarakat, terutama yang tergabung dalam komunitas etnis terus menghidupkan budaya mereka. "Mereka melakukan pelestarian budaya sendiri-sendiri, sehingga budaya itu terus hidup," ujar Otong Rosadi.

Sumbar memiliki banyak komunitas etnis. Ada tiga komunitas etnis utama di daerah ini, yaitu Minangkabau, Mandailing, dan Mentawai. Ada juga komunitas etnis pendatang dari nusantara, bahkan dari luar. Komunitas-komunitas ini menurut Otong terus berbudaya, menciptakan karya, membuat ivent dan lain sebagainya. Jadi, secara semangat, komunitas ini sangat konsisten mempertahankan dan memajukan budayanya.

Dengan adanya dukungan, terutama dari pemerintah, komunitas ini menurut Otong bisa semakin kuat. "Komunitas etnis selama ini terus menjaga dan melestarikan budaya mereka. Bila didukung, mereka akan lebih dahsyat lagi," urai Otong Rosadi.

Dalam dukungan terhadap komunitas ini, Otong menekankan pentingnya pemerintah menempatkan di mana posisinya. Otong memuji visi BPK III Sumbar yang memposisikan diri sebagai pembina atau fasilitator. Sementara, kerja pemajuan kebudayaan diserahkan ke komunitas.
Budayawan Edi Utama di sisi lain menekankan juga esensi dukungan terhadap komunitas ini. Menurutnya, bila visi pemajuan budaya hanya sebagai tontonan, maka komunitas-komunitas nantinya hanya akan menjadi alat saja.

Menurut Edi, visi dan misi dalam pemajuan budaya itu harus diluruskan terlebih dahulu. Memajukan dan melestarikan budaya itu sederhana saja. Bila budaya dengan nilai-nilainya menjadi jati diri, maka pemajuan dan pelestarian itu akan terwujud.

Pemajuan budaya jangan hanya dilihat dari sisi produksi seni saja. "Untuk menggerakan komunitas adalah denggan menggali nilai-nilai kultural itu. Dari sisi seni atau budaya lainnya. Untuk merawatnya dengan menjadikan nilai-nilai budaya itu sebagai jati diri," urai Edi Utama.

Yang bisa dilakukan pemerintah untuk mendukung komunitas sangatlah banyak. Edi menyontohkan cara sederhana, dengan bantuan Pokir anggota dewan provinsi. Dalam hal sederhana dalam dukungan finansial, dengan mengalokasikan sebagian Pokir anggota dewan provinsi untuk pemajuan kebudayaan, itu sudah sangat besar dampaknya.

Tapi masalah, apakah visi itu ada pada pemegang kebijakan itu, terutama mereka yang berwenang mengurus budaya. "Kita tidak tahu persis bagaimana visi mereka," ujar Edi lagi.

Seminar pelestarian warisan budaya berbasis penguatan komunitas dilaksanakan BPK III Sumbar. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini terlebih dahulu dibuka oleh Kepala BPK III Sumbar, Undri. Seminar ini diikuti ratusan peserta mewakili berbagai komunitas di Sumbar. (zal)

 

 

Bagikan

Terbaru

Copyright © Analisakini.id | Jernih Melihat - All Rights Reserved