arrow_upward

Ketua DPRD Sumbar Dukung Produksi ‘Batik Braja’ Kolaborasi Tiga SMK, Punya Konsep Hulu ke Hilir

Minggu, 10 September 2023 : 18.47

 

Ketua DPRD Sumbar Supardi melihat langsung proses produksi ‘batik braja’ di salah satu SMK di Kota Padang, Jumat (8/9/2023) 


PADANG, ANALISAKINI.ID--Ketua DPRD Sumbar, Supardi meninjau dan mengapresiasi proses produksi hingga pemasaran 'Batik Braja' yang merupakan hasil kolaborasi tiga SMK di Kota Padang, yakni, SMK 4, SMK 8 dan  SMK 2, Jumat (8/9/2023). 

Bekerja sama dengan industri, yakni CV Novia, hingga saat ini ketiga sekolah tersebut terus memproduksi dan memasarkan batik dengan melibatkan alumni, siswa dan juga guru. 

Pada hari itu, Supardi datang langsung melihat proses pembuatan batik di sekolah-sekolah tersebut, mulai dari proses pencetakan desain batik di SMK 4. Lalu proses memindahkan desain ke kain dan penjahitan di SMK 8 hingga ke proses pemasaran di SMK 2. 

Kepala SMK 4, Sahfalevi mengatakan, ketiga sekolah ini ditetapkan sebagai sekolah yang mengikuti program pemerintah pusat yakni program SMK PK (Pusat Keunggulan). Program telah diikuti sejak 2022. Mengikuti program ini, ketiga sekolah mendapatkan bantuan dana dan juga sejumlah alat, yakni di antaranya alat cetak desain dan alat mesin pres yang berupa memindahkan desain batik ke kain. 

"Hingga saat ini,  Batik Braja telah memproduksi seragam batik untuk seluruh SMA dan SMK se Sumatera Barat. Ada pula pesanan dari dinas-dinas dan sejumlah pesanan lain. Kami berharap nanti pemasaran akan semakin luas. Baru-baru ini kami juga mendapatkan tawaran dari provinsi tetangga," ujarnya. 

Pasca meninjau ketiga SMK tersebut, Ketua DPRD Sumbar, Supardi amat mengapresiasi program ini. Ia mengatakan, program ini menerapkan konsep produksi dari hulu ke hilir.  Ia berkomitmen untuk memastikan pemerintahan provinsi  memberikan penguatan terhadap produk industri Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) agar bisa menjangkau pasar yang lebih luas. 

Supardi mengatakan, proses Batik Braja  menggunakan sistem hulu ke hilir. SMK 4 merupakan hulu dengan memproduksi dasar kain batik, semi hilirnya SMK 8 yang merancang kain batik hasil menjadi produk textile. Sementara untuk pemasaran dilakukan oleh SMK 2 sebagai hilirisasi.

"Konsep hulu ke hilir yang diterapkan perlu kita dukung, sehingga tiga sekolah ini bisa terus mengasah jiwa entrepreneur siswa yang bermanfaat untuk masa depan anak dan daerah," kata Supardi. 

Dia mengatakan, penanaman nilai-nilai entrepreneur merupakan sebuah proses, tidak ada jurusan kusus pada pendidikan formal untuk menumbuhkan jiwa itu. Namun lingkungan bisa menjadi salah satu faktor mengasah bakat alami seseorang (entrepreneurship-red). 

"Jadi, kolaborasi yang dilakukan oleh SMK 4 SMK 8 dan SMK 2 bisa dijadikan role mode untuk siswa sebagai bekal masa depan, sehingga saat lulus siswa bisa menerapkan proses-proses yang telah dilalui sebagai individu yang mandiri," katanya.

Dia mengungkapkan, produk yang dihasilkan oleh tiga SMK di Kota Padang pada bidang textile tidak kalah dengan  produk yang dihasilkan oleh industri besar. Jika diperkuat lagi, bukan tidak mungkin bisa merambah pasar internasional. Proses terus berjalan, ke depan produk SMK asal Sumbar diyakini bisa diperagakan pada expo-expo kelas dunia.

"Ke depan kita mendorong pemerintahan provinsi bisa memberikan perhatian lebih terhadap SMK-SMK yang ada, terutama yang memiliki potensi. Seperti SMK 2 Padang yang memiliki tempat pemasaran produk, kedepan kita akan jadikan SMK 2 sebagai pusat penjualan produk-produk SMK se Sumbar," katanya.

Dia mengatakan, jika seluruh produk SMK telah dipasarkan pada satu pintu, maka DPRD akan mendorong kerjasama-kerjasama dengan asosiasi yang ada, salah satunya ASITA. Nantinya akan  diarahkan wisatawan yang datang ke Sumbar mesti singgah untuk melihat dan membeli produk SMK.

" Tidak hanya produk textile, nantinya juga ada produk lainya seperti kuliner atau kerajinan lainya," katanya.

Dia mengatakan, DPRD juga akan melakukan penguatan terhadap SMK sesuai tugas pokok dan fungsi, selain anggaran, tentunya lulus an SMK tidak ada pola pikir untuk menjadi pekerja di dunia industri, melainkan bisa membuka lapangan kerja sendiri dan mengurangi beban pemerintah dalam menanggulangi pengangguran. 

"Pemerintah Provinsi Sumbar tengan menggalakkan program 100.000 entrepreneur, SMK merupakan garda terdepan untuk menyukseskan program itu," katanya.

Sementara itu, Novia Hertini seorang fashion designer yang juga owner CV.Novia bergerak pada bidang pakaian mengatakan batik lumpo merupakan usaha berbasis masyarakat di Kabupaten Pesisir Selatan yang bermitra pada CV yang dia pimpinan. 

Kemitraan itu telah berjalan sukses selama tujuh tahun, sehingga dijalankan lah program pemadanan dengan mengandeng tiga SMK ini. Dalam program padanan CV.NOVIA sebagai industri membantu SMK sebesar Rp 1,7 miliar. Hal ini merupakan salah satu bentuk CSR CV Novia melalui program pamadanan.

"Dengan program yang digagas maka tiga sekolah kejuruan juga mendapatkan bantuan dari kementerian terkait sebesar Rp 4 miliar. Tahun ini kita juga diberikan target untuk pasar yang jelas hingga branding produk yang dihasilkan, " katanya. (n-tt-rel)

 

Bagikan

Terbaru

Copyright © Analisakini.id | Jernih Melihat - All Rights Reserved