arrow_upward

Unand Kukuhkan Tiga Guru Besar dari Farmasi, Ini Nama-namanya

Senin, 21 November 2022 : 19.44
Tiga guru besar Unand dari Fakultas Farmasi bersama WR I dan Ketua Dewan Profesor Unand, Senin (21/11/2022) usai pengukuhan di convention hall kampus tersebut.(ist).

Padang, Analisakini.id-Universitas Andalas (Unand) mengukuhkan tiga guru besar dari Fakultas Farmasi, Senin (21/11/2022) di convention hall kampus tersebut.

Adapun ketiga guru besar ini, yaitu Prof. Erizal Zaini dalam bidang ilmu Farmasetika, Prof. Yufri Aldi dalam bidang ilmu Farmakologi dan Prof. Elidahanum Husni dalam bidang ilmu Farmakognosi.

Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Erizal membahas soal rekayasa kristal Bahan Aktif Farmasi (BAF) untuk meningkatkan kelarutan dan laju disolasi.

Dia menyebut, sekitar 40 persen BAF yang beredar di pasaran dan lebih kurang 70 persen kandidat BAF yang sedang diteliti dan dikembangkan menjadi kandidat obat baru memiliki masalah dalam kelarutan dan laju disolusi.

"Dalam dua dekade ini, penelitian dan pengembangan bentuk padatan BAF melalui rekayasa kristal juga sangat pesat dilaporkan. Sejumlah perusahaan farmasi di dunia juga mulai menginvestasikan dana untuk pengembangan bentuk sediaan dengan teknik rekayasa kristal ini," kata Erizal.

Dalam risetnya tersebut, Erizal menyimpulkan, rekayasa kristal BAF melalui pembentukan fase kristal multi komponen merupakan salah satu strategi menarik untuk meningkatkan kelarutan dan laju disolusi BAF padat yang sukar larut air.

"Rekayasa kristal BAF berpeluang untuk memberi nilai tambah komersial bagi BAF dan memperpanjang umur hak ciptanya," katanya.

Selanjutnya, Prof. Yufri membahas tentang pemanfaatan tumbuhan Pegagan Embun untuk pencegahan infeksi virus Covid-19 melalui pendekatan imunomodulator.

Dari hasil penelitiannya, pria yang menamatkan S2-nya di ITB ini menyimpulkan, hasil riset pra-klinis dari ekstrak pegagan embun bersifat imunostimulan. Kemudian, ekstrak tanaman ini dapat digunakan untuk mencegah infeksi virus Covid-19 dan aman untuk jaringan hati dan ginjal.

"Saran saya, perlu dirancang bentuk sediaan yang efektif dan aman sehingga mudah digunakan sehari-hari. Penelitian ini masih berlanjut pada penelitian tahap klinis dan semoga memberi hasil yang bermanfaat," katanya.

Kemudian, Prof. Elidahanum dalam orasi ilmiahnya meneliti kandungan kimia minyak aktris dari jeruk nipis, sundai, purut dan kasturi, serta aktivitas antibakterinya.

"Orasi ini menggambarkan perhatian saya terhadap pengembangan obat dari bahan alam, sehingga dapat memberi nilai tambah sumber daya alam untuk kesejahteraan masyarakat," kata Elida.

Dari hasil penelitiannya, juga didapatkan kesimpulan bahwa bobot jenis dari minyak atsiri kulit buah dan daun jeruk kasturi yang didapatkan telah memenuhi rentang dari karakteristik bobot jenis minyak atsiri, yaitu 0,8 sampai 1,17.

"Dari hasil yang didapat, minyak atsiri dari daun dan kulit buah jeruk kasturi cukup potensial dijadikan sebagai antibakteri," katanya.

Usai orasi ilmiah ketiga guru besar, Prof. Helmi selaku Ketua Dewan Profesor Unand mengatakan, atas penelitian yang dilakukan ini diharapkan jadi pencerahan bagi masyarakat dan bermanfaat untuk kepentingan kemanusiaan.

"Paten yang dihasilkan ini semoga kedepannya dapat dikomersialkan," kata Helmi.

Sementara itu, Rektor Unand melalui Wakil Rektor I, Mansyurdin menyampaikan hingga tahun ini Unand memiliki 157 guru besar, dari total jumlah dosen 1.506 orang.

"Persentase guru besar Unand sekitar 10,42 persen dari total keseluruhan dosen. Ini sudah memenuhi target Unand sebagai kampus PTN-BH," katanya.

Dia mengatakan, dengan adanya hasil riset dari para guru besar yang dikukuhkan ini akan dapat menjadi solusi dan peningkatan pemanfaatan sumber daya alam. 

"Seperti halnya permasalahan obat sirup sekarang ini, maka apa yang disampaikan Prof. Erizal soal rekayasa kristal BAF bisa menjadi solusi dan berpeluang dipatenkan," kata Mansyurdin. (***)



Bagikan

Terbaru

Copyright © 2020 Analisakini.id | Jernih Melihat - All Rights Reserved