arrow_upward

Alhamdulillah, Desain Arsitek Masjid Raya Sumbar Dinobatkan Terbaik di Dunia

Senin, 20 Desember 2021 : 20.44

 

Masjid Raya Sumbar.

Padang, Analisakini.id-Alhamdulillah, kebanggaan bagi Sumatera Barat. Soalnya Masjid Raya Sumbar yang menjadi mesjid kebanggaan urang Minang dinobatkan sebagai pemenang penghargaan Abdullatif Al-Fozan untuk arsitektur mesjid terbaik di dunia. Desain arsitektunya yang istimewa dan menarik menjadi penilaian khusus dari panitia dari enam mesjid lainnya. 

Dilansir dari iqna.ir, penghargaan ini diumumkan dalam kompetisi internasional ketiga di Madinah, Arab Saudi, Senin (20/12/2021). 

Penghargaan Abdullatif Al Fozan untuk Arsitektur Masjid membahas ide-ide baru untuk desain masjid di seluruh dunia dan mendorong inovasi dalam perencanaan, desain, dan teknologi yang dapat membentuk identitas arsitektur masjid di abad kedua puluh satu.

Ada empat kategori yaitu masjid pusat, masjid Jam', masjid lokal dan masjid komunitas. Motto dari penghargaan ini adalah "Arsitektur Masjid di 21st Century".

Sebanyak 201 masjid di 43 negara telah dinominasikan untuk penghargaan internasional, 27 di antaranya terpilih dan akhirnya tujuh diumumkan sebagai pemenang utama.

Berikut tujuh pemenang edisi ketiga masjid dengan desain arsitektur terbaik yaitu:

1) Masjid Raja Abdullah di Riyadh

2) Masjid Basuna di desa Basuna Sohag Mesir

3) Masjid Al-Ahmar di Bangladesh

4) Masjid Raya Sumatera Barat di Indonesia

5) Masjid Sancaklar di Buyukcekmece Istanbul Turki

6) Masjid Amir Shakib Arslan di Lebanon

7) Masjid Agung Djenne di Mali

Sultan bin Salman bin Abdulaziz, penasihat raja Saudi dan anggota dewan pengawas penghargaan menggarisbawahi pentingnya memperhatikan masjid dan arsitekturnya serta peran mereka dalam pembangunan di komunitas lokal.

"Ini menjadi kebanggan tersendiri bagi kita. Menjadikan masjid Raya Sumbar dengan arsitektur nomor satu dunia,"sebut Kepala Biro Adminitrasi Pimpinan Setdaprov Sumbar, Hefdi menyikapi penghargaan tersebut.

Masjid Raya Sumatera Barat dibangun di atas lahan seluas 40 ribu meter persegi, dengan luas bangunan mencapai 18 ribu meter persegi, Masjid Raya Sumatera Barat merupakan karya dari arsitek Rizal Muslimin. Ia adalah pemenang dari sayembara arsitektur yang diikuti oleh 323 arsitek dari berbagai negara.

Uniknya, tak seperti masjid pada umumnya, Masjid Raya Sumatera Barat justru tak memiliki kubah, melainkan hanya memiliki atap khas budaya Minangkabau. Bagian atapnya memiliki desain Rumah Gadang dengan empat sudut lancip, sedangkan bangunannya berbentuk gonjong.

Makna lainnya, atap masjid sebenarnya menggambarkan bentuk bentangan kain yang digunakan untuk mengusung batu Hajar Aswad, ketika empat kabilah suku Quraisy di Mekah berselisih pendapat mengenai siapa yang berhak memindahkan batu tersebut ke tempat semula setelah kabah selesai direnovasi. Nabi Muhammad SAW kemudian mengusulkan agar Hajar Aswad diletakkan di atas selembar kain agar masing-masing dari empat kabilah tersebut dapat mengangkatnya bersamaan.

Namun, terlepas dari makna di balik atap masjid, ternyata Masjid Raya Sumatera Barat dirancang khusus untuk tahan terhadap gempa bumi hingga 10 magnitudo. Masjid Agung Sumatera Barat juga bisa digunakan untuk shelter atau lokasi evakuasi bila sewaktu-sewaktu terjadi bencana.

Pembangunan masjid itu digagas di masa Sumbar dipimpin Gamawan Fauzi dan peletakan baru pertama dilakukan pada 21 Desember 2007. Dilanjutkan oleh Gubernur Marlis Rahman, lalu Gubernur Irwan Prayitno. Masjid ini akan memiliki tiga lantai yang diperkirakan dapat menampung sekitar 20.000 jamaah, yakni sekitar 15.000 jamaah di lantai dasar dan selebihnya di lantai dua dan tiga.

Masjid ini dibangun di lahan seluas sekitar 40.000 meter persegi dengan luas bangunan utama kurang dari setengah luas lahan tersebut, yakni sekitar 18.000 meter persegi, sehingga menyisakan halaman yang luas. Di halaman tersebut akan dibuat pelataran, tempat parkir, taman, dan tempat evakuasi bila terjadi tsunami (shelter).

Pengerjaan pembangunan masjid ini dilakukan oleh PT.Total Bangun Persada dalam beberapa tahap. Tiga tahap pertama telah selesai dikerjakan, mulai dari pekerjaan persiapan, pengerukan tanah, dan pemasangan struktur bangunan, kemudian dilanjutkan dengan pengerjaan ruang salat dan tempat wudu, hingga pemasangan keramik pada lantai dan ukiran sekaligus kaligrafi pada dinding bagian luar (fasad). Tiga tahap pembangunan tersebut masing-masing menghabiskan biaya Rp103,871 miliar (2008 dan 2009), Rp.15,288 miliar (2010), dan Rp31 miliar (2011).

Sejak 2012 pelaksanaan pembangunan masjid ini dilakukan dengan sistem tahun jamak. Pada pertengahan 2012, pengerjaan pembangunan telah memasuki tahap keempat. Pada tahap tersebut telah dikucurkan anggaran sebesar Rp. 25,5 miliar untuk menyelesaikan pengerjaan shelter dan tempat parkir, yang ditargetkan selesai pada akhir 2012. 

Selanjutnya pada 2013 dilanjutkan dengan pembangunan lanskap dan pemasangan kubah. Pada 2014  dibangun empat menara masing-masing setinggi 100 meter. Pembangunan ini menghabiskan total anggaran Rp256 miliar.

Pada 2016, saat Sumbar dipimpin Pj. Gubernur Reydonnyzar "Donny' Moenek, juga mendapat tambahan dana dari provinsi tetangga. Saat itu Donny menjabat Dirjen Bina Keuangan Daerah Kemendagri yang salah satu tugasnya mengevaluasi APBD provinsi. Yaitu Papua, Jawa Barat dan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).(***)

Bagikan

Terbaru

Copyright © 2020 Analisakini.id | Jernih Melihat - All Rights Reserved