arrow_upward

Ini Perjalanan Karier Pramono Edhie Wibowo

Saturday, 13 June 2020 : 22:17

Jakarta, AnalisaKini.id-Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Pramono Edhie Wibowo wafat di usia 65 tahun. Dia menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Cimacan, Jawa Barat, pada Sabtu (13/6/2020) malam.

Kabar meninggalnya Pramono disampaikan politisi Demokrat Rachland Nashidik di Jakarta, Sabtu (13/6/2020).

"Innalillahi wainailaihi rojiun, telah meninggal dunia malam ini Bpk Pramono Edhie Wibowo di RS Cimacan," kata Rachland.

Informasi yang Rachland terima, adik kandung dari istri mantan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), almarhumah Kristian Herawati atau Ani Yudhoyono itu meninggal akibat serangan jantung.

Berikut perjalanan karier Pramono dikutip dari berbagai sumber.

Jenderal TNI (Purn) Pramono Edhie Wibowo, lahir di Magelang, Jawa Tengah, Indonesia, 5 Mei 1955. Dia mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pada 2011, menggantikan Jenderal TNI George Toisutta.

Pramono pernah menjabat sebagai Panglima Kostrad dan sebelumnya  Pangdam III Siliwangi.

Ayahnya, Letjen TNI (Purn.) Sarwo Edhie Wibowo, juga merupakan mantan Komandan RPKAD yang turut andil dalam penumpasan pemberontakan G 30 S/PKI.

Pada Mei 2013, karena ia telah memasuki masa pensiun, posisinya sebagai KSAD digantikan oleh Letjen TNI Moeldoko.

Pramono Edhie Wibowo merupakan lulusan Akademi Militer pada tahun 1980, Pramono Edhie ditunjuk sebagai Komandan Pleton Grup I Kopassandha. Setelah menjadi perwira Operasi Grup I Kopassandha pada  1981, pada 1984 Pramono ditunjuk sebagai Komandan Kompi 112/11 grup I Kopassandha.

Pada 1995, Pramono menempuh Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad). Setahun kemudian, Pramono menjabat  Perwira Intel Operasi grup I Kopassus. Bernaung dalam tenda Kopassus, Pramono kemudian menjabat sebagai wakil komandan Grup 1/Kopassus pada tahun 1996, dan terpilih menjadi Komandan Grup 1/Kopassus dua tahun kemudian.

Karier Pramono terus berkembang setelah reformasi  bergulir. Apalagi Megawati Soekarnoputri terpilih sebagai Presiden menggantikan Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Pramono terpilih menjadi Ajudan Presiden Megawati Soekarnoputri pada 2001. Pada tahun yang sama, Pramono menempuh Sekolah Staf dan Komando Tentara Nasional Indonesia (Sesko TNI), dan kemudian menjabat sebagai Perwira Tinggi Staf Ahli Bidang Ekonomi Sesko TNI 2004.

Karier Pramono terus meningkat, sehingga dia menjadi Wakil Danjen Kopassus pada 2005, Kepala Staf Kodam IV/Diponegoro pada  2007, dan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD pada  2008 hingga  2009. Pada  2009, Pramono menjabat sebagai Pangdam III/Siliwangi serta ditunjuk menjadi Panglima Kostrad (Pangkostrad) pada  2010.

Pensiun dari dunia militer, dia masuk ke dunia politik, bergabung dengan Partai Demokrat dan menjadi salah satu anggota Dewan Pembina partai sejak Juni 2013.

Pramono Edhie Wibowo juga menjadi salah satu kandidat peserta Konvensi Capres Partai Demokrat bersama 10 orang kandidat lainnya.

Kesepuluh peserta konvensi lainnya adalah Hayono Isman, Marzuki Alie, dan Sinyo Harry Sarundajang yang merupakan kader partai. Ali Masykur Musa, Anies Baswedan, Dahlan Iskan, Dino Patti Djalal, Gita Wirjawan, Irman Gusman dan Endriartono Sutarto yang berasal dari luar partai. Ia dan Endriartono merupakan peserta yang berasal dari latar belakang militer.

Pada 16 Mei 2014, Partai Demokrat mengumumkan hasil Konvensi Capres, Pramono Edhie Wibowo menempati posisi kedua setelah Menteri Badan Usaha Milik Negara, Dahlan Iskan.

Saat sang kakak, Ani Yudhoyono sakit dan dirawat di rumah sakit di Singapura, sekitar Mei 2019, Pramono pun bersedia mendonorkan sumsum tulang belakangnya demi kesembuhan sang kakak.

Tetapi staf dokter yang menangani kondisi kesehatan mantan Ibu Negara Ani Yudhoyono, ketika itu (Dokter Terawan Agus) memberikan  alasan soal donor sumsum tulang belakang yang rencananya akan diberikan oleh Pramono Edhie Wibowo.

Dilansir oleh Kompas TV, Dokter Terawan mengatakan memang sebelumnya ada upanya donor tulang sumsum belakang yang akan diberikan untuk Ani. Namun, rencana tersebut belum terealisasi karena perjalanan penyakit dari Ani, Sabtu (1/6/2019).

"Kalau perencanaannya sesuai artinya sesuai dengan schedule, jadwal yang baik ya tentunya itu bisa diberikan donornya, namun perjalan penyakit yang tidak memungkinkan untuk dilangsungkan pendonoran," tambahnya.

Diberitakan sebelumnya, anak Ani Yudhoyono, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sempat membenarkan  Pramono Edhie menjadi pendonor sumsum tulang belakang, Rabu (27/3/2019).

Saat itu, Pramono Edhie dinilai memiliki 8 kesamaan parameter darah yang dibutuhkan untuk transplantasi sumsum tulang belakang.

"Yang pasti, delapan parameter darah yang dibutuhkan dokter ada di adik Ibu Ani Yudhoyono," ujar AHY, Rabu (27/3/2019) pada kompas.com.

Namun, hingga Ani Yudhoyono meninggal dunia pada Sabtu (1/6/2019), sumsum tulang belakang tersebut belum jadi didonorkan.

Hampir setahun lebih berpulangnya sang kakak, Sabtu (13/6/2020) sang adik menyusul. Selamat jalan sang jenderal. (***)
Bagikan

Saat ini 0 komentar :

Terbaru

Copyright © 2020 Analisakini.id | Baca Dulu Baru Komentar - All Rights Reserved