arrow_upward

Agar Sumbar tak Tertinggal, Segera Lakakan Percepatan Investasi

Rabu, 15 April 2026 : 19.51

 

Kepala BP BUMN Dony Oskaria, Gubernur Mahyeldi serta para bupati dan wali kota se-Sumbar, lakukan pertemuan di Jakarta, Rabu (15/4/2026), membahas percepatan investasi di daerah ini.

JAKARTA, ANALISAKINI.ID--Pertemuan antara COO Danantara sekaligus Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, dengan Gubernur Mahyeldi serta para bupati dan wali kota se-Sumbar di Jakarta, Rabu (15/4/2026), memusatkan perhatian pada agenda besar percepatan investasi. Jika tidak dilakukan, Sumbar diprediksi akan stagnan.

Pembahasan mencakup hilirisasi kelapa dan gambir, akuisisi pabrik kelapa. Kemudian pengembangan kawasan kuliner tematik, penguatan pariwisata, hingga dukungan terhadap proyek infrastruktur strategis. Investasi sebagai kata kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Sumbar yang dinilai masih tertahan di atas kertas.

Dalam forum itu, Dony menegaskan, percepatan investasi diperlukan agar Sumbar tidak tertinggal dalam pertumbuhan ekonomi regional. Pertumbuhan ekonomi Sumbar pada 2025 melambat ke 3,4 persen, sementara investasi dinilai belum masuk optimal ke sektor-sektor produktif. Karena itu, kata Dony, perlunya penguatan hilirisasi, pembukaan akses infrastruktur dan penciptaan ekosistem investasi yang lebih pasti.

 

Industri kelapa dan gambir

Salah satu fokus pembahasan, pengembangan industri kelapa yang segera digarap Danantara. Dony menyebut peluang bisnis kelapa sangat besar dan mendorong penyiapan lokasi awal serta model bisnis yang pada tahap awal menyerap pasokan dari masyarakat. 

Setelah itu, pengembangan diarahkan menuju pola korporasi dan plasma agar skala usaha membesar dan pasokan bahan baku untuk pabrik lebih terjamin. Ia juga menyebut perlunya peremajaan kebun kelapa yang sudah tua serta kemungkinan menarik plantation berskala besar.

Komoditas gambir juga masuk dalam pembahasan penting pertemuan itu. Dalam rapat, muncul target pengembangan industri gambir di Limapuluh Kota, Pasaman dan Pesisir Selatan. Ini, dengan pendekatan bertahap melalui proyek percontohan lebih dahulu. Nilai investasi awal yang disebut mencapai sekitar Rp500 miliar. Pembahasan ini sejalan dengan arah besar materi investasi Sumbar yang menempatkan agro-processing dan hilirisasi komoditas unggulan sebagai salah satu mesin pertumbuhan baru daerah.

Selain itu, rapat juga membahas rencana akuisisi pabrik yang sedang pailit melalui mekanisme lelang kurator. Disebut adanya rencana membawa mitra dari Tiongkok untuk mendukung proses akuisisi sekaligus pengembangan pabrik setelah diambil alih. Skema ini dipandang sebagai jalan cepat untuk menghidupkan kembali aset industri yang sudah ada, sambil memperkuat basis hilirisasi di daerah.

 

Pariwisata

Pada sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, pertemuan itu juga menyinggung rencana penataan pusat kuliner malam tematik di 50 Kota. Konsepnya bukan sekadar sentra kuliner biasa, melainkan kawasan yang ditata dengan desain yang lebih rapi, beridentitas, dan diarahkan menjadi magnet wisata lokal.

Gagasan ini terhubung dengan strategi Pemprov Sumbar yang juga mendorong pengembangan kawasan unggulan pariwisata, termasuk Mentawai dan Mandeh, sebagai bagian dari portofolio investasi daerah.

 

Infrastruktur

Di bidang infrastruktur, rapat menyoroti proyek jalan tol sebagai salah satu penentu percepatan pertumbuhan ekonomi. Dalam materi resmi, Tol Padang–Pekanbaru disebut sebagai proyek strategis yang penting untuk menurunkan biaya logistik dan membuka konektivitas antara Sumbar dan Riau.

Pada rapat itu, juga dibahas kalkulasi investasi besar, termasuk biaya operasional dan pemeliharaan pasca-konstruksi, serta opsi trase dengan atau tanpa terowongan. Dalam dokumen presentasi, seksi Sicincin–Pangkalan ditempatkan sebagai prioritas strategis, sementara kebutuhan pembiayaan juga disebut dapat melibatkan Danantara.

Pertemuan itu turut membahas pengembangan Pelabuhan Teluk Tapang, geothermal, hilirisasi sawit, industri jagung, hingga reaktivasi ekonomi kawasan wisata. Dalam dokumen Pemprov Sumbar, Teluk Tapang disebut strategis untuk memangkas biaya logistik, terutama bagi komoditas sawit dari Pasaman Barat. Sementara itu, potensi geothermal dan kawasan ekonomi khusus pariwisata juga ditawarkan sebagai ruang investasi baru yang bisa mendorong pertumbuhan jangka menengah dan panjang.

Dony dalam rapat tersebut juga menekankan bahwa investasi yang masuk ke Sumbar, harus memberi dampak nyata bagi daerah. Karena itu, ia mendorong keterlibatan tenaga kerja lokal, kontraktor lokal, serta pencatatan badan usaha di Sumbar agar efek ekonominya tidak bocor keluar. Menurutnya, investasi tidak cukup hanya hadir di atas kertas, tetapi harus benar-benar membuka lapangan kerja, memperbesar daya beli masyarakat, dan menambah penerimaan daerah.

Secara keseluruhan, pertemuan di Jakarta itu memperlihatkan upaya menyatukan agenda pemerintah daerah dengan skema investasi nasional yang kini didorong Danantara dan BP BUMN. Hilirisasi komoditas, pembenahan infrastruktur, pengembangan pariwisata, dan penataan ekosistem investasi menjadi benang merah pembicaraan. Namun, sebagian poin yang muncul dalam rapat masih berada pada tahap penjajakan, perhitungan awal, dan penyiapan model bisnis, sehingga realisasi akhirnya akan sangat ditentukan oleh kesiapan lahan, kepastian regulasi, serta tindak lanjut teknis di lapangan.

 

Paparan Gubernur

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi menegaskan, investasi kunci utama untuk keluar dari stagnasi pertumbuhan ekonomi daerah. Ia menyatakan pertumbuhan ekonomi diprediksi 7 persen pada 2029.

Dalam paparannya, Mahyeldi memulai dari diagnosis yang tegas. Ia menyebut kapasitas fiskal daerah sangat terbatas, struktur ekonomi masih bertumpu pada konsumsi, sementara investasi dan penyerapan tenaga kerja belum optimal. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi sulit melompat.

Diperlukan langkah terobosan melalui penguatan investasi dan transformasi ekonomi menjadi garis besar yang ia dorong dalam forum itu. 

Mahyeldi juga mengungkap persoalan mendasar lain: investasi yang masuk selama ini belum cukup menciptakan efek berganda di daerah. Karena itu, ia menekankan pentingnya perubahan pendekatan—dari sekadar menawarkan potensi menjadi memastikan eksekusi.

Dalam presentasinya, ia bahkan menegaskan, daya tarik utama investasi bukan lagi potensi, melainkan kepastian sistem dan kepemimpinan daerah dalam mengeksekusi proyek. 

Gubernur kemudian memaparkan arah besar strategi investasi Sumbar ke depan. Pertama, penguatan sektor unggulan berbasis sumber daya lokal, seperti pertanian dan perkebunan melalui hilirisasi. Kedua, pengembangan energi terbarukan, terutama panas bumi yang tersebar di sejumlah titik dengan potensi besar namun belum tergarap maksimal.

Ketiga, pembangunan infrastruktur dan konektivitas sebagai tulang punggung ekonomi. Dalam hal ini, proyek Tol Padang–Pekanbaru menjadi prioritas utama untuk membuka isolasi wilayah dan menurunkan biaya logistik. 

Mahyeldi juga menawarkan portofolio investasi yang lebih luas, mulai dari reaktivasi jalur kereta api, pengembangan kawasan wisata unggulan seperti Mentawai dan Mandeh, hingga pembangunan kawasan industri dan pariwisata terintegrasi.

Di sektor pariwisata, ia menekankan potensi besar yang belum tergarap maksimal. Kawasan ekonomi khusus (KEK) Mentawai dan Mandeh disiapkan sebagai magnet investasi berbasis wisata bahari dan resort kelas internasional. 

Tak hanya itu, konsep “Sumatera Barat Hijau” juga menjadi bagian dari tawaran investasi. Pemerintah daerah menyiapkan peta jalan pembangunan berkelanjutan 2025–2029, yang menggabungkan pertumbuhan ekonomi dengan prinsip lingkungan dan energi bersih.  Namun, di balik semua potensi itu, Mahyeldi mengakui masih ada hambatan klasik. Mulai dari persoalan lahan, regulasi, hingga kepastian perizinan. Karena itu, ia menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mempercepat proses perizinan, memastikan lahan “clean and clear”, serta hadir sebagai problem solver bagi investor. 

Menanggapi paparan tersebut, Dony Oskaria menyatakan kesiapan mendorong investasi melalui skema Danantara dan BUMN.

Ia memaparkan sejumlah rencana konkret, mulai dari pengembangan industri kelapa dengan pola plasma, akuisisi pabrik pailit melalui lelang kurator, hingga pengembangan industri gambir dengan investasi awal ratusan miliar rupiah. (kj)

Bagikan

Terbaru

Copyright © Analisakini.id | Jernih Melihat - All Rights Reserved