![]() |
| Kondisi pasukan TNI yang bertugas sebagai UNIFIL kala diserang militer Zionis Israel (IDF) di Naquora, Lebanon Selatan, Kamis (10/10/2024) pagi waktu setempat.(foto: republika.co.id) |
Beirut, Analisakini.id- Israel dilaporkan melakukan serangan terhadap pangkalan penjaga perdamaian PBB yang berisi pasukan Indonesia di Lebanon selatan pada Ahad (29/3/2026). Sementara seorang anggota kontingen pasukan perdamaian dilaporkan gugur terkena serpihan rudal.
Pasukan Indonesia diserang di pangkalan di Aadshit al-Qusayr, di distrik Marjayoun, di selatan, lapor Kantor Berita Nasional Lebanon. Penyiar Al Jadeed News melaporkan bahwa ada korban jiwa dan helikopter sedang mengangkut korban luka.
Seorang tentara Indonesia terkonfirmasi gugur dalam serangan ke markas UNIFIL di Lebanon selatan pada Ahad. Sementara satu tentara lainnya dalam kondisi kritis.
Dari informasi yang diperoleh Republika dari Lebanon, jenazah anggota TNI yang gugur belum dievakuasi dan masih berada di pos UNIFIL di Marjayoun, Lebanon. Sementara seorang yang terluka disebut dalam kondisi kritis. Yang bersangkutan dirawat di RS St George Beirut.
Belum ada keterangan resmi dari Mabes TNI terkait informasi ini. Namun Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) telah mengonfirmasi gugurnya tentara Indonesia. Tiga prajurit lainnya juga mengalami luka-luka dalam serangan itu.
“Indonesia mengecam sangat keras insiden tersebut dan menyerukan dilakukannya penyelidikan yang menyeluruh dan transparan atas peristiwa tersebut,” begitu kata Juru Bicara Kemenlu Yvonne Mewengkang kepada Republika di Jakarta, Senin (30/3/2026).
Ia menyatakan belum ada kepastian pihak militer mana yang melakukan penyerangan tersebut. “Serangan artileri tidak langsung mengenai posisi kontingen Indonesia yang berada di dekat Adchit al-Qusayr,” begitu kata Yvonne.
Dari laporan yang diterima, peristiwa itu terjadi di tengah pertempuran antara pasukan bersenjata di kawasan Lebanon selatan, dengan militer penjajah Zionis Israel. Meski begitu, kata Yvonne serangan artileri tidak langsung yang mengenai prajurit perdamaian dari Indonesia itu tetap tak dapat diterima
Kandice Ardiel, juru bicara Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL), telah mengkonfirmasi bahwa beberapa penjaga perdamaian terluka setelah ledakan di posisi PBB di Lebanon selatan.
“Sebuah proyektil meledak malam ini di lokasi UNIFIL dekat Adshit al-Qusayr, mengakibatkan sejumlah penjaga perdamaian terluka,” kata Ardiel seperti dikutip Kantor Berita Nasional Lebanon.
Ia kemudian mengatakan bahwa insiden itu menewaskan seorang tentara. "Seorang penjaga perdamaian gugur secara tragis tadi malam ketika sebuah proyektil meledak di posisi UNIFIL dekat Adchit Al Qusayr,” katanya, seraya menambahkan bahwa seorang lainnya “terluka parah”.
"Kami tidak mengetahui asal muasal proyektil tersebut. Kami telah melakukan penyelidikan untuk mengetahui semua keadaannya."
Insiden ini menggarisbawahi meningkatnya risiko yang dihadapi pasukan penjaga perdamaian PBB yang ditempatkan di Lebanon selatan, wilayah yang berulang kali mengalami konflik antara pasukan Israel dan kelompok bersenjata. UNIFIL, yang didirikan untuk memantau gencatan senjata di sepanjang Jalur Biru, beranggotakan kontingen dari berbagai negara, termasuk Indonesia, dan memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas di sepanjang perbatasan.
Pada 6 Maret, angkatan bersenjata Ghana mengatakan markas besar batalion penjaga perdamaian PBB di Lebanon terkena serangan rudal, menyebabkan dua tentara terluka parah. Militer Israel kemudian mengakui bahwa tembakan tanknya telah mengenai posisi PBB di Lebanon selatan pada hari itu, melukai pasukan penjaga perdamaian Ghana.
“Sekali lagi, kami menyerukan kepada semua pihak untuk menjunjung kewajiban mereka berdasarkan hukum internasional dan memastikan keselamatan dan keamanan personel dan properti PBB setiap saat, termasuk dengan menahan diri dari tindakan yang dapat membahayakan pasukan penjaga perdamaian,” kata UNIFIL.
Dari sekitar 20 insiden penembakan sejauh ini yang tercatat sejak 28 Februari, juru bicara UNIFIL Kandice Ardiel mengatakan kepada ABC News bahwa penghitungan awal menemukan bahwa sekitar 60 persen tidak diketahui asal usulnya, 25 persen disebabkan oleh IDF dan 15 persen disebabkan oleh aktor non-negara di pihak Lebanon – yang “kemungkinan besar” adalah Hizbullah.
Empat pasukan penjaga perdamaian UNIFIL sejauh ini terluka dalam dua insiden terpisah, kata Ardiel. Tiga di antaranya luka ringan dan satu luka parah. Penjaga perdamaian yang menderita luka parah kini dalam kondisi stabil, katanya.
UNIFIL belum menetapkan tanggung jawab atas kejadian yang menimbulkan korban jiwa tersebut, tambah Ardiel. Namun, IDF telah mengakui tanggung jawab atas satu insiden, ketika mereka mengatakan bahwa pada tanggal 6 Maret sebuah tank Israel secara keliru menembaki posisi UNIFIL, sehingga melukai pasukan penjaga perdamaian Ghana.
Hizbullah tidak diketahui mengaku bertanggung jawab atas serangan baru-baru ini terhadap pasukan UNIFIL.
Ardiel memuji tindakan pengamanan UNIFIL atas relatif rendahnya jumlah korban hingga saat ini. Bahkan markas besar pasukan di kota pesisir Naqoura, katanya, “telah terkena peluru, pecahan peluru, pecahan proyektil yang dicegat.”
Pada hari Senin, markas besar tersebut juga dihantam oleh "sebuah roket yang ditembakkan oleh aktor non-negara -- kemungkinan besar Hizbullah," kata Ardiel.
UNIFIL pertama kali dikerahkan ke Lebanon pada tahun 1978, bertugas memantau gencatan senjata yang mengakhiri serangan Israel ke bagian selatan negara tersebut.
Sejak tahun 2006, UNIFIL ditugaskan untuk memantau penghentian permusuhan lintas batas setelah konflik besar antara IDF dan Hizbullah dan mendukung rencana – namun pada akhirnya tidak terealisasi – penarikan Hizbullah dari wilayah tersebut dan penempatan kembali militer Lebanon sebagai gantinya. Rencana itu ditetapkan dalam resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1701.
Ini bukan pertama kalinya pasukan Indonesia di Lebanon terkena serangan. Kejadian serupa pernah juga terjadi pada 2024 lalu, di tengah gencarnya upaya Hizbullah menekan Israel menghentikan genosida di Gaza.
Dua prajurit TNI kala itu menjadi sasaran tembak militer Israel saat berjaga di Naqoura, Lebanon, Kamis, 10 Oktober 2024. Pusat Penerangan TNI, melansir, kedua prajurit itu adalah Pratu Marinir Eggy Arifiyanto dan Praka Nofrian Syah Putra.
Meski dalam pernyataan resminya, UNIFIL tidak menyebutkan negara asal dua prajuritnya yang menjadi sasaran tembak Israel. UNIFIL menyebut luka akibat serangan itu tidak serius, dan dua prajuritnya yang terluka itu masih di rumah sakit untuk menjalani perawatan.
“Dua prajurit pasukan perdamaian terluka setelah tank Merkava IDF menembak ke arah menara pengamatan di Markas UNIFIL di Naqoura. Serangan itu menargetkan menara pengamatan dan mengakibatkan dua prajurit itu jatuh. Luka-luka yang mereka terima kali ini tidak fatal, tetapi mereka saat ini masih dirawat di RS,” demikian siaran resmi UNIFIL.
Prajurit TNI yang bertugas sebagai pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL) mengungkap detik-detik serangan Israel di markas UNIFIL. Lebih dari 1.000 prajurit TNI saat ini tersebar di beberapa daerah di Lebanon untuk melaksanakan misi perdamaian bersama UNIFIL.
Mereka bertugas di berbagai satuan UNIFIL, di antaranya Maritime Task Force (MTF), Satgas Batalyon Mekanis TNI (INDOBATT), Satgas Pendukung Markas/Force Headquarter Support Unit (FHQSU), Satgas Indo Force Protection Company (FPC), Satgas Koordinasi Sipil-Militer/Civilian Military Coordination (CIMIC) TNI, Satgas Military Community Outreach Unit (MCOU), dan Satgas Level 2 Hospital.
Sebagian besar prajurit TNI yang tergabung dalam UNIFIL beroperasi di darat, sedangkan Satgas MTF menjalankan tugasnya di lautan.
Sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah mengumumkan perluasan invasinya ke Lebanon selatan, dengan mengatakan bahwa ia telah menginstruksikan militer untuk memperluas apa yang disebut “zona penyangga” dan berjanji untuk mengubah situasi keamanan di sana secara mendasar.
"Saya baru saja menginstruksikan untuk lebih memperluas zona penyangga keamanan yang ada. Kami bertekad untuk mengubah situasi di utara secara mendasar," kata Netanyahu dalam pernyataan video dari Komando Utara.
Penjahat perang buronan Mahkamah Pidana Internasional itu mengatakan keputusan tersebut bertujuan untuk memperkuat postur keamanan Israel di sepanjang perbatasan utara selama ketegangan yang sedang berlangsung di sepanjang perbatasan utara Israel, di mana perang lintas batas telah menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi regional yang lebih luas.
Sejak akhir Maret 2026, serangan udara dan pemboman Israel di Lebanon telah menewaskan lebih dari 1.100 hingga 1.200 orang, termasuk sedikitnya 121 anak-anak, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon dan laporan lainnya. Agresi Israel yang semakin intensif telah menyebabkan lebih dari 1,2 juta orang mengungsi, dan lebih dari 3.400 orang terluka.
Situasi ini digambarkan oleh para ahli PBB sebagai potensi “bencana kemanusiaan”, dengan lebih dari 1,2 juta orang mengungsi. Serangan telah melanda wilayah yang luas, termasuk di Lebanon selatan, di mana banyak keluarga terbunuh dalam serangan tersebut.(sumber : republika.co.id)
