Padang, Analisakini.id-Di antara deretan panglima yang berjuang di bawah bayang kepemimpinan Khalid bin Walid, ada satu sosok dari kaum Anshar yang dikenal bukan hanya karena keberaniannya, tetapi juga ketegasannya dalam menegakkan kebenaran: Ubadah ibn al-Samit.
Tubuhnya tegap. Sorot matanya tajam. Namun yang paling menonjol darinya adalah prinsip yang tak bisa dibeli oleh jabatan atau ditundukkan oleh ancaman.
Saat pasukan Muslim bergerak di wilayah Syam, menghadapi benteng-benteng Romawi yang kokoh, Ubadah memimpin salah satu detasemen penting. Ia bukan sekadar prajurit penyerang. Ia adalah penjaga moral pasukan.
Di medan perang, ia berdiri sejajar dengan para komandan lain, menyusun barisan dan memastikan pasukannya tidak terpecah oleh tekanan musuh. Ketika bentrokan dimulai, ia maju tanpa ragu.
Perisai bertemu tombak. Baja beradu dengan baja.
Ubadah memimpin langsung dari depan. Serangannya terukur, tidak membabi buta. Ia memahami bahwa kemenangan bukan hanya soal keberanian, tetapi juga disiplin.
Dalam satu pengepungan kota penting di Syam, pasukan Romawi bertahan mati-matian di balik tembok tinggi. Negosiasi sempat dibuka. Para utusan Romawi mencoba menggoyahkan pasukan dengan tawaran harta dan jabatan.
Ubadah berdiri sebagai wakil kaum Muslimin.
Dengan suara tegas ia berkata bahwa mereka tidak datang untuk menindas atau memperkaya diri, melainkan untuk menyampaikan risalah dan menawarkan pilihan: damai dengan keadilan, atau perang dengan konsekuensi.
Ketegasannya membuat lawan terdiam.
Ia tidak terpancing emosi, tidak pula tergoda oleh kemewahan istana. Prinsipnya jelas: keadilan lebih tinggi dari kepentingan pribadi.
Ketika pertempuran tak terelakkan, Ubadah memimpin pasukan Anshar dalam satu serangan terkoordinasi. Ia menjaga agar barisan tetap rapat. Ketika ada yang gugur, ia mengangkat semangat yang lain.
Di tengah panasnya pertempuran, suaranya terdengar mengingatkan pasukan untuk tetap menjaga adab dan tidak melampaui batas.
Akhirnya, benteng itu jatuh.
Namun setelah kemenangan diraih, Ubadah tidak berubah menjadi penguasa yang keras. Ia justru memastikan perjanjian ditegakkan. Penduduk yang tunduk dilindungi. Harta tidak dirampas sembarangan. Gereja dan tempat ibadah tetap dijaga.
Keberanian Ubadah bukan hanya terlihat saat pedang terhunus, tetapi juga ketika ia berani menegur jika ada penyimpangan, bahkan kepada pejabat sekalipun. Itulah sebabnya ia dihormati—bukan hanya sebagai panglima perang, tetapi sebagai penjaga nilai.
Di bawah komando Khalid, banyak yang dikenal karena strategi dan kecepatan serangan. Namun Ubadah dikenal sebagai tiang moral yang memastikan kemenangan tidak menghilangkan keadilan.
Di medan Syam yang berdebu dan bergelora, ia berdiri sebagai Singa Anshar—
gagah dalam perang, tegas dalam prinsip, dan adil dalam kemenangan. (sumber FB kisah ulama dan sejarah nusantara)
Bagikan