Padang, Analisakini.id-
Di antara deretan sahabat Nabi ﷺ, ada satu nama yang kisahnya begitu dramatis. Ia pernah berdiri di barisan paling depan memusuhi Islam… namun takdir Allah membalikkan hatinya hingga ia menjadi pembela agama yang kokoh. Dialah Suhail bin Amr RA.
Suhail bin Amr adalah seorang bangsawan Quraisy yang terkenal fasih berbicara. Lisannya tajam, retorikanya kuat, dan pengaruhnya besar di tengah masyarakat Makkah. Saat Islam mulai menyebar, Suhail termasuk tokoh yang keras menentangnya. Bahkan dalam beberapa peristiwa penting, ia berdiri sebagai negosiator Quraisy untuk menghadang dakwah Rasulullah ﷺ.
Salah satu momen paling bersejarah adalah ketika terjadi perjanjian damai antara kaum Muslimin dan Quraisy di **Hudaibiyah**. Dalam peristiwa yang dikenal sebagai **Perjanjian Hudaibiyah**, Suhail bin Amr ditunjuk sebagai juru runding dari pihak Quraisy. Dialah yang meminta agar kalimat “Bismillahirrahmanirrahim” diganti menjadi “Bismika Allahumma” dan “Muhammad Rasulullah” ditulis hanya “Muhammad bin Abdullah.”
Bagi para sahabat, itu terasa menyakitkan. Namun Rasulullah ﷺ menerima syarat itu demi maslahat yang lebih besar. Ironisnya, perjanjian yang tampak merugikan itu justru menjadi pintu kemenangan Islam.
Tak lama setelah Fathu Makkah, hati Suhail akhirnya luluh. Ia melihat langsung kemuliaan akhlak Rasulullah ﷺ yang tidak membalas dendam, padahal dahulu Quraisy begitu keras memusuhi beliau. Saat itulah hidayah menyentuh jiwanya. Suhail bin Amr masuk Islam dengan penuh kesadaran dan ketulusan.
Dan sejak itu, lisannya yang dahulu digunakan untuk menentang Islam berubah menjadi senjata dakwah yang tajam membela agama Allah.
Ketika Rasulullah ﷺ wafat, sebagian orang di Makkah mulai goyah. Suhail bin Amr berdiri di hadapan mereka dan berpidato dengan suara lantang, mengingatkan bahwa Islam tidak bergantung pada hidup atau wafatnya seorang manusia. Pidatonya menenangkan banyak hati dan menguatkan kaum Muslimin agar tetap teguh.
Ia juga ikut berjihad di medan perang setelah masuk Islam. Bahkan dalam perang melawan Romawi, Suhail menunjukkan kesungguhan imannya hingga akhir hayatnya.
Betapa luar biasanya perubahan seorang manusia… dari penentang kebenaran menjadi pembela yang setia.
Kisah Suhail bin Amr RA mengajarkan kita bahwa hidayah adalah milik Allah. Jangan pernah meremehkan seseorang yang hari ini jauh dari agama. Bisa jadi esok ia justru menjadi pejuang Islam yang lebih kuat daripada kita.
Selama nafas masih ada, pintu taubat selalu terbuka. Dan selama hati belum dikunci, cahaya iman masih bisa masuk.
Semoga Allah meneguhkan hati kita sebagaimana Dia meneguhkan hati Suhail bin Amr RA. (sumber FB kisah ulama dan sejarah nusantara)
Bagikan