arrow_upward

Kisah Inspiratif : Jamuan Abu Thalhah yang Menggetarkan Langit

Sabtu, 21 Februari 2026 : 13.19

Padang, Analisakini.id-Malam di Madinah turun pelan-pelan, menyisakan hawa dingin yang menggigit. 
Di rumah-rumah para sahabat, lampu minyak mulai dinyalakan, menebar cahaya kuning yang lembut. Pada masa itu, hidup kaum muslimin belumlah mudah. Harta sedikit, makanan pas-pasan, dan hari-hari penuh perjuangan.

Di antara kilau lampu-lampu itu, rumah Rasulullah berdiri tenang. Tiba-tiba, tirai pintu bergerak. Seorang lelaki asing, wajahnya pucat karena lapar, langkahnya limbung seolah setiap hembusan angin dapat merobohkannya.

Dengan suara lemah ia berkata, 
"Ya Rasulullah... aku lapar." 
Rasulullah memandangnya dengan penuh kasih. Kondisi kaum muslimin kala itu sangat sempit, bahkan di rumah beliau sendiri tak ada yang bisa dimakan malam itu.

Beliau memanggil para sahabat: "Siapa di antara kalian yang mau menjamu tamu ini? Semoga Allah merahmatinya." 
Suasana seketika hening. Para sahabat saling pandang, menyadari keterbatasan masing-masing. Lalu seseorang berdiri-mantap, tanpa ragu.

Abu Thalhah al-Anshari. 
"Aku, wahai Rasulullah." katanya. la segera membawa sang tamu ke rumahnya. Di ambang pintu, istrinya-Ummu Sulaim-menyambut dengan senyum lelah. Abu Thalhah berbisik,
"Kita mendapat tamu dari Rasulullah." 
Ummu Sulaim menunduk. la tahu makanan yang mereka miliki hanya sedikit-makanan untuk anak-anak mereka sendiri malam itu. Namun mata Abu Thalhah menyiratkan sesuatu: Inilah kesempatan berbagi, kesempatan mencintai Allah lebih dari dunia.

Istrinya membalas pandangan itu dengan keyakinan yang sama.

Dengan suara lembut, ia berkata, "Kita akan memuliakannya. Kita akan lakukan sebisanya."

Anak-anak mereka dipanggil, dibelai, dan ditidurkan lebih awal agar tak meminta makan. Di dapur sederhana, Ummu Sulaim menyiapkan roti yang tersisa. Hanya secuil, tapi itulah semuanya.

Abu Thalhah lalu berbisik: 
"Matikan lampu nanti... seakan-akan kita ikut makan bersamanya."

Ketika hidangan sederhana itu disajikan, lampu pelita mulai meredup. Ummu Sulaim berpura-pura memperbaikinya-padahal ia benar-benar memadamkannya. Ruangan tenggelam dalam gelap. "Asyikkan tanganmu seolah kau makan," bisik Abu Thalhah pada istrinya.

Dalam gelap itu, tamu itu makan dengan lahap, tanpa menyadari bahwa kedua tuan rumahnya hanya menggerakkan tangan... tanpa menyentuh sedikit pun makanan. Perut mereka tetap kosong. Tapi hati mereka penuh.

Keesokan paginya, Abu Thalhah pergi menemui Rasulullah. Begitu melihatnya, wajah mulia itu tersenyum -sebuah senyum yang membuat Abu Thalhah tersentak.

Rasulullah berkata dengan penuh takjub,

"Allah tertawa (senang) melihat perbuatan kalian berdua terhadap tamu kalian tadi malam."

Lalu turunlah ayat yang akan dikenang hingga hari kiamat:

"Dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka, sekalipun mereka sendiri dalam kesusahan." (QS. Al-Hasyr: 9)

Malam itu, di sebuah rumah kecil di Madinah, sepasang suami istri mengalahkan rasa lapar mereka demi memuliakan seorang tamu. Tindakan yang terlihat kecil di bumi-tapi bergema hingga ke langit. (Sumber : FB Kisah ulama dan sejarah nusantara)
Bagikan

Terbaru

Copyright © Analisakini.id | Jernih Melihat - All Rights Reserved