arrow_upward

Hendrajoni ke PSI, Lisda Digoyang?

Senin, 02 Februari 2026 : 09.20
Effendi

Empat hari belakangan, perpolitikan Sumbar buncah. Ini lantaran mundurnya Taufiqur Rahman, anak Gubernur Mahyeldi dari Ketua DPW Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Sumbar. Untuk sementara, Plt. Ketua PSI Sumbar dipegang salah seorang pengurus DPP, Raihan Pratama. Mantan Ketum DPP HMI adalah urang awak.

Kian hangat setelah mantan Ketua NasDem Sumbar Hendrajoni yang kini menjadi Bupati Pesisir Selatan pindah pula ke PSI. Jaket PSI langsung dipasangkan oleh Ketum DPP PSI Kaesang Pangarep kepada Hendrajoni saat Rakernas PSI di Makasar, Sulawesi Selatan, 29-31 Januari 2026.

Pindahnya Hendrajoni ke PSI, sebetulnya lumrah. Dalam politik itu hal biasa. Contohnya di pusat, Saan Mustopa, mantan anggota DPR dari Partai Demokrat, sekarang menjadi wakil Ketua DPR RI dari Partai NasDem. Dan banyak lagi. Bahkan ada pasangan suami istri sama-sama lolos menjadi wakil rakyat dari parpol beda.

Dari data yang didapat pasutri dimaksud adalah Agung Nugroho dan Sulastri. Keduanya lolos menjadi anggota DPRD Provinsi Riau periode 2019-2024. Agung Nugroho maju dari Partai Demokrat dan sang istri Sulastri maju dari Partai Golkar. Jadi pasutri ini terpilih sepertinya lebih dominan dari rekam jejak dan sosok mereka.

Nah, kembali kepada pindahnya Hendrajoni ke PSI, sementara publik tahu, istri Hendrajoni yaitu Lisda Hendrajoni adalah kader NasDem yang sejak 2019 sampai sekarang adalah anggota DPR RI. Perpindahan Hendrajoni dari NasDem ke PSI ini digoreng oleh pihak-pihak tertentu. Dan Lisda Hendrajoni pun dengar kabar, digoyang.

Ada pihak yang berpendapat, dengan pindahnya sang Bupati Pessel dari NasDem ke PSI akan berpengaruh besar terhadap sang istri saat hadapi Pileg 2029 nanti. Tapi ada pula yang menilai, pengaruhnya hanya sedikit. Lisda tetap akan menjadi lumbung suara Partai NasDem. Lisda tetap dicintai rakyat. Peduli dan perjuangan untuk daerah dan masyarakat terukur. Wajar-wajar saja.

Lisda digoyang, karena dihembus oleh pihak internal yang tentu ada kepentingan. Bahkan disebut-sebut pula kehadiran Hendrajoni dalam Rakernas PSI di Makasar itu, Lisda sebagai istri tahu. Padahal, tidak sama sekali. Dia sendiri terkejut, suaminya tiba-tiba viral lantaran bergabung dengan PSI.

Sebagai anggota DPR, Lisda sibuk melaksanakan tugasnya baik di Senayan,  kunjungan lapangan dan reses. Dan sang suami sebagai kepala daerah tentu sibuk pula urus daerah dan rakyat. Bertemu suami saat reses atau kunker ke Sumbar. Atau saat sang suami dinas di Jakarta.

Dan Lisda digoyang ini, kabarnya kian kencang, lantaran diasumsikan dengan kepindahan Hendrajoni, raihan suara Lisda anjlok dan ini berdampak pula kepada raihan suara NasDem, akan turun. Benarkah demikian? Saya tidak bisa memvonis benar atau tidak, tapi perlu dilihat rekam jejak sang srikandi NasDem tersebut.

Saat Pileg 2024 lalu, Lisda Hendrajoni sukses mempertahankan kursi DPR yang dia raih pada Pileg 2019. Tak hanya itu, di Dapil Sumbar I ini, satu-satunya parpol yang sukses antarkan kader dua orang. Manoncik Gerindra dan PAN yang pada Pileg 2019, masing-masing dapat dua kursi, pada Pileg 2024, hanya satu kursi.

Lisda sendiri mendapat 94.553 suara dan caleg NasDem kedua yang lolos adalah Shadiq Pasadigue yang meraih 50.458 suara. Jujur, majunya Shadiq lewat NasDem (pada Pileg 2019 maju lewat PAN), ada pihak menilai akan merontokkan suara Lisda. Popularis Shadiq jauh di atas Lisda. Shadiq, mantan Bupati Tanah Datar dua periode, mantan pejabat Pemprov Sumbar dan mantan aktivis KNPI Sumbar. Boleh dikata, Shadiq berurat berakarlah.

Sedangkan Lisda saat maju kembali pada Pileg 2024, hanya sebagai petahana saja. Sang suami Hendrajoni, orang biasa. Yang kalah pada Pilkada 2020. Orang kalah tentu, tak punya kekuatan. Lagi pula, Lisda bukanlah orang Pesisir Selatan, hanya menantu orang Pesisir Selatan.

Hal ini diperkuat dengan dalil, Lisda bisa lolos pada Pileg 2019, tidak terlepas dari peran sang suami yang saat itu menjabat Bupati Pesisir Selatan. Saat itu, Lisda sukses meraup 37.326 suara. Nah, maju pada Pileg 2024, yang saat itu sang suami tak menjabat, tentu Lisda tidak punya kekuatan. Lagi pula, caleg-caleg NasDem untuk Dapil Sumbar I itu, hebat-hebat dan lakon semua. 

Tapi hasil tak bisa mendustai usaha. Lisda sukses pertahankan kursi DPR. Didampingi oleh suami yang menjabat Bupati, Lisda meraih 37.326 suara. Sedang didampingi oleh suami yang tidak menjabat Bupati, Lisda jutru mendulang lebih banyak, 94.553 suara. Ini bukti Lisda sukses, karena sosoknya, karena kinerjanya, karena rekam jejaknya.

Ya, Lisda hanya berbuat dan mengabdi. Sadar dia bukan anak negeri tanah Minang, hanya seorang menantu. Tapi dia harus menunjukkan seorang menantu yang peduli. Menantu bagaikan bundo kanduang. Bundo kanduang yang tak tega melihat anak-anaknya menderita. Tak tega melihat orang kampungnya teraniaya.

Jangan heran dan terkejut, tatkala Lisda hadir di tengah rakyat di pelosok negeri yang aksesnya sulit dijangkau. Dia hadir bagaikan seorang bundo kanduang memberikan dan menyalurkan bantuan. Saat menjadi anggota Komisi VIII DPR yang bermitra dengan Kementerian Sosial, Kementerian Agama, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta BNPB, banyak bantuan yang disebar ke pelosok.

Tentu tak hanya di Pesisir Selatan saja tapi juga Kota Padang dan kabupaten/kota lain di Dapil Sumbar I. Lisda gigih berjuang di Senayan untuk memenuhi harapan dan kebutuhan rakyat. Diantar sampai-sampai. Tak sekadar bantuan tiba, tapi Lisda juga mendekat. Menampung curhat rakyat bak bundo kanduang mendengar keluhan sang anak. Tak dibuat-dibuat. Mengalir saja.

Tak sekali dua kali, Lisda melakukannya. Tapi sering. Dan itu bagi Lisda adalah amanah yang wajib diamalkan. Apalagi tipikalnya yang suka menolong. Merakyat dan berbaur dengan semua kalangan. Hobi kunjungi daerah pelosok. 

Wanita cantik ini dikenal sebagai perempuan cerdas dan multitalenta. Kepeduliannya yang tinggi terhadap kaum papa terlihat dari berbagai aktivitas sosial yang dilakoninya dengan memberikan santunan, bantuan fasilitas serta akses ekonomi, kesehatan dan pendidikan.

Lisda juga menggagas Gerakan Dunsanak Membantu Dunsanak (DMD). Gerakan DMD dimaksudkan untuk menumbuhkembangkan semangat kekeluargaan dan kepedulian terhadap sesama. Masyarakat yang mampu secara ekonomi membantu yang lemah.

Singkat kata, Lisda adalah aset berharga. Pendulang suara bagi Partai NasDem. Sebab ikatan batinnya dengan masyarakat Pessel dan di Dapil Sumbar I, umumnya, sudah terikat kuat. (*)

Bagikan

Terbaru

Copyright © Analisakini.id | Jernih Melihat - All Rights Reserved