PADANG,
ANALISAKINI.ID--'Pak Evi. Pak Evi,' sapa warga Batu Busuak, Kota Padang, melihat
kedatangan Wakil Ketua DPRD Sumbar ke daerah setempat, baru-baru ini. Dengan
sigap, mereka langsung menyalaminya.
Ya, sudah sebulan lebih, putra asli Kuranji Kota Padang, Evi
Yandri Rajo Budiman selalu hilir mudik ke lokasi Batu Busuk dan Gunung Nago
serta Lubuk Minturun yang dihondoh amukan air berwarna coklat dari bukit,
Kamis, 27 November lalu.
Entah itu pagi, siang ataupun malam. Ia dengan senang hati
melihat, memantau, meninjau hingga membantu masyarakat penyintas bencana banjir
dan galodo. Mendengarkan, menerima, masukan hingga memberikan solusi yang
dengan jabatan diamanahkan kepadanya.
Bagi mereka, Evi adalah penyejuk di tengah padang pasir. Pelipur
lara, ia sosok yang mampu mengayomi. Bersedia menerima rengek-an warga yang
dilanda cobaan hidup, musibah kehilangan rumah hingga anggota keluarganya.
Dukungan moril dan materiil pun digelontorkan tanpa pamrih. Tujuannya
meringankan beban saudara yang tertimpa musibah. Semua itu dilakoninya, dengan
senang hati.
"Pak Evi adalah sosok wakil rakyat yang merakyat. Tak peduli
pagi, siang hingga malam pun bisa diganggu. Bahkan membantu warga, uang pribadinya
pun di gelontorkan," ucap Dasrul, Warga Batu Busuak.
Ya, sosok Evi Yandri bukanlah orang baru dalam dunia perpolitikan
di ranah Minang ini. Tercatat sebagai kader Partai Gerindra, ia berhasil
merebut hati masyarakat dan melenggang maju sebagai perwakilan mereka di DPRD
Sumbar pada 2019.
Di awal karirnya sebagai anggota legislatif, Evi Yandri mampu
menyelesaikan amanah lima tahun dari masyarakat tersebut. Pada pemilihan
legislatif 2024, ia pun kembali maju dan dipercayai lagi mewakili mereka ke
gedung dewan, di Jalan Khatib Sulaiman. Tak tanggung-tanggung, Evi Yandri pun
ditunjuk sebagai Wakil Ketua DPRD Sumbar hingga lima tahun ke depan.
Dan, sekarang partai pun mengamanahkan jabatan Sekretaris DPD
Gerindra Sumbar kepada putra asli Minang yang pernah bekerja di Jepang selama
tiga tahun itu.
Tak heran, sikap disiplinnya sudah terbentuk ketika ia ditepa
sebagai pekerja di salah satu perusahaan otomotif di Negeri Sakura itu.
"Intinya saya bekerja dari hati, melayani dan mengayomi
masyarakat dengan sepenuh jiwa dan raga," ucap Evi Yandri ketika ditanya
tentang tips menjaga kesehatan, di tengah kesibukannya ke lokasi bencana.
Bahkan, sebagai inisiator pembangunan hunian sementara (huntara) mandiri di
Pauh, tak jarang Evi Yandri menghabiskan hari-harinya di lokasi bencana.
"Selama pembangunan huntara ini, saya berkantor di sini,
Pauh," ucap Evi Yandri yang setiap hari memantau proses pembangunan 100
unit huntara untuk penyintas bencana banjir dan galodo di Pauh.
Ia pun agak sedih, karena proses pembangunan agak telat sedikit,
karena kekurangan tukang. Tapi itu tak mematahkan semangatnya.
"Insya Allah segera selesai dan ditempati saudara kita yang
rumahnya hanyut dihondoh banjir bandang," ucap Evi Yandri.
Tak hanya itu, ia pun dengan sigap melihat kondisi pengerokan
bebatuan di Sungai Batu Busuak. "Ke depannya, sungai ini akan dibuatkan
DAM-nya, agar air sungai tidak melebar. Jika proyek pembangunan ini jalan,
diharapkan kerjasama warganya dalam menyukseskannya," ucap Evi Yandri yang
selalu bersedia di ganggu jam berapa pun oleh warganya.
Dan, ketika meninggalkan lokasi batu busuak dengan 'kuda besinya'
malam itu, Senin (29/12), Evi Yandri melihat ke luar kondisi sungai yang airnya
melebar. Entah apa yang dipikirkannya, yang jelas ia bekerja dan melayani
dengan hati suci, sehingga diberikan kekuatan untuk membantu mereka yang
membutuhkan pertolongannya. (rel/lg/n)
