Baru ada 1 Gedung
shelter di Pasbar, tepatnya di Nagari Maligi. Itu pun dengan kapasitas masih
sangat terbatas. (fat)
PASBAR, ANALISAKINI.ID--Enam dari tujuh nagari di wilayah pesisir Kabupaten
Pasaman Barat (Pasbar) mendesak segera dibangun shelter dan jalur evakuasi
bencana. Hingga kini, Pasbar hanya memiliki satu shelter di Nagari Maligi
dengan kapasitas yang sangat terbatas.
Terkait ini, Badan Penanggulangan
Bencana Daerah (BPBD) Pasbar pun berencana berkoordinasi dengan pemerintah
pusat, karena pembangunan shelter dinilai membutuhkan anggaran besar.
Kepala BPBD Pasbar, Jhon Edwar, Selasa
(11/11/2025), mengatakan, pembangunan shelter dan jalur evakuasi di daerah
pesisir sudah menjadi kebutuhan mendesak. Dari total tujuh nagari yang berada
di kawasan pantai, baru satu yang memiliki tempat perlindungan darurat jika
terjadi bencana tsunami. Artinya, butuh enam shelter lagi.
Menurutnya, kehadiran shelter dan jalur
evakuasi sangat penting mengingat wilayah Pasbar memiliki potensi tinggi
terhadap gempa bumi dan tsunami akibat aktivitas megathrust Mentawai. Kondisi
ini menimbulkan kekhawatiran besar, terutama bagi sekitar 80.000 jiwa penduduk
yang tinggal di kawasan rawan tersebut.
“Risiko bencana di daerah pesisir
Pasaman Barat cukup tinggi. Karena itu, keberadaan shelter dan jalur evakuasi
harus segera diwujudkan untuk melindungi masyarakat,” ujar Jhon Edwar.
BPBD Pasbar, lanjutnya, telah berulang
kali mengusulkan pembangunan shelter tambahan kepada pemerintah pusat. Estimasi
biaya yang dibutuhkan mencapai Rp5 miliar untuk satu unit shelter dan sekitar
Rp2 miliar untuk membangun jalur evakuasi yang aman dan layak.
Sebagai daerah yang berbatasan langsung
dengan Samudra Hindia, Pasaman Barat memang memiliki tingkat kerentanan bencana
yang tinggi. Tak hanya ancaman tsunami, cuaca ekstrem juga sering mengancam
keselamatan nelayan dan masyarakat yang beraktivitas di laut.
Pemerintah daerah pun telah melakukan
pemetaan potensi bencana serta menentukan jalur evakuasi di sejumlah titik
rawan. Upaya ini diharapkan dapat meminimalkan dampak bencana dan mempercepat
proses penyelamatan warga jika terjadi kondisi darurat.
Namun, keterbatasan fasilitas masih
menjadi persoalan utama. Shelter yang ada di Nagari Maligi pun dinilai belum
memadai karena hanya berada di satu lokasi dan sulit dijangkau oleh masyarakat
yang tinggal jauh dari titik tersebut.
“Kapasitas shelter di Maligi sangat
terbatas, sementara jumlah penduduk di pesisir cukup besar. Diperlukan
penambahan shelter di beberapa titik strategis agar seluruh warga memiliki
akses perlindungan yang sama," ulasnya. (arafat)
