arrow_upward

Barikade 98 Sumbar Desak Polri Proses Hukum Penganiaya Ade Armando

Rabu, 13 April 2022 : 15.24

 

Ketua Barikade 98 Provinsi Sumbar, Musril bersama Sekretaris, Dibya Prayassita Somya Rosa dan Pengurus Barikade 98 Provinsi Sumbar.

Padang, Analisakini.id-Kerusuhan dan tindak kekerasan terhadap Dosen Universitas Indonesia (UI) Ade Armando saat aksi demonstrasi mahasiswa di depan Gedung DPR di Jakarta, Senin (11/4/2022) mendapat perhatian Barisan Rakyat Kawal Demokrasi(Barikade) 98 Provinsi Sumatera Barat (Sumbar).

Ketua Barikade 98 Provinsi Sumbar, Musril mendesak Polri agar menangkap dan memproses hukum pelaku kerusuhan dan tindak kekerasan terhadap Dosen FISIP UI tersebut.

“Kami mengutuk keras perlakuan biadab terhadap Ade Armando. Perlakuan ini jelas menunjukan betapa kebiadaban telah menjadi pertunjukan yang memuakkan,” tegas Musril yang didampingi Sekretaris Barikade 98 Sumbar, Dibya Prayassita Somya Rosa, Rabu (13/4/2022) di Padang. 

Musril menilai tindak kekerasan dan penganiayaan terhadap Ade Armando ini bukan insiden biasa. Tapi ini adalah sejenis ancaman bagi siapa saja yang berusaha merawat akal sehat di Indonesia. 

“Kita berharap pihak aparat secepatnya menangkap pelaku penganiayaan terhadap Ade Armando. Semoga Allah SWT melindungi bangsa ini dari semua pihak yang mau merusaknya,” tegasnya.

Sementara, Sekjen Pergerakan Indonesia untuk Semua (PIS), Nong Darol Mahmada melalui siaran pers mengungkapkan, kronologi penyerangan, pengeroyokan dan pemukulan terhadap Ade Armando berawal, saat Ade Armando didampingi dua orang cameramen (Indra Jaya Putra dan Bambang T) dan dua penulis (Belmondo Scorpio dan Rama) melakukan peliputan aksi demo di Gedung DPR. 

Ade Armando dan tim datang melakukan peliputan atas nama Pergerakan Indonesia untuk Semua (PIS). Tujuannya untuk membuat konten youtube dan media sosial Gerakan PIS.

Pada awalnya tidak ada masalah. Bahkan beberapa media massa mewawancarai Ade Armando. Tim menyepakati untuk menyudahi peliputan. Posisinya saat itu ada di depan pintu gerbang utama DPR.

Kemudian tim mundur dari posisi semula dan menjauh dari massa demontrasi. Saat mundur beberapa orang massa di situ terlihat mengawasi dan saling berbisik diantara mereka. Tiba-tiba saja datang seorang ibu-ibu tidak dikenal sambil memaki-maki. Makian ibu-ibu inilah yang merangsang massa untuk bertindak beringas. Mereka semua mengepung Ade Armando dan tim. 

Ade Armando dan tim kemudian mundur ke dinding pagar DPR. Kemudian didatangi massa yang mendorong-dorong Ade Armando. Kemudian tim liputan bergeser ke sebelah kiri depan Gedung DPR. Mereka hendak meninggalkan lokasi karena sudah tidak kondusif. 

Beberapa saat kemudian dihampiri beberapa orang tidak dikenal, mereka tiba-tiba langsung menyerang. Sebelumnya mereka mengepung Ade dan tim. Sepertinya pengepungan dilakukan untuk menutup penyerangan dari pantauan petugas. 

Anggota tim liputan berusaha melindungi Ade Armando yang terus menerus diserang dan dipukuli tapi tim kemudian terjatuh dan terpental. Karena tidak mungkin bisa menolong, tim yang terpental mencari polisi untuk meminta pertolongan. Polisi kemudian datang dan memberikan pertolongan.

Setelah diamankan dan ditarik ke dalam gedung DPR oleh pihak kepolisian, Ade Armando mendapatkan penanganan dokter polisi pada pukul 16.10 WIB. Kondisinya sadar, bisa berkomunikasi dan menghubungi keluarganya. Karena ada penyekatan massa, Ade Armando baru bisa dievakuasi dan sekitar jam 18.00 WIB sampai ke RS.

Saat ini kondisi Ade Armando masih terus dalam pantauan dokter. Dia menderita luka serius di bagian wajah, kepala dan sekujur badannya. Hasil pemeriksaan dokter menunjukkan ada pendarahan dalam di bagian kepala. 

Ade Armando beberapa kali muntah dengan mengeluarkan darah. Kini tim kedokteran sedang berusaha menangani Ade Armando.(***)

Bagikan

Terbaru

Copyright © 2020 Analisakini.id | Jernih Melihat - All Rights Reserved