arrow_upward

Wagub Audy Joinaldy : UMKM Harus Mampu Kuasai Pasar Digital Melalui Pemanfaatan Teknologi

Selasa, 16 November 2021 : 20.09


Wagub Sumbar Audy Joinaldy pada acara Opening Ceremony "MinangKabau Creative Econommy Festival" di Kantor Perwakilan BI Sumbar, Selasa (16/11). (adpim)

Padang, Analisakini.id-Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) paling diminati dan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi masyarakat Sumatera Barat. Ada sekitar 89 persen perekonomian masyarakat  Barat ber gerak di sektor UMKM.

Namun pada masa pandemi COVID-19 ini, UMKM merupakan salah satu sektor yang sangat terdampak. Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh para pelaku UMKM pada masa pandemi ini adalah menurunnya pelanggan dan permintaan pasar. 

Hal ini disampaikan oleh Wakil Gubernur Sumatera Barat Audy Joinaldy pada acara Opening Ceremony "MinangKabau Creative Econommy Festival" di Kantor Perwakilan BI Sumbar, Selasa (16/11/2021).

Menyikapi sudah lamanya kondisi pandemi ini, salah satu upaya untuk pengembangan kembali sektor UMKM di masa pandemi adalah peningkatan inovasi, kreasi, adaptasi dan keterampilan para pelaku UMKM. Bukan saja dengan berjualan maupun melakukan pembayaran secara online. Tetapi juga menciptakan produk yang kreatif dan berdaya saing sehingga bisnis bisa terus berkesinambungan.

"Tantangan dari pandemi menyadarkan kita bahwa pelaku UMKM harus mampu terlibat dalam pasar digital melalui akselerasi pemanfaatan teknologi digital. Harus cepat bisa membuka diri terhadap informasi yang dapat membantu pengembangan usaha pelaku UMKM itu sendiri," kata Audy. 

Salah satu contohnya baru-baru ini ada beberapa fasilitasi kepada pelaku UMKM dalam menembus pasar global, seperti kreasi nusantara, from local to global, yang memfasilitasi penjualan produk lokal ke Malaysia dan Singapura

"Pelaku UMKM harus dapat memanfaatkan peluang fasilitasi pemasaran ini melalui tekhnologi digital, sehingga pemasaran produk tidak hanya berskala nasional, tapi juga berskala regional dan internasional dengan konsep dari lokal menjadi global," terangnya.

Wagub Audy Joinaldy berharap, untuk mendukung pelaku UMKM mampu menembus pasar global, perlu ditingkatkan kolaborasi Pemerintah daerah dengan seluruh stakeholders terkait, terutama memfasilitasi para pelaku UMKM melalui kegiatan pembinaan peningkatan kemampuan penguasaan teknologi.

"Sehingga nantinya mereka bisa cepat beradaptasi dengan pasar global melalui digital sekaligus meningkatkan kreasi dan kwalitas produk-produk pelaku UMKM," ucapnya.

Audy menjelaskan, pada 2020 jumlah UMKM di Sumbar sebanyak 593.100 unit yang terdiri dari usaha mikro sebanyak 531.350 unit (89.59%), usaha kecil sebanyak 53.431 unit (9.01 %), usaha menengah sebanyak 7.900 unit (1.33 %) dan usaha besar sebanyak 419 unit (0,07 %). 

"Untuk itu, kami atas nama Pemerintah Daerah berharap pelaksanaan kegiatan Minangkabau Creative Economy Festival ini, akan dapat mendorong seluruh stakeholders dan memberikan nilai tambah serta dampak yang lebih besar dalam mendukung kemajuan UMKM dan industry kreatif pendukung pariwisata," tambahnya.

Menteri Koperasi dan UKM RI Teten Masduki secara virtual menjelaskan, digitalisasi koperasi dan UMKM sejalan dengan tantangan era Revolusi lndustri 4.0 yang menuntut seluruh kegiatan ekonomi bergeser dari konvensional menjadi lebih modern. 

"Dikarenakan pandemi COVID-19 UMKM turut tergeser, sehingga kegiatan usaha dan ekonomi berubah dari yang semula offline menjadi online, dan penggunaan teknologi digital yang lebih masif," sebutnya.

Menurut Teten, hingga hari ini sekitar 25,6 persen UMKM hadir pada ekosistem ekonomi digital atau sekitar 16,4 juta pelaku usaha. Ada 245 koperasi telah mengadopsi teknologi digital dalam kegiatan operasionalnya.

"Oleh karena itu, saya berharap melalui kegiatan ini para pemilik usaha di Sumbar bisa memiliki inovasi-inovasi baru dan melahirkan wirausaha muda produktif, koperasi modern berbasis ekonomi digital," harapnya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumbar Wahyu Purnama melaporkan, bahwa Bank Indonesia Sumbar saat ini memiliki 85 wirausaha Bank Indonesia. Dengan rincian 23 industri kreatif syariah, 7 klaster komoditas unggulan, yaitu kopi, padi organik, bawang merah, tenun minang, holtikultura, sulaman naras dan klaster sapi perah.  

"Kita juga memiliki kegiatan Pemberdayaan Ekonomi Pesantren pada 6 pondok pesantren untuk pengembangan usaha air minum, laundry, barbershop, fotokopi, bordir serta fashion syar'i. Alhamdulillah semua berjalan dengan baik," terang Wahyu.(***)

Bagikan

Terbaru

Copyright © 2020 Analisakini.id | Jernih Melihat - All Rights Reserved