arrow_upward

El Niño Sangat Kuat Masih Berdampak, Tetap Waspada Hujan Akibat Fenomena Atmosfer

Sabtu, 19 September 2026 : 13.48


Padang, Analisakini.id-Fenomena El Niño kategori sangat kuat bersamaan dengan musim kemarau menghasilkan kondisi atmosfer Indonesia yang kering, tutupan awan yang minim, hingga meningkatnya suhu permukaan. Sebagian besar wilayah Indonesia bagian selatan mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) kategori ekstrim, lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan, yang meliputi wilayah Sumatra bagian selatan, sebagian besar Jawa, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi bagian utara dan selatan, Maluku, Bali, Nusa Tenggara, dan Papua Selatan.

Kondisi atmosfer kering tersebut meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta meluasnya kabut asap akibat karhutla di berbagai wilayah Indonesia. Berdasarkan pemantauan satelit pada 7-16 September 2026, konsentrasi titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi paling banyak tercatat di Kalimantan Tengah (3177), disusul oleh Sumatera Selatan (1305), Kalimantan Barat (1088), dan Papua Selatan (960).

Meski kondisi kering masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia, hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat masih terjadi secara lokal. Pada periode 14-16 September 2026, hujan lebat masih tercatat di Aceh (138.0 mm/hari), Sumatera Barat (138.0 mm/hari), Kalimantan Utara (83.0 mm/hari), Sumatera Utara (61.0 mm/hari), dan Papua (56.0 mm/hari). Masih adanya hujan di tengah dominasi musim kemarau tersebut dipengaruhi oleh dinamika atmosfer yang masih aktif di beberapa wilayah. Pada 14–16 September 2026, Gelombang Rossby Ekuatorial terpantau aktif di sekitar Sumatra bagian utara dan Kalimantan bagian utara. Selain itu, Gelombang Kelvin juga melewati sebagian besar Sumatra, Kalimantan, Sulawesi bagian utara hingga tengah, dan Papua bagian utara. Kondisi ini turut diperkuat oleh adanya daerah pertemuan dan belokan angin di sejumlah wilayah Indonesia, sehingga meningkatkan pertumbuhan awan hujan di sekitarnya.

Dinamika Atmosfer Sepekan ke Depan

Pada periode Dasarian III September hingga Dasarian II Oktober 2026, curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diprakirakan masih berada pada kategori rendah hingga menengah, yakni sekitar 0–150 mm per dasarian. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasokan uap air untuk mendukung pembentukan awan hujan masih relatif terbatas, salah satunya berkaitan dengan pengaruh El Niño kategori sangat kuat yang cenderung mengurangi suplai kelembapan ke wilayah Indonesia sehingga kondisi kering masih berpotensi berlanjut di sejumlah wilayah. Meskipun begitu, hujan lebih dari 150 mm per dasarian di prediksi terdapat di pesisir barat Aceh dan pesisir barat Sumatera Utara pada Dasarian I dan II Oktober 2026. Hujan diprakirakan masih berpotensi terjadi pada periode 18-24 September 2026 di Sumatra bagian utara hingga tengah, Kalimantan bagian utara hingga tengah, Sulawesi bagian tengah hingga selatan, Papua Pegunungan, dan Papua. Potensi hujan ini dipengaruhi oleh sejumlah dinamika atmosfer seperti Gelombang Rossby Ekuatorial yang diprediksi aktif di Kalimantan Utara dan Kalimantan Barat. Selain itu, Gelombang Kelvin diprediksi aktif di Kalimantan bagian timur, pesisir utara Jawa Timur hingga NTT, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, serta Papua bagian barat dan utara, sehingga memberikan dukungan pembentukan awan hujan.

Tidak hanya gelombang atmosfer, sirkulasi siklonik juga diprediksi terbentuk di Laut Cina Selatan dan menyebabkan adanya daerah perlambatan serta pertemuan angin memanjang di sejumlah wilayah. Didukung dengan labilitas lokal yang kuat, proses pengangkatan massa udara menjadi cukup optimal, sehingga berpotensi meningkatkan potensi hujan di wilayah yang terdampak.

Potensi Hujan Sepekan ke Depan

Periode 18 – 20 September 2026

Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi berawan hingga hujan sedang. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Riau, Kep. Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua.

Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:

Siaga (hujan lebat – sangat lebat): Jawa Barat, Sumatra Utara, dan Sumatera Barat.


Angin Kencang: Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah, Maluku, dan Papua Selatan.


Periode 21 – 24 September 2026

Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi cerah berawan hingga hujan sedang. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kep. Riau, Jambi, Bengkulu, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.

Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:

Siaga (hujan lebat – sangat lebat): Papua Tengah


Angin Kencang: Jawa Barat, Sulawesi Utara, dan Papua Selatan.


Imbauan

Masyarakat diimbau untuk terus mengantisipasi dampak cuaca panas dan kondisi udara yang lebih kering seiring musim kemarau yang masih berlangsung. Penggunaan tabir surya diperlukan guna mengurangi paparan langsung sinar matahari. Masyarakat juga diimbau untuk menjaga kecukupan cairan tubuh terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, agar terhindar dari dehidrasi dan kelelahan.

Seiring menguatnya kondisi kering, masyarakat dan pemerintah daerah diimbau untuk menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan. BMKG meminta masyarakat tidak membakar sampah atau membuka lahan secara sembarangan, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan, serta segera melaporkan jika menemukan indikasi titik api.

Meskipun musim kemarau masih dominan, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang masih berpotensi terjadi secara lokal. Oleh karena itu, masyarakat dan para pemangku kepentingan perlu tetap mewaspadai potensi genangan, longsoran material, dan sambaran petir yang berpotensi mengikuti.

Masyarakat diharapkan terus memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini resmi melalui laman http://www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, dan media sosial @infobmkg, serta melakukan langkah antisipatif untuk mengurangi risiko cuaca ekstrem, kekeringan, dan kebakaran hutan dan lahan. (rl)

Bagikan

Terbaru

Copyright © Analisakini.id | Jernih Melihat - All Rights Reserved